Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 10 Februari 2017

Korelasi Hujan dan Hari Kebangkitan

Rofiq Abidin


HUJAN DAN HARI KEBANGKITAN
Oleh : Rofiq Abidin


وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ. وَٱلنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ. رِّزْقاً لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتاً كَذٰلِكَ ٱلْخُرُوجُ
Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (QS. Qaaf : 9-11)
Sungguh sebuah keindahan yang tak terkira, saat jemari menikmati tetesan air air yang turun dari langit, tentu dengan perasaan syukur yang dalam. Berkat kekuasaan Allah, setiap saat milyaran liter air berpindah dari lautan menuju atmosfer lalu kembali lagi menuju daratan. Dan Kehidupan makhluk dibumi pun terus bertumbuh dari siklus air ini, biidznillah.
Seorang Harun Yahya dalam The Signs in The Heavens and the Earth for Men of Understanding, membuktikan kebenaran dan kesesuaian ayat-ayat Al Qur’an yang mejelaskan sains modern. “Andai manusia mencoba mengatur daur di alam semesta ini, maka tak akan berhasil, walaupun mengerahkan semua teknologi yang ada di bumi”. Paparnya.
Bergembira dengan Datangnya Air Hujan
Allah memberikan pengajaran kepada manusia tidak hanya tentang hukum halal-haram, namun pun juga tentang sains dan teknologi, termasuk tentang hujan. Sebagaimana dalam firmanNya Surat Ar Rum : 48 sebagai berikut :
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.
Bergembiralah dengan datangnya air hujan, itulah siklus yang telah di atur oleh Yang Maha Mengatur, yakni Alloh Subhanahu Wata’ala. Jangan sekalipun mengeluh, karena ada berkah disetiap tetesan air itu. Maka dari itu berdoalah disetiap turun air hujan, اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat).
Jangan mencela turunnya air hujan. Terkadang Sebagian dari kita boleh jadi keluar celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”. Ketahuilah, Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai “kambing hitam” jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Allah Ta’alaberfirman (yang artinya), “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.”
Dari hasits Qudsi di atas, kita dilarang mencaci maki  masa (waktu) dan angin. Begitu pula halnya mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang. Karena hujan turun itu adalah berkah dan banyak pelajaran berharga, hikmah yang bisa kita petik. Lantas apa hubungan hujan dengan hari kebangkitan sebagaimana surat Qaaf ayat 9-11 di atas ?. 

Korelasi Hujan dan Hari Kebangkitan
Apa sih hubungannya antara hujan dengan hari kebangkitan ?. Sungguh islam ini banyak mutiara pelajaran sains. Dan seharusnya kita dan generasi muslimin ini terus bertumbuh semakin maju dengan sains yang ada dalam bimbinga Al Qur’an dan Hadits. Fenomena hujan hanyalah salah satu saja dan masih banyak ribuan ayat yang perlu dikaji tentang makna sain-nya. Dalam surat Qaaf ayat 9-11 di atas, diawali dengan menerangkan tentang turunnya air hujan yang berkah itu, kemudian dari air itu ditumbuhkan tanaman, lalu menjadi rezeki bagi hambanya, kemudian ditumbuhkan tanah yang mati dan tiba-tiba ujungnya kadzalikal khuruj (begitulah kalian akan dibangkitkan). Tentu Allah punya maksud, kenapa setelah bicara hujan, tumbuhan, rezeki, tanah dan ujungnya adalah hari kebangkitan. Baiklah, saya coba antarkan hadits berikut ini :

“Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata, Rosululloh saw bersabda: “Jarak antara dua tiupan itu empat puluh.” Mereka berkata, wahai Abu Huroiroh! Apakah empat puluh hari? Ia menjawab, aku enggan memastikan. Mereka berkata, apakah empat puluh bulan? Ia menjawab, aku enggan memastikan. Mereka berkata, apakah empat puluh tahun? Ia menjawab, aku enggan memastikan. Kemudian Alloh menurunkan air dari langit, maka mereka bangkit seperti tumbuhnya sayuran. Ia berkata, “Tidak ada bagian manusia yang tidak hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘ajbudz-dzanab (bagian akhir tulang ekor), darinya makhluq itu disusun kembali pada hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Siapa saja yang tidak yakin dan atau kurang yakin dengan hari kebangkitan, maka renungilah hujan yang turun. Karena bangkitnya manusia dari alam kubur setelah mereka hancur lebur seperti tumbuhnya sayuran. Itulah yang menjadi point penting yang mesti kita ingat, sehingga keimanan kita terhadap hari kebangkitan semakin kuat. Tumbuhnya sayur-sayuran itu tentu bermula dari sebutir biji. Begitupun manusia, ia akan dibentuk menjadi seperti semula dari sebutir tulang kecil dari tulang rusuk (‘ajbudz-dzanab), tulang itulah yang akan awet hingga hari kebangkitan.(Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 6 hal.322)

Masya’Allah.. Seorang Ilmuwan Jerman, bernama Han Spemann, berhasil mendapatkan hadiah nobel bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Pada penelitian lain, Han mencoba menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu panas yang tinggi dan dalam waktu yang lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia mencoba mengimplantasikan bubuk tulang itu pada janin lain yang masih dalam tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dan penelitian inipun juga mengacu kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi Wasallam 14 abad yang lalu. Terbayangkah betapa cerdasnya nabi kita, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.
Tulang rusuk (‘ajbudz-dzanab ) inilah yang akan tumbuh saat hari kebangkitan seperti sayur-sayuran yang bertumbuh setelah disiram air hujan. Inilah korelasi hujan dan hari kebangkitan. Maka saat hujan, bergembiralah, jangan mengeluh, lihatlah tanaman-tanaman itu, lalu ingatlah rukun iman yang kelima, beriman kepada hari kiamat, hari dimana seluruh manusia akan dibangkitkan. Semoga semakin menguatkan keimanan dan keislaman kita.






Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates