Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Senin, 07 April 2014

Pemimpin

Rofiq Abidin


Pemimpin atau Pemimpi ?


ÙˆَجَعَÙ„ْÙ†َا Ù…ِÙ†ْÙ‡ُÙ…ْ Ø£َئِÙ…َّØ©ً ÙŠَÙ‡ْدُÙˆْÙ†َ بِØ£َÙ…ْرِÙ†َ Ù„َÙ…َّا صَبَرُÙˆْا ÙˆَÙƒَا Ù†ُÙˆْ بِØ£َ ÙŠَتِÙ†َا ÙŠُÙ‚ِÙ†ُÙˆْÙ†َ (ألسجداه : 24)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
(QS. As Sajdah : 24)

Semua orang punya impian bagaimana menjadi dan memiliki pemimpin ideal. Banyak spekulasi diantara kita bahwa pemimpin ideal itu pemimpin yang adil dalam memutuskan suatu masalah, bijak mengambil solusi dan mampu mensejahterakan ummat/rakyatnya. Atau mungkin anda memiliki impian sendiri, wajar-wajar saja bukan!. Benarkah  kepemimpinan begitu berpengaruh kepada kesejahteraan kita?. Boleh jadi ada yang berseloroh, “bukankah kita sendiri sedang berjuang mensejahterakan diri sendiri, tanpa bantuan kepemimpinan bisa sejahtera”. Setidaknya itu mewakili para agniya’ (orang kaya) yang merasa mendapatkan kekayaan tanpa campur tangan pemerintah. Tidak sedikit diantara calon pemimpin itu yang menjanjikan mimpi-mimpi indah agar dipilih menjadi pemimpin suatu kaum atau komunitas. Dalam islam banyak tauladan kepemimpinan, yang jelas kita semua tahu bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin ideal dengan bekal empat sifat (sidiq, amanah, tablig dan fatonah) mampu menjadi pemimpin impian di dunia. Itu karena berbagai prestise  yang dicapainya, baik pretasi di dunia yang mengangumkan dan pretasi ibadah yang menjadikan semua makhluk Allah hormat kepadanya. Masih banyak lagi contoh pemimpin islam yang dicintai ummatnya, sebut saja Umar bin Khatab yang sangat memperhatikan ummatnya, Umar bin Abdul Azis yang dapat memberikan kesejahteraan kepada kaumnya dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Baiklah, mari kita coba belajar mengurai perbedaan pemimpin dan pemimpi agar kita bisa lebih bijak dalam memimpin, terutama memimpin diri sendiri.
1.      Pemimpin itu visioner, bukan apa adanya dan omong kosong
Menanamkan visi menjadi hal yang sangat penting dan fundamental, jika seseorang menjadi pemimpin. Seseorang yang memimpin tanpa visi yang jelas, dapat menibulkan skeptisme terhadap kepemimpinannya itu sendiri. Jika seseorang dibawa kepada visi yang jelas, maka secara otomatis semangat dan motivasi para pengikutnya berkobar dengan sendirinya. Visioner memang butuh mimpi besar, namun tertukur. Bukan omong besar yang tidak melakukan apa-apa dengan omong besarnya itu. Visi sangat beda dengan omong besar, ini dibedakan dari niatnya. Jika orang visioner itu niatnya baik untuk masa depan, namun orang yang hanya ngomong besar, niatnya hanya membesarkan dirinya, kekakuaannya melebihi dari kepentingan rakyatnya/bawahannya. Orang visioner mampu menjabarkan idealismenya dengan baik, namun pemimpi ketetaran saat diminta bagaimana pelaksaaan idenya. Pemimpin visioner membayangkan kesejahteraan rakyatnya, pemimpi hanyalah membayangkan kesejahteraan pribadinya. Jadi jelas pemimpin dan pemimpi itu bedanya pada niat, yang akan memperngaruhi kiprah selanjutnya.
2.      Pemimpin itu melayani, bukan berlagak jadi bos
Tidak sedikit mungkin kita lihat banyak bos-bos kecil dalam sebuah sturktur kepemimpinan dan keorganisasian. Dengan kementerengan jabatannya, orang meminta dihormati dari yang lainnya. Namun, tahukah anda bahwa seorang pemimpin islam itu senantiasa bisa menempatkan dirinya pada porsinya. Ia tidak gila hormat, ia lebih suka melayani ummatnya. Seorang pemimpin besar itu lebih suka membantu ummatnya, dari pada harus menyusahkannya untuk melayaninya. Kebiasaan orang yang omong besar, suka menyuruh orang lain, padahal dirinya bisa melakukannya sendiri dengan mudah, selalu pengen dilayani orang lain, karena ia tidak bisa memimpin dirinya untuk berbuat lebih dari sekedar menyuruh orang. Pemimpi lebih sering marah-marah saat berbuat, karena bukan dari ketulusan hatinya saat melakukannya, namun pemimpin lebih tulus memberikan tauladan kebaikan demi mencapai visinya.
3.      Pemimpin itu banyak berbuat, bukan NATO (No Action Talk Only)
Hanya bisa ngomong, sangat tidak cukup untuk menjadi pemimpin. Ia mesti cakap menata omongannya. Pada era modern ini manusia lebih kritis dalam menilai sesuatu. Oleh karena itu, pemimpin itu mesti memberi tauladan di depan rakyatnya, bukan mengumbar janji-janji palsu. Banyak orang omong besar tanpa karya, ia hanya mengejar jabatan, bukan peran. Itulah pemimpi yang pandai cari muka, perbuatannya hanya ABS (Asal Bos Senang). Ia sangat pandai mencuri ide, lalu men-just negatif yang punya ide. Pemimpi lebih sibuk menghasut orang, dari pada melakukan perubahan lebih berarti. Karena ia menginkan sesuatu instan, bukan proses wajar. Namun pemimpin lebih senang berbuat untuk kemajuan, karena ia tahu bahwa kempemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban (kullukum ra’in wakullukum mas’ulin anro’iyyatihi).
4.      Pemimpin itu pandai memberdayakan, bukan memaksakan kehendak
Kepiawaian seseorang memberdayakan sumber daya yang ada menjadi hal mutlak untuk menjadi pemimpin. Mampu menangkap setiap jengkal potensi, bukan membiarkan berjalan yang bukan pada jalurnya. Pemimpin itu pandai mengekplorasi potensi dan tahu saatnya apa yang diberdayakan sudah tidak lagi berdaya. Sehingga ia lebih bijak memberdayakan kekuatan dan ia sangat menghindari pemaksaan kehendak, karena ia tahu pemaksaan kehendak itu sudah ditunggangi oleh ego dan keputusasaan mencari jalan keluar. Pembedayaan kekuatan adalah inti dari kepemimpinan, karena memimpin berarti bisa mempengaruhi orang lain untuk mencapai visi yang dibangun, mencapai kesepakatan yang telah ditetapkan.
5.      Pemimpin itu memberi petunjuk (ilmu), bukan membodohi
Sebaik baik cara menasehati adalah dengan transformasi ilmu dan keteladanan, itu pandapat saya. Karena dengan kejelasan ilmu, orang akan dapat memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Seorang pemimpin lebih senang memberi petunjuk, dari pada menunjuk (menyuruh) tanpa ilmu. Seorang pemimpin senang berbicara berdasarkan ilmu, bukan emosional. Tidak mengumbar kemarahan dan tidak menipu. Karena ia tahu bahwa dengan memberi petunjuk (ilmu) memudahkan ia dalam memimpin dan mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan selanjutnya. Namun pemimpi lebih sering membodohi bawahannya untuk mencapai apa yang dia inginkan, karena ia tidak sabar menjelaskan keilmuannya. Ia lebih suka menyalahkan sebelum merasa sudah berbuat apa dengan ketidakberesan itu.
6.      Pemimpin itu sabar menasehati, bukan kaku memerintah
Tidak ada manusia satupun yang mampu memuaskan semua manusia. Pasti ada saja perbuatan atau pekerjaan yang tidak berkenan dihati orang lain. Untuk itulah diperlukan perlakuan pemimpin yang sabar. Karena pemimpin yang sabar tahu bahwa dirinya juga jauh dari kesempurnaan. Pemimpin itu bukan manusia sempurna yang suci dari kesalahan, jadi jangan sok suci jadi pemimpin, sok baik dan sok-sok lainnya yang dapat menjerumuskan kedalam jurang keangkuhannya. Lebih baik sabar dalam memerintah dan ikhlash dalam menjalani amanah. Maafkan saja kesalahan orang dengan ikhlash dan cara yang bijak. Itu lebih baik, karena kepemimpinan itu butuh dukungan semua jajarannya untuk melanjutkan pencapaian visinya.

Apa saja yang kita bisa, akan terus berkembang jika kita berdayakan. Apasaja yang kita tahu akan terus berkembang jika kita mau tahu. Apasaja yang kita punya, akan terus bertambah jika kita mau bersyukur. Apasaja bisa berubah, jika kita mau. Karena Allah mau mengubah, jika hambaNya mau berubah. Harapan penulis, semoga kita dapat memimpin diri kita dengan baik dan memimpin apa yang kita pimpin dengan amanah dan dapat menjadi pembanding untuk evaluasi, apakah kita telah berbuat sebagaimana pemimpin atau sekedar bermimpi tanpa visi. Untuk mari kita menancapkan visi dalam memimpin, agar kita mampu memberdayakan segala sumber daya yang ada dengan optimal dan proporsional. Wallahua’lam. 

Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates