RASULULLAH
PUN BEGITU ROMANTIS
Oleh :
Rofiq Abidin
عَسَى ٱللَّهُ أَن
يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ ٱلَّذِينَ عَادَيْتُم مِّنْهُم مَّوَدَّةً وَٱللَّهُ
قَدِيرٌ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan
orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Mumtahanah : 7)
Dibalik tugas kenabian yang begitu besar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberi
perhatian kepada istri-istrinya. Kelembutan, empati dan rasa cintanya sangat
dirasakan oleh ummahatul mikminin. Semua merasa menjadi orang yang
diistimewakan. Sehingga semua mendapatkan mendapatkan tempat istimewa di hati
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah melakukan monogami
selama 25 tahun dan mempunyai istri lebih dari satu selama 13 tahun. Sebagai
ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tentu jangan sampai hal ini menjadi bahan tertawaan.
Lebih baik kita ambil hikmahnya. Karena Rasulullah menikah dengan wanita yang
semuanya janda, kecuali Aisyah RA yang masih gadis. Tidak benar jika Rasulullah
menikah karena syahwat semata. namun jelas petanya. Baiklah, sebelum kita
membahas tentang romantisme Rasulullah, kita sibak apa motiv di balik
pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
1.
Ta’limiyah (pengajaran), motiv ini bertujuan untuk mentransfer segala
ilmu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hasilnya adalah Aisyah
memiliki kecerdasn yang kuat dan dikemudian hari Aisyah RA merupakan orang yang
banyak meriwayatkan hadits disamping Abu Bakar
2.
Istima’iyah (sosial-politik), pernikahan ini bertujuan menjaga
kekeluargaan dan juga ada misi politik. Salah satunya adalah Hafsah bin Umar
bin Khatab, salah satu sahabat Nabi, sehingga kekeluargaannya menjadi lebih
dekat. Pun juga dengan Romlah binti Abu Sofyan (Umu Habibah), seorang pemuka
kafir qurais dan musuh besar nabi di perang uhud dan perang khondak. Dan
setelah anaknya menikah dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam perlawanannya mengendor dan dikemudian hari
masuk islam. Pun juga dengan Sofiyah binti Khuya’i, ini adalah istri tokoh
Yahudi yang banyak memprovokasi perang, diantaranya perang khaibar. Sehingga
dengan pernikahan ini, mengendorlah niat jahatnya. Selanjutya istri nabi yang
bernama Juwairah binti Harist, ini adalah mantan istri tokoh bani Musthorik
yang setelah itu sekampung masuk islam.
3.
Tasyar’iyah (dijadikan syariat), Motiv ini untuk menghapus perbudakan, dan
mentegakkan syariat salah satu contohnya adalah Maria binti Kibtiyah. Karena
dalam tradisi bangsa Arab tidak boleh menikahi budak, kecuali dengan budak.
Begitupun juga Zaenab binti Jahs, mantan istri dari anak angkat yakni Zaid bin
Harist, yang dalam tradisi bangsa Arab tidak diperbolehkan. Maka motiv inilah
yang disebut “Tasyar’iyah” sehingga tidak tabu lagi tapi dibolehkan.
Contoh-contoh Keromantisan
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Rasulullah menyapa di pagi hari dengan sapaan salam, senyum
terbaik kepada istrinya, lalu bertanya ramah, “Hal indakum sai’ ?
(apakah ada sesuatu), maksudnya bertanya ada masakan apa ?. Jika makanannya
enak, dimakan. Dan jika tidak suka beliaupun tidak mencelanya, bahkan pernah
membatalkan puasa sunahnya, karena menghormati istrinya yang sudah memaskkan
khusus untuknya. Mari kita dalami keromantisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam kepada istri-istrinya berikut ini :
1.
Dinner
Berdua
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah diajak orang makan malam oleh orang
Persia, Rasulullah tidak mau, kecuali Aisyah juga diajak dalam jamuan makan
itu, kalau bahasa sekarang “dinner”. Artinya, bahwa Rasulullah maunya dinner
dengan Aisyah, tidak sendirian. Pernah dikisahkan juga, bahwa Rasulullah sering
mengajak istrinya saat keluar kota, baik keperluan perang, dakwah ataupun
keperluan Negara lainnya. Setelah melakukan undian panah untuk menentukan siapa
istri yang diajak, maka diajaklah salah satu nama istri yang keluar itu.
Rasulullah menyodorkan kedua lututnya dan meletakkan kedua tangannya, lalu
istrinya yang bermama Shafiyyah yang berumur 60 tahun menaiki kuda melalui tangan
Rasulullah.
Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju
Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyediakan
tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian
beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah
meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta
tersebut.” (HR Bukhari)
2.
Mengendalikan
Marah Istri
Rasulullah tahu kapan Muhammad kapan Aisyah marah sama nabi
dan kapan Aisyah tidak marah sama nabi. Suatu ketika nabi mengatakan, “Aku tahu
kapan kamu senang dan kapan kamu marah sama saya”, bagaimana engkau tahu wahai
Rasulullah (tanya aisyah), “Kalau kamu tidak sedang marah sama aku, engkau Demi
Tuhannya Ibrahim, kalau sedang tidak marah engkau sebut Demi Tuhannya
Muhammad”. Dan Aisyah menjawab, “Ya itu benar, karena jika kalau saya marah
sama engkau, aku tidak mau menyebut namamu”.
Nabi
saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai
‘Aisya, bacalah do’a: “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku,
hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang
menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)
3.
Indahnya
managemen konflik ala Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang
bersama dengan dua istrinya, dikisahkan saat Aisyah binti Abu Bakar mendapat
tugas memasak. Nah, setelah selesai memasak, dihidangkanlah masakannya itu di
hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Saudah binti Zam’ah (seorang janda
tua sebelum dinikahi Rasulullah). Namun Saudah tidak mau memakan masakan
Aisyah, 3 kali ditawari dan tetap tidak mau. Selanjutnya konflik terjadi,
karena Aisyah dongkol, maka ia mengambil semacam sendok dan mencipratkan ke
muka Saudah, lalu Rasulullah bilang, “Saudah, balas..!, lalu terjadilah konflik
kecil dan terbayang gak riuh renyahnya kisah ini, lalu Rasulullah bilang,
“Sssst…..ada Umar”…lalu kedua istrinya ini terdiam dan Rasulullah tersenyum.
Sederhana sekali Rasullah menyelesaikan masalah, konflik berlanjut dengan guyon
saling lempar, lalu berhenti.
Dalam kisah lain, para istri Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam melakukan semacam protes, dan bertanya “Siapa diantara
istrinya yang paling dicintai”, ada yang bilang, “Aisyah, Hafsoh”..lalu
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bilang “Baiklah, saya akan
menjawab siapa yang paling aku cintai besok di sini dan di waktu yang sama. Sehari
kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa
istri yang paling dicintai adalah orang yang tadi malam saya datangi dan saya
beri kue. Semua merasa paling dicintai, karena Rasulullah mendatangi semua
istrinya malam hari dan memberinya kue kepada semua istrinya.
Sehingga semua merasa istimewa di
hadapan Rasulullah dan merasa mendapatkan tempat di hati Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam.
4.
Nonton
Bareng
Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam
masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam bertanya kepadaku ‘wahai khumaira, apakah engkau ingin meihat
mereka?’, aku menjawab, ‘iya’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu
berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas
pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya. (setelah agak lama)
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘sudah cukup
(engkau melihat mereka bermain)’, aku menjawb, ‘wahai Rasulullah, jangan
terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat
mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, aku pun menjawab, ‘wahai
Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya aku tidak ingin
terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana
kedudukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sisiku dan
kedudukanku di sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”.
5.
Berkomunikasi
dengan Aroma
Setiap sore hari Rasulullah mendatangi rumah istrinya satu
persatu dan yang didatangi yang terakhir itulah ia bermalam. Suatu ketika
Aisyah RA di datangi, namun bukan yang terakhir. Namun Rasulullah, mencium bau
khas dari Aisyah RA, dan berkata, “Ya Aisyah, ini bukan malammu”. Lalu Aisyah
menerangkan bahwa ia mendapat jatah malam itu setelah bisa menyelesaikan konflik
antara Saudah dan Rasullah, sebagai hadiahnya Asiyah mengambil waktu malam
Saudah. Masya’Allah…Rasulullah hafal aroma masing-masing istrinya dan
berkomunikasi aroma.
6.
Mesra
dengan istri
Rasulullah meminum apa yang diminum Aisyah, seraya bertanya,
“Ya Aisyah, bagian gelas mana bekas yang kamu minum tadi”, lalu Aisyah
menunjukkan bekas bagian bibirnya, lalu Rasulullah meminum di bagian itu.
Masih banyak kisah romantis Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wa sallam bersama istrinya. Rasulullah makan berdua, minum berdua dan mandi
berdua bersama istrinya dan masih banyak yang lain. Betapa kasih sayang terpancar
terang dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Mudah-mudahan kita bisa mentauladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
yang lembut, bijak dan adil dan mengambil hikmah dengan bijak dengan apa
yang telah di uswahkan Rasul dan nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa
sallam.
Wallahua’lam.











0 komentar:
Posting Komentar