Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Senin, 08 Juli 2013

KITA SEMUA BERHAK UNTUK BAHAGIA

Rofiq Abidin

KITA SEMUA BERHAK UNTUK BAHAGIA
Oleh : Rofiq Abidin

Semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Kita berdo’a setiap hari agar diberikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tak terkecuali yang sedang galau, “saat pikiran kacau jangan berkicau, nanti tambah galau”. Saat pikiran sedang tidak karuan mungkin banyak diantara kita yang mencari pelarian berkicau, maksudnya ngomong ngalor ngidul gak karuan jluntrungannya sehingga menularkan keresahan. Kita semua berhak bahagia, tapi jangan sampai pelarian galau kita mengusik kebahagiaan orang lain, apalagi saudara. Mari kita coba memaknakan kebahagiaan dengan sebenarnya. Kebahagiaan yang kita panjatkan kepada Allah setiap hari itu adalah kebahagiaan yang bersifat positif dan membawa dampak kepada hal yang positif, karena banyak yang mengatasnamakan kebahagiaan tapi actionnya negatif. Contohnya saja, “nikmati masa mudamu dengan senang-senang”, sepintas tidak ada yang salah dengan opini ini. Tapi jika “senang-senang” dipraktekkan dengan kemaksiatan itu bukan lagi kebahagiaan. Justru itu akan membawanya keluar dari jalur kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan tidak bisa diatasnamakan begitu saja dengan kepuasan, lantaran kita memaklumkan kesalahan, lebih-lebih lagi pelarian kesalahannya menular buruk kepada orang lain. Senang itu beda dengan kesenangan, senang adalah perasaan, kesenangan adalah fasilitas/sesuatu yang bisa menjadikan kita senang. Perasaan senang yang kita wakilkan sebagai kebahagiaan mesti bersifat positif dalam menikmati kesenangan. Kelapangan rezeki kita katakan sebagai kebahagiaan, kesehatan optimal juga membahagiakan dan keharmonisan keluarga pun memberi rasa bahagia. Semua manusia berhak bahagia dengan segala keadaan dan kesenangan yang ia peroleh. Semua manusia bisa bahagia dengan anugerah yang diberikan Allah, sekecil apapun itu. Jalannya adalah tawakal, coba kita renungi sejenak pesan Allah berikut ini :

“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”  (Ath Thalaaq : 3)

Ingat bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi, namun kesehatan dan keharmonisan keluarga juga rezeki. Jangan mendapatkan rezeki dengan cara yang tidak toyib dan tidak halal. Jangan juga merampas rezeki orang lain, merampas kesehatan orang lain, merampok keharmonisan keluarga orang lain itu juga tidak toyyib. Maka apapun keadaannya tawakal adalah jalan utama meraih kebahagiaan. Jika kita sedang lemah, galau atau bahkan merasa tidak berdaya, itu hanya perasaan, karena kegalauan dan ketidakberdayaan tak boleh menghambat kita untuk bahagia. Kita berhak bahagia. Kita lahir berikut keunggulan, keunikan dan potensi yang diangerahkan oleh Allah kepada kita. Jika kita mau menggali dan memberdayakannya, maka bahagia yang kita panjatkan setiap hari, bukan hanya menjadi do’a, tapi senantiasa mengiringi perjalanan hidup kita dan terpenetrasikan kepada lingkungan sekitar kita. Untuk menjaga segenap tawakal kita, maka teruslah  bersyukur. Karena bentuk syukur pada dasarnya juga membahagiakan orang lain, menyenangkan orang lain dan memberikan kesempatan orang lain untuk mengambil haknya, ialah bahagia!

Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates