Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 10 Februari 2017

Bercermin dari Romantisme Rasulullah SAW

Rofiq Abidin


RASULULLAH PUN BEGITU ROMANTIS
Oleh : Rofiq Abidin


عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ ٱلَّذِينَ عَادَيْتُم مِّنْهُم مَّوَدَّةً وَٱللَّهُ قَدِيرٌ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Mumtahanah : 7)

Dibalik tugas kenabian yang begitu besar, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  selalu memberi perhatian kepada istri-istrinya. Kelembutan, empati dan rasa cintanya sangat dirasakan oleh ummahatul mikminin. Semua merasa menjadi orang yang diistimewakan. Sehingga semua mendapatkan mendapatkan tempat istimewa di hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah melakukan monogami selama 25 tahun dan mempunyai istri lebih dari satu selama 13 tahun. Sebagai ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  tentu jangan sampai hal ini menjadi bahan tertawaan. Lebih baik kita ambil hikmahnya. Karena Rasulullah menikah dengan wanita yang semuanya janda, kecuali Aisyah RA yang masih gadis. Tidak benar jika Rasulullah menikah karena syahwat semata. namun jelas petanya. Baiklah, sebelum kita membahas tentang romantisme Rasulullah, kita sibak apa motiv di balik pernikahan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  
1.      Ta’limiyah (pengajaran), motiv ini bertujuan untuk mentransfer segala ilmu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hasilnya adalah Aisyah memiliki kecerdasn yang kuat dan dikemudian hari Aisyah RA merupakan orang yang banyak meriwayatkan hadits disamping Abu Bakar
2.      Istima’iyah (sosial-politik), pernikahan ini bertujuan menjaga kekeluargaan dan juga ada misi politik. Salah satunya adalah Hafsah bin Umar bin Khatab, salah satu sahabat Nabi, sehingga kekeluargaannya menjadi lebih dekat. Pun juga dengan Romlah binti Abu Sofyan (Umu Habibah), seorang pemuka kafir qurais dan musuh besar nabi di perang uhud dan perang khondak. Dan setelah anaknya menikah dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  perlawanannya mengendor dan dikemudian hari masuk islam. Pun juga dengan Sofiyah binti Khuya’i, ini adalah istri tokoh Yahudi yang banyak memprovokasi perang, diantaranya perang khaibar. Sehingga dengan pernikahan ini, mengendorlah niat jahatnya. Selanjutya istri nabi yang bernama Juwairah binti Harist, ini adalah mantan istri tokoh bani Musthorik yang setelah itu sekampung masuk islam.
3.      Tasyar’iyah (dijadikan syariat), Motiv ini untuk menghapus perbudakan, dan mentegakkan syariat salah satu contohnya adalah Maria binti Kibtiyah. Karena dalam tradisi bangsa Arab tidak boleh menikahi budak, kecuali dengan budak. Begitupun juga Zaenab binti Jahs, mantan istri dari anak angkat yakni Zaid bin Harist, yang dalam tradisi bangsa Arab tidak diperbolehkan. Maka motiv inilah yang disebut “Tasyar’iyah” sehingga tidak tabu lagi tapi dibolehkan.
Contoh-contoh Keromantisan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam
Rasulullah menyapa di pagi hari dengan sapaan salam, senyum terbaik kepada istrinya, lalu bertanya ramah, “Hal indakum sai’ ? (apakah ada sesuatu), maksudnya bertanya ada masakan apa ?. Jika makanannya enak, dimakan. Dan jika tidak suka beliaupun tidak mencelanya, bahkan pernah membatalkan puasa sunahnya, karena menghormati istrinya yang sudah memaskkan khusus untuknya. Mari kita dalami keromantisan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada istri-istrinya berikut ini :
1.      Dinner Berdua
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  pernah diajak orang makan malam oleh orang Persia, Rasulullah tidak mau, kecuali Aisyah juga diajak dalam jamuan makan itu, kalau bahasa sekarang “dinner”. Artinya, bahwa Rasulullah maunya dinner dengan Aisyah, tidak sendirian. Pernah dikisahkan juga, bahwa Rasulullah sering mengajak istrinya saat keluar kota, baik keperluan perang, dakwah ataupun keperluan Negara lainnya. Setelah melakukan undian panah untuk menentukan siapa istri yang diajak, maka diajaklah salah satu nama istri yang keluar itu. Rasulullah menyodorkan kedua lututnya dan meletakkan kedua tangannya, lalu istrinya yang bermama Shafiyyah yang berumur 60 tahun menaiki kuda melalui tangan Rasulullah.

Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

2.      Mengendalikan Marah Istri
Rasulullah tahu kapan Muhammad kapan Aisyah marah sama nabi dan kapan Aisyah tidak marah sama nabi. Suatu ketika nabi mengatakan, “Aku tahu kapan kamu senang dan kapan kamu marah sama saya”, bagaimana engkau tahu wahai Rasulullah (tanya aisyah), “Kalau kamu tidak sedang marah sama aku, engkau Demi Tuhannya Ibrahim, kalau sedang tidak marah engkau sebut Demi Tuhannya Muhammad”. Dan Aisyah menjawab, “Ya itu benar, karena jika kalau saya marah sama engkau, aku tidak mau menyebut namamu”.

Nabi saw biasa memijit hidung ‘Aisyah jika ia marah dan beliau berkata, Wahai ‘Aisya, bacalah do’a: “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.” (HR. Ibnu Sunni)

3.      Indahnya managemen konflik ala Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam  
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sedang bersama dengan dua istrinya, dikisahkan saat Aisyah binti Abu Bakar mendapat tugas memasak. Nah, setelah selesai memasak, dihidangkanlah masakannya itu di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  dan Saudah binti Zam’ah (seorang janda tua sebelum dinikahi Rasulullah). Namun Saudah tidak mau memakan masakan Aisyah, 3 kali ditawari dan tetap tidak mau. Selanjutnya konflik terjadi, karena Aisyah dongkol, maka ia mengambil semacam sendok dan mencipratkan ke muka Saudah, lalu Rasulullah bilang, “Saudah, balas..!, lalu terjadilah konflik kecil dan terbayang gak riuh renyahnya kisah ini, lalu Rasulullah bilang, “Sssst…..ada Umar”…lalu kedua istrinya ini terdiam dan Rasulullah tersenyum. Sederhana sekali Rasullah menyelesaikan masalah, konflik berlanjut dengan guyon saling lempar, lalu berhenti.

Dalam kisah lain, para istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan semacam protes, dan bertanya “Siapa diantara istrinya yang paling dicintai”, ada yang bilang, “Aisyah, Hafsoh”..lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bilang “Baiklah, saya akan menjawab siapa yang paling aku cintai besok di sini dan di waktu yang sama. Sehari kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa istri yang paling dicintai adalah orang yang tadi malam saya datangi dan saya beri kue. Semua merasa paling dicintai, karena Rasulullah mendatangi semua istrinya malam hari dan memberinya kue kepada semua istrinya.

Sehingga semua merasa istimewa di hadapan Rasulullah dan merasa mendapatkan tempat di hati Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

4.      Nonton Bareng
Aisyah mengatakan, “Orang-orang Habasyah masuk ke dalam masjid untuk bermain (latihan berpedang), maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku ‘wahai khumaira, apakah engkau ingin meihat mereka?’, aku menjawab, ‘iya’. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu berdiri di pintu, lalu aku mendatanginya dan aku letakkan daguku di atas pundaknya kemudian aku sandarkan wajahku di pipinya. (setelah agak lama) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘sudah cukup (engkau melihat mereka bermain)’, aku menjawb, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’, lalu beliau (tetap) berdiri untukku agar aku bisa terus melihat mereka. Kemudian ia bertanya lagi, ‘sudah cukup’, aku pun menjawab, ‘wahai Rasulullah, jangan terburu-buru’. Aisyah berkata, ‘Sebenarnya aku tidak ingin terus melihat mereka bermain, akan tetapi aku ingin para wanita tahu bagaimana kedudukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam di sisiku dan kedudukanku di sisi  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam”.
5.      Berkomunikasi dengan Aroma
Setiap sore hari Rasulullah mendatangi rumah istrinya satu persatu dan yang didatangi yang terakhir itulah ia bermalam. Suatu ketika Aisyah RA di datangi, namun bukan yang terakhir. Namun Rasulullah, mencium bau khas dari Aisyah RA, dan berkata, “Ya Aisyah, ini bukan malammu”. Lalu Aisyah menerangkan bahwa ia mendapat jatah malam itu setelah bisa menyelesaikan konflik antara Saudah dan Rasullah, sebagai hadiahnya Asiyah mengambil waktu malam Saudah. Masya’Allah…Rasulullah hafal aroma masing-masing istrinya dan berkomunikasi aroma.
6.      Mesra dengan istri
Rasulullah meminum apa yang diminum Aisyah, seraya bertanya, “Ya Aisyah, bagian gelas mana bekas yang kamu minum tadi”, lalu Aisyah menunjukkan bekas bagian bibirnya, lalu Rasulullah meminum di bagian itu. 

Masih banyak kisah romantis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersama istrinya. Rasulullah makan berdua, minum berdua dan mandi berdua bersama istrinya dan masih banyak yang lain. Betapa kasih sayang terpancar terang dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Mudah-mudahan kita bisa mentauladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lembut, bijak dan adil dan mengambil hikmah dengan bijak dengan apa yang telah di uswahkan Rasul dan nabi kita, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Wallahua’lam.




Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates