Ya Allah Mudahkanlah untuk Meraihnya…
Oleh : Rofiq Abidin
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (32)
“(yaitu) orang-orang yang
diwafatkan dalam Keadaan baik oleh Para Malaikat dengan mengatakan (kepada
mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan
apa yang telah kamu kerjakan". (QS. An-Nahl: 32).
Akhir yang baik,
merupakan dambaan setiap insan yang beramal dan berikhtiar. Setiap mukmin yang
bermal soleh didunia, tentu akan sangat membahagiakan jika bisa meraih khusnul
khotimah. Sebuah keadaan akhir yang baik, akhir yang penuh dengan kenimatan,
kenyamanan dan ketidakkhawatiran akan perjalanan selanjutnya. Ya, khusnul
khotimah tidak akan didapati manakala tidak istiqomah, apa hubungannya?. Jelas
hubungannya sangatlah erat, seseorang yang di dunia senantiasa berbuat
kebaikan, namun pada ujung hayatnya tidak istiqomah dengan kebaikannya akan
sangat merugi. Kita tidak akan pernah tahu kapan ajal menjemut kita.
Kehadirannya sesuatu yang pasti dan tak dapat disangkal. Apakah kita sudah siap
ataukah justru sedang mengabaikan kehadirannya. Apakah kita sedang taat kepada
Allah ataukah kita sedang maksiat karena mengikuti hawa nafsu belaka. Ia akan
hadir dan pasti hadir. Bekal yang cukup kita menyebutnya untuk menghadapinya,
namun bekal saja tidak bisa jika istiqomah tidak kita dapatkan. Untuk itu
marilah kita mengurangi perilaku yang membuat Allah menjauhkan kita dari meraih
khusnul khotimah.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إذا أراد الله بعبد خيرا
استعمله فقيل كيف يستعمله يا رسول الله ؟ قال يوفقه لعمل صالح قبل الموت
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang
hamba, maka Allah akan mempekerjakannya. Para sahabat bertanya: Bagaimana Allah
akan mempekerjakannya?.Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda: Allah akan memberikan taufik kepadanya
untuk beramal shalih sebelum ia meninggal dunia”. (HR. Ahmad (12036)
dan Thirmidzi (2142) dan dishohihkan oleh Al-Hakim, Dhiya' Al-Maqdisi,
Al-Arna'ut dan Al-Albani).
Demikianlah jika
Allah menghendaki hambanNya yang dicintaiNya. Pertanyaanya sudah “pede” kah
kita dengan amalan kita?. Amalan apa yang sudah bisa membuat Allah jatuh hati
kepada kita, menghendaki kita, sebagaimana para Nabi, Rasul, Sahabat Nabi yang
dijamin masuh surga, mujahid dan orang-orang sholeh lainnya yang Allah
kehendaki karena keikhlasan hati dan amalannya yang istiqomah. Baiklah, penulis
mencoba untuk sama-sama belajar menempuh keadaan mulia, “khusnul khotimah”. Ya
Allah, mudahkanlah kami dalam meraih khusnul khotimah. Berikut ini diantara
sebuah jalan untuk meraihnya. Berikut ini sebagian
kecil tanda-tanda seseorang mati dalam keadaan husnul khotimah :
1. Ditinjau dari
kata-kata terakhirnya, apabila kata-kata terakhirnya adalah kalimah-kalimah
toyyibah, maka itu tandanya dia mati dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Mu`adz bin Jabal
Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Barang siapa ucapan terakhirnya
: La ilaha illallah, maka dia masuk surga" (HR
Abu Daud & Al-Hakim).
Dari Anas bin Malik Ra,
Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baiknya dzikir adalah La ilaha illallah dan sebaik-baiknya doa adalah Alhamdulillah" (HR At-Turmudzi & Ibnu Majah).
Dari Abi Sa`id Al-Hudri
Ra, Rasulullah Saw bersabda : "Bimbinglah orang mati kalian
untuk mengucapkan La ilaha illallah" (HR Muslim).
Maka dari itu
disunnahkan bagi kita jika seseorang yang sedang menghadapi sakarotul maut
untuk membimbing mengucapkan kalimat toyyibah “la ilaha illallah”. Saat hidup
bisa dengan mudah diucapkan, namun saat mendekati mati, belum tentu. Maka dari
itu marilah kita memohon kepada Allah untuk mendapatkan nikmat itu dan tidak
hanya memoho/berdo’a, tapi diikuti dengan perbuatan yang Allah cintai. Sehingga
rahmat Allah turun saat ajal menjemut kita.
2. Di tinjau dari
aktifitas terakhirnya, apabila seseorang di masa-masa akhir hidupnya beribadah,
baik ibadah mahdho maupun ghoiru mahdho dan dia meninggal dalam
keadaan beribadah atau usai menjalankan ibadah maka itulah tandanya dia mati
dalam keadaan husnul khotimah.
Dari Ali bin Abi Tholib
Ra, Dia berkata : "Suatu
hari saya akan menunaikan sholat subuh di mesjid bersama Rasulullah Saw, tapi
ditengah jalan aku bertemu dengan seseorang yang sudah renta juga mau ke mesjid
untuk menunaikan sholat subuh, aku terus berjalan dibelakangnya, dan ketika
kami berdua sampai di mesjid ternyata sholat berjamaah sudah usai, akhirnya aku
sholat subuh berjamaah dengan kakek itu, dan ketika aku salam tahiyyat akhir si
kakek tetap bersujud dan ternyata si kakek telah meninggal dunia, lalu para
sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, bagaimana keadaan
kakek ini di akherat?" Rasulullah menjawab, "Dia masuk surga" (HR Ahmad & Daruqutni).
3. Di tinjau dari hari
terakhirnya (hari jum`at), begitu banyak orang-orang sholih yang meninggal
dunia pada hari jum`at, karena mati pada hari jum`at adalah tanda kematian
husnul khotimah.
Dari Ibnu umar Ra,
Rasulullah Saw bersabda : "Tiada seorang muslim yang
meninggal pada hari atau malam jum`at, kecuali Allah akan menyelamatkannya dari
siksa kubur" (HR Ahmad & At-Turmudzi).
Dari Abi Hurairah Ra,
Rasulullah Saw bersabda : "Sebaik-baik hari adalah hari
jum`at, karena pada hari jum`at itulah Adam di ciptakan. Pada hari jum`at ia di
masukkan ke surga dan pada hari jum`at ia di keluarkan dari surga. Pada hari
jum`at ia wafat dan tidak akan terjadi kiamat kecuali hari jum`at" (HR As-Syafi`I dan Ahmad).
4. Di tinjau dari
kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan
kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan
nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau
bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll.
Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian
seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai
bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah dan mensholatkan dll.
Dari Abu Darda Ra,
Rasulullah Saw bersabda : "Tidak akan keluar ruhnya
seorang mu`min sampai dia melihat tempatnya di surga, dan tidak akan keluar
ruhnya seorang kafir sampai dia melihat tempatnya di neraka" (HR Al-Baihaqi).
Tetap istiqomah pada
jalan Allah, merupakan kunci untuk meraih tanda-tanda di atas. Karena istiqomah
dengan jalan Allah berarti kita senatiasa sabar mentaati syariatNya, sabar
berada pada sabillillah/jalan Allah dan sabar untuk menjadi hamba
Allah/mengibadatiNya. Semoga Allah senantiasa memudahkan kita menuju khusnul
khotimah, jalan mulia yang telah dilalui oleh para nabi dan para rosul dan
orang-orang soleh yang dikehendakiNya. Kerinduan akan khusnul khotimah akan
selalu ada dalam diri mukmin yang telah sabar dengan menjalankan syariatNya.












0 komentar:
Posting Komentar