HUJAN DAN HARI KEBANGKITAN
Oleh : Rofiq Abidin
وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُبَارَكًا فَأَنْبَتْنَا بِهِ
جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ. وَٱلنَّخْلَ
بَاسِقَاتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيدٌ. رِّزْقاً لِّلْعِبَادِ وَأَحْيَيْنَا بِهِ
بَلْدَةً مَّيْتاً كَذٰلِكَ ٱلْخُرُوجُ
Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak
manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman
yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang
bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan
dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya
kebangkitan. (QS. Qaaf : 9-11)
Sungguh
sebuah keindahan yang tak terkira, saat jemari menikmati tetesan air air yang
turun dari langit, tentu dengan perasaan syukur yang dalam. Berkat kekuasaan
Allah, setiap saat milyaran liter air berpindah dari lautan menuju atmosfer
lalu kembali lagi menuju daratan. Dan Kehidupan makhluk dibumi pun terus
bertumbuh dari siklus air ini, biidznillah.
Seorang
Harun Yahya dalam The Signs in The Heavens and the Earth for Men of
Understanding, membuktikan kebenaran dan kesesuaian ayat-ayat Al Qur’an
yang mejelaskan sains modern. “Andai manusia mencoba mengatur daur di alam
semesta ini, maka tak akan berhasil, walaupun mengerahkan semua teknologi yang
ada di bumi”. Paparnya.
Bergembira dengan Datangnya
Air Hujan
Allah memberikan pengajaran
kepada manusia tidak hanya tentang hukum halal-haram, namun pun juga tentang
sains dan teknologi, termasuk tentang hujan. Sebagaimana dalam firmanNya Surat
Ar Rum : 48 sebagai berikut :
اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا
فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى
الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلالِهِ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ
إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan
awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan
menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari
celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang
dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira.
Bergembiralah dengan datangnya air hujan,
itulah siklus yang telah di atur oleh Yang Maha Mengatur, yakni Alloh Subhanahu
Wata’ala. Jangan sekalipun mengeluh, karena ada berkah disetiap tetesan air
itu. Maka dari itu berdoalah disetiap turun air hujan, اللَّهُمَّ
صَيِّبًا نَافِعًا (Ya Allah
turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat).
Jangan
mencela turunnya air hujan. Terkadang Sebagian dari kita boleh jadi keluar
celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”. Ketahuilah, Rasulullah Shallallohu
‘alaihi wasallam menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk
yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai “kambing hitam” jika kita mendapatkan
sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan
angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa. Dalam sebuah
hadits Qudsi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Allah
Ta’alaberfirman (yang artinya), “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa
(waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur
malam dan siang menjadi silih berganti.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.”
Dari
hasits Qudsi di atas, kita dilarang mencaci maki masa (waktu) dan angin. Begitu pula halnya
mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki
angin dan hujan adalah terlarang. Karena hujan turun itu adalah berkah dan
banyak pelajaran berharga, hikmah yang bisa kita petik. Lantas apa hubungan
hujan dengan hari kebangkitan sebagaimana surat Qaaf ayat 9-11 di atas ?.
Korelasi Hujan dan Hari Kebangkitan
Apa sih hubungannya antara hujan
dengan hari kebangkitan ?. Sungguh islam ini banyak mutiara pelajaran sains.
Dan seharusnya kita dan generasi muslimin ini terus bertumbuh semakin maju
dengan sains yang ada dalam bimbinga Al Qur’an dan Hadits. Fenomena hujan
hanyalah salah satu saja dan masih banyak ribuan ayat yang perlu dikaji tentang
makna sain-nya. Dalam surat Qaaf ayat 9-11 di atas, diawali dengan menerangkan
tentang turunnya air hujan yang berkah itu, kemudian dari air itu ditumbuhkan
tanaman, lalu menjadi rezeki bagi hambanya, kemudian ditumbuhkan tanah yang
mati dan tiba-tiba ujungnya kadzalikal khuruj (begitulah kalian akan
dibangkitkan). Tentu Allah punya maksud, kenapa setelah bicara hujan, tumbuhan,
rezeki, tanah dan ujungnya adalah hari kebangkitan. Baiklah, saya coba antarkan
hadits berikut ini :
“Dari Abu Huroiroh ra, ia berkata,
Rosululloh saw bersabda: “Jarak antara dua tiupan itu empat puluh.” Mereka
berkata, wahai Abu Huroiroh! Apakah empat puluh hari? Ia menjawab, aku enggan
memastikan. Mereka berkata, apakah empat puluh bulan? Ia menjawab, aku enggan
memastikan. Mereka berkata, apakah empat puluh tahun? Ia menjawab, aku enggan
memastikan. Kemudian Alloh menurunkan air dari langit, maka mereka bangkit
seperti tumbuhnya sayuran. Ia berkata, “Tidak ada bagian manusia yang tidak
hancur kecuali satu tulang, yaitu ‘ajbudz-dzanab (bagian akhir tulang ekor),
darinya makhluq itu disusun kembali pada hari kiamat.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Siapa saja yang tidak yakin dan atau
kurang yakin dengan hari kebangkitan, maka renungilah hujan yang turun. Karena
bangkitnya manusia dari alam kubur setelah mereka hancur lebur seperti
tumbuhnya sayuran. Itulah yang menjadi point penting yang mesti kita ingat,
sehingga keimanan kita terhadap hari kebangkitan semakin kuat. Tumbuhnya
sayur-sayuran itu tentu bermula dari sebutir biji. Begitupun manusia, ia akan
dibentuk menjadi seperti semula dari sebutir tulang kecil dari tulang rusuk (‘ajbudz-dzanab), tulang
itulah yang akan awet hingga hari kebangkitan.(Tafsir Ibnu
Katsir, Jilid 6 hal.322)
Masya’Allah..
Seorang Ilmuwan Jerman, bernama Han Spemann, berhasil mendapatkan hadiah nobel
bidang kedokteran pada tahun 1935. Dalam penelitiannya ia dapat membuktikan
bahwa asal mula kehidupan adalah tulang ekor. Pada penelitian lain, Han mencoba
menghancurkan tulang ekor tersebut. Ia menumbuknya dan merebusnya dengan suhu
panas yang tinggi dan dalam waktu yang lama. Setelah menjadi serpihan halus, ia
mencoba mengimplantasikan bubuk tulang itu pada janin lain yang masih dalam
tahap permulaan embrio. Hasilnya, tulang ekor itu tetap tumbuh dan membentuk janin
sekunder pada guest body (organ tamu). Meskipun telah ditumbuk dan dipanaskan
sedemikian rupa, tulang ini tidak ‘hancur’.
Dan penelitian inipun juga mengacu kepada Rasulullah
Sholallahu ‘alaihi Wasallam 14 abad yang lalu. Terbayangkah betapa cerdasnya
nabi kita, Muhammad Sholallahu ‘alaihi wassalam.
Tulang rusuk (‘ajbudz-dzanab ) inilah
yang akan tumbuh saat hari kebangkitan seperti sayur-sayuran yang bertumbuh
setelah disiram air hujan. Inilah korelasi hujan dan hari kebangkitan. Maka
saat hujan, bergembiralah, jangan mengeluh, lihatlah tanaman-tanaman itu, lalu ingatlah
rukun iman yang kelima, beriman kepada hari kiamat, hari dimana seluruh manusia
akan dibangkitkan. Semoga semakin menguatkan keimanan dan keislaman kita.












