Membuang Sampah “Su’usdzon”
Oleh : Rofiq Abidin
Kesulitan senyatanya menjadi media yang memandaikan
dan mendewasakan diri kita. Sulit tak selamanya sulit, namun yang tetap harus
terjaga adalah “Khusnudzon” terhadap apa yang sedang terjadi. Karena ternyata
ada sampah yang menghambat setiap proses kemajuan kita, ialah su’udzon. Pikiran
dan hati yang sibuk mencari kesalahan orang lain, dibandingkan “bermahasabbah”
terhadap dirinya sendiri. Ini menjadi penghambat, kenapa ?, karena itu adalah
sampah yang menimbulkan penyakit hati yang lainnya, menghilangkan ide, gagasan
dan solusi. Apalagi su’udzon kepada Allah, merasa tidak adil, merasa
paling menderita, merasa tidak diberi anugerah. Inilah sampah yang menghambat
aliran-aliran solusi-solusi hidup kita.
Untuk itu jangan dibiarkan sampah su’udzon itu terus
menempel, tapi siramlah hingga bersih dengan kekhusukan apa yang kita capai
untuk diri kita ke depan. Baik pencapaian prestasi ibadah kita, maupun sarana
ibadah kita yakni duniawi. Baiklah kita coba secara bertahap membuang
sampah-sampah su’usdzon yang menghinggapi hati dan pikiran kita :
1.
Jernihan niat untuk bermahasabbah setiap apa yang kita lakukan
Setiap datang pikiran
kotor, kembalikan niat kita untuk kebaikan. Jangan terperdaya oleh
provokasi-provokasi yang bersumber dari “rasa kecewa” atau sakit hati.
2.
Tengok kekurangan kita sebelum melihat celah kekurangan orang lain
Jangan biarkan mata dan
wajah kita terus menghakimi kesalahan saudara kita, tapi mengabaikan
kesalahan-kesalahan yang sama pernah kita lakukan seperti sangkaan yang belum
tentu benar.
3.
Sering-sering berkumpul dengan orang-orang yang sering berbicara baik
dan ramah
Berkumpul dengan
orang-orang yang berbicara ramah, akan memberi pengaruh hati dan lisan kita
untuk berperasaan positif dan berkata ramah dan produktif, bukan perkataan yang
lebih kepada kesia-siaan dan menyakiti saudara.
4.
Hindari ghibah disetiap aktifitas harian
Setiap ada ghibah di
depan kita, tinggalkanlah lalu berujarlah dalam hati atau dikatakan, “baginya
amalnya dan bagi kita amal kita”. Tolakkah ghibah dengan cara yang indah dan
ganti topik pembicaraan yang lebih produktif.
5.
Jaga hati untuk terus berdzikir dan bersyukur
Hati yang terkendali dalam dzikir yang akan menolak segala
perkataan fakhsa’ (keji melukai). Baik itu perkataan adu domba, culas
dan celaan atau apa saja yang menyakiti. Hati yang besyukur akan senantiasa
tidak membiarkan dirinya merawat rasa kecewa, namun mebuangnya dengan perasaan
syukurnya.
6.
Tahan lisan, jika tiba-tiba ada fitnah, namimah dan ganti dengan
istigfar
Jika bertemu dengan
percakapan yang mengandung fitnah dan namimah maka lisan kita harus menahan
diri untuk tidak mengomentari atau menambahi dan membumbui. Tapi lebih dahulu
beristigfar, lalu menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, itu lebih baik.
Su’udzon boleh jadi menjadi penghambat utama untuk
maju. Kita sibuk memikirkan kesalahan orang lain dari pada sibuk bikin prestasi
amal dan ibadah kita. Maka, buanglah sampah ini, ia penghambat aliran-aliran
ide segar solusi, ia penghambat aliran-aliran kesempatan dan bisa jadi
membutakan kita untuk mengambil peluang. So baunglah sampah su’udzon jika kita
ingin maju dan mulia dihadapan Allah dan makhukNya.











0 komentar:
Posting Komentar