Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Jumat, 10 Februari 2017

Membuang Su'udzon

Rofiq Abidin


Membuang Sampah “Su’usdzon”
Oleh : Rofiq Abidin


Kesulitan senyatanya menjadi media yang memandaikan dan mendewasakan diri kita. Sulit tak selamanya sulit, namun yang tetap harus terjaga adalah “Khusnudzon” terhadap apa yang sedang terjadi. Karena ternyata ada sampah yang menghambat setiap proses kemajuan kita, ialah su’udzon. Pikiran dan hati yang sibuk mencari kesalahan orang lain, dibandingkan “bermahasabbah” terhadap dirinya sendiri. Ini menjadi penghambat, kenapa ?, karena itu adalah sampah yang menimbulkan penyakit hati yang lainnya, menghilangkan ide, gagasan dan solusi. Apalagi su’udzon kepada Allah, merasa tidak adil, merasa paling menderita, merasa tidak diberi anugerah. Inilah sampah yang menghambat aliran-aliran solusi-solusi hidup kita.   

Untuk itu jangan dibiarkan sampah su’udzon itu terus menempel, tapi siramlah hingga bersih dengan kekhusukan apa yang kita capai untuk diri kita ke depan. Baik pencapaian prestasi ibadah kita, maupun sarana ibadah kita yakni duniawi. Baiklah kita coba secara bertahap membuang sampah-sampah su’usdzon yang menghinggapi hati dan pikiran kita :
1.      Jernihan niat untuk bermahasabbah setiap apa yang kita lakukan
Setiap datang pikiran kotor, kembalikan niat kita untuk kebaikan. Jangan terperdaya oleh provokasi-provokasi yang bersumber dari “rasa kecewa” atau sakit hati.
2.      Tengok kekurangan kita sebelum melihat celah kekurangan orang lain
Jangan biarkan mata dan wajah kita terus menghakimi kesalahan saudara kita, tapi mengabaikan kesalahan-kesalahan yang sama pernah kita lakukan seperti sangkaan yang belum tentu benar.
3.      Sering-sering berkumpul dengan orang-orang yang sering berbicara baik dan ramah
Berkumpul dengan orang-orang yang berbicara ramah, akan memberi pengaruh hati dan lisan kita untuk berperasaan positif dan berkata ramah dan produktif, bukan perkataan yang lebih kepada kesia-siaan dan menyakiti saudara.
4.      Hindari ghibah disetiap aktifitas harian
Setiap ada ghibah di depan kita, tinggalkanlah lalu berujarlah dalam hati atau dikatakan, “baginya amalnya dan bagi kita amal kita”. Tolakkah ghibah dengan cara yang indah dan ganti topik pembicaraan yang lebih produktif.
5.      Jaga hati untuk terus berdzikir dan bersyukur
Hati yang terkendali  dalam dzikir yang akan menolak segala perkataan fakhsa’ (keji melukai). Baik itu perkataan adu domba, culas dan celaan atau apa saja yang menyakiti. Hati yang besyukur akan senantiasa tidak membiarkan dirinya merawat rasa kecewa, namun mebuangnya dengan perasaan syukurnya.
6.      Tahan lisan, jika tiba-tiba ada fitnah, namimah dan ganti dengan istigfar
Jika bertemu dengan percakapan yang mengandung fitnah dan namimah maka lisan kita harus menahan diri untuk tidak mengomentari atau menambahi dan membumbui. Tapi lebih dahulu beristigfar, lalu menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar, itu lebih baik.
Su’udzon boleh jadi menjadi penghambat utama untuk maju. Kita sibuk memikirkan kesalahan orang lain dari pada sibuk bikin prestasi amal dan ibadah kita. Maka, buanglah sampah ini, ia penghambat aliran-aliran ide segar solusi, ia penghambat aliran-aliran kesempatan dan bisa jadi membutakan kita untuk mengambil peluang. So baunglah sampah su’udzon jika kita ingin maju dan mulia dihadapan Allah dan makhukNya.

Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates