Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Minggu, 10 Agustus 2014

Tak Sekedar Bermimpi, Tapi Mulailah...

Rofiq Abidin
Tak Sekedar Bermimpi, Tapi Mulailah...
Oleh : Rofiq Abidin


Seorang anak pernah bertanya kepada saya, “Kenapa kita harus punya cita-cita?”. Dengan tersenyum ringan saya mencoba menjawab penasarannya dengan kembali bertanya, “Apakah kamu butuh makan?, “Iya” jawabnya spontan. Nah, kalau kita ingin makan, namun kita hanya diam, kira-kira kita bisa makan?, ucapku dengan asyik. Jika kita hidup tidak punya cita-cita, maka kita hanya akan kelaparan, tanpa bisa makan, lanjutku. Lalu apakah setelah punya keinginan besar, berhenti sampai disitu. Tentu tidak!. Kita harus memulai meraihnya, sama seperti kalau kita pengen makan, tidak mencoba membeli, tidak mencari atau tidak ikhtiar, maka kita hanya akan menahan lapar sampai menunggu ketidakpastian. Jadi, sebisanya lakukan sesuatu, pasti Allah akan mencukupkan hambaNya yang bertawakal. Oleh karena itu cita-cita bagi seorang manusia adalah sebuah kebutuhan untuk ekistensi hidupnya, karena hidup tanpa cita-cita hanya akan datar-datar saja. Ibarat memanah tidak ada sasaran yang jelas, ngawur tanpa arah. Nah kalau punya cita-cita, lalu kita melepas anak panah kepada sasaran, maka panah itu akan melesat tepat pada sasarannya. Walau mencapai cita-cita itu terkadang harus jatuh bangun, sebagaimana memanah, tanpa latihan dan pembiasaan yang intens, tidak akan tepat mengenai titik sasaran. Namun juga jangan hanya membidik, tanpa melepaskannya, bidiklah cita-cita itu lalu lepaskanlah anak panahnya. Hematnya, jangan hanya bermimpi, tapi mulailah meraihnya.

Kesungguhan menjadi faktor penting untuk dibukakannya jalan kemudahan. Karena kesungguhan yang menguatkan kita, jika tantangan semakin runcing menguji. Dan kesungguhan pula yang akan membuka tabir solusi serta menggugah keratifitas. Allah memberikan sinyal kesuksesan bagi hamba-hambaNya yang mau bersungguh-sungguh meraih mimpinya. Sebagaimana disampaikan melalu firmanNya berikut ini :
z`ƒÏ%©!$#ur (#rßyg»y_ $uZŠÏù öNåk¨]tƒÏöks]s9 $uZn=ç7ß 4 ¨bÎ)ur ©!$# yìyJs9 tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇÏÒÈ  
dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al Hujurat : 69)


Sangat jelas, bahwa kesungguhan merupakan faktor penting mencapai sebuah mimpi dan membuka jalan-jalan/solusi-solusi. Kesungguhan ini yang akan menjadi anti body saat terjangkiti penyakit hati. Dengan tetap beradan pada jalur perbuatan hasanah, niscahya mimpi ituakan menjadi nyata. Karena hidup itu nyata, jangan dijajah dengan keadaan, pun juga jangan dijajah dengan keinginan. Dengan cara tetap bersungguh-sungguh dan berikhtiar dengan cara-cara yang hasanah. Mimpi itu hanya akan menjadi halusinasi semata, jika tidak kita mulai membuat titik, lalu kita tarik garis pencapaiannya. Mari kita mulai apa saja yang menjadi keinginan besar kita, dengan melakukan apa saja yang mudah, yang dekat dan yang paling memungkinkan untuk kita lakukan, selanjutnya kesungguhan kita akan menuntun jalan-jalan kemudahan. 

Rabu, 06 Agustus 2014

Ippho Santoso

Rofiq Abidin
Catatan Ippho Santoso : 

Selagi itu baik, lakukan saja.
Walaupun keadaan tengah buruk.
Walaupun perkataan orang-orang juga buruk.
Siaaaaaaaap? :)
Bergegaslah, bukan tergesa-gesa.
Teman-teman sudah beraktivitas? :)
BUKAN dunia yang kejam.
Kitanya saja yang terlalu lambat!
Riiiiiiiiiiiight? :)
Kalau hati plong, maka rezeki juga plong... 
Yang percaya, ngacung yaaaaaaa...
Kadang, kita tidak ridha terhadap nikmat orang lain: curigaan, dengki & skeptis. Bagaiman mungkin Allah berikan nikmat tsb kpd kita?

Kalau orang lain beli ruko, buka usaha, pergi umrah, atau dapat beasiswa, hendaknya kita ridha. Kalau ridha, itu akan jadi doa bagi kita, untuk menyamainya. Percayaaaa? :)
Kebanyakan orang, berleha-leha di masa muda, 
akhirnya bersusah-payah di masa tua...
Baiknya, gigihlah di masa muda, agar
hidupnya mudah di masa tua...
Siaaaaaaaaap? :)


Cinta ditolak, sedekah bertindak.

Siaaaaaaap? :D
Ngomong CINTA sampai mulut berbuih-buih, tapi nggak ngelamar-lamar, nah, berarti pendongeng tuh orang :D

Kalau memang sayang, kalau memang serius, yah ajak nikah. Hanya itu ciri pria yang serius: ngajak nikah !!!
Setujuuuuuuu?
Ilmu itu laksana cahaya. 
Akan sulit diterima oleh orang yang menutup hati
& mengunci hati.
Apa pendapat teman-teman tentang ILMU ?
Ketika kita sedang susah, Allah akan meringankan kesusahan kita & menurunkan bantuan-Nya melalui orang lain...
Nah, itu lazim terjadi pada mereka yg gemar bersedekah & membantu orang lain...
Yakiiiiiiiiiiin? :)
Amatlah sulit utk BERKAH prosesi pernikahan-nya, 
kalau kita riya, boros & lebih mengutamakan adat daripada agama... Nikah itu disederhanakan, disegerakan. SETUJUUU?
NIKAH itu nggak mahal. Yang mahal itu gengsi: Sewa gedung, katering, undangan, souvenir, dll. Hati-hati, potensi riya...
Disebut riya KETIKA memilih gedung dll, karena alasan 'nggak mau kalah dengan yg lain' & 'supaya dibilang gimana gitu'... Sederhana sajalah. Siaaaaaap?
Yang lain terlena, anda sdh bergerak... 
Yang lain bergerak, anda sdh berlari...
Yang lain berlari, anda sdh sukses !!!
Siaaaaaaaap?
Menjemput JODOH ?
Kuncinya: perbaiki diri, pantaskan diri.
Maka DIA akan mengirim orang yg baik
& pantas untuk kita... Aamiin...
“Sedekah dapat mengubah takdir yang mubram." 
(HR Abu Ya’la Alhambali, hadits no. 408)

Apa pendapat teman-teman tentang TAKDIR ?
“Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan kemarahan Allah & menolak ketentuan yang buruk.” (HR Turmudzi, no. 664)

Teman-teman pernah mengalami keajaiban sedekah?
Kalau belum mampu memberi, janganlah terbiasa meminta.
Kalau belum mampu mencintai, janganlah terbiasa membenci.

Memberi & mencintai itu menyehatkan. Percayaaaaaaa? :)
Bundaran HI itu simbolnya Jakarta... 
Jakarta itu simbolnya Indonesia...
Kalau banjir di sana, berarti ini teguran utk kita semua.
Apa pendapat teman-teman? :)
Kemapanan finansial memang indah, namun perjalanan menuju ke sana, belum tentu indah...
Untuk mapan & bebas finansial, kita perlu berdoa, berusaha & belajar LEBIH KERAS ketimbang orang rata-rata...
Siaaaaaaaap?
Nikah saja.
Nggak pake pacaran.
Justru lbh mudah & berkah.
Setujukaaah? :)
Sepenting-pentingnya uang, tetap saja uang itu nomor sekian. Yang pertama & yang paling utama adalah keyakinan yang bersandarkan kepada-Nya.
Riiiiiiiiiiiiiiiight? :)
Mereka yg merasa urgent dgn impiannya, 
tentulah TIDAK beralasan & TIDAK bermalas-malasan.
Yang setuju, ngacung tinggi-tinggi yaaaaaaa....
Yang niatnya cari pacar akan dipertemukan dengan orang yang niatnya sama :)
Yang niatnya cari istri akan dipertemukan dengan orang yang niatnya sama. So, benerin dulu niatnya :)
Siaaaaaaaap?
Boleh-boleh saja kita ingin ABC. 
Tapi kadang Allah memutuskan XYZ.
Untuk itulah, kita perlu tawakal & berbaiksangka.
Sepakaaaaaaat? :)
Kekayaan yg dilandasi dg pembelajaran, akan lebih langgeng. 
Kalaupun kekayan itu hilang, dapat diperoleh kembali.
Karena telah dipelajari cara-caranya.
Riiiiiiiight? :)
Orang-orang besar menempuh jalan yang sarat dengan rintangan dan kesukaran yang besar. 
Justru itulah yang membuatnya besar.
Apa pendapat teman-teman? :)
Masak kalah dengan hujan? :D
Sang pemenang selalu mencari cara & solusi.
Sang pecundang mencari-cari alasan.
Dalam beraktivitas, tetap semangat yaaa teman-teman
Diberi hadiah, itu menyenangkan.
Memberi hadiah? Mestinya lebih menyenangkan.
Bersedekah? Sangaaaaat menyenangkan!
Apa pendapat teman-teman?
Diperlukan pengorbanan untuk menuju puncak. 
Makanya hanya segelintir orang yang sampai di puncak.
Itulah Sang Pemenang...
Teman-teman siaaaaaap jadi Sang Pemenang? :)
Kalau kita pikir uang sebagai solusi utama, 
maka jangan heran kalau
Allah berlepas-tangan dari kita.
Hati-hati!

Apa pendapat teman-teman? :)
Kaya? Syukur... Miskin? Sabar...
Dua-duanya baik. Namun yang kami anjurkan adalah
si kaya yang bersyukur dan bersabar...
Sepakaaaaaaat? :)

Pengorbanan Ayah untuk Anak

Rofiq Abidin

Nikmati apa yang diberikan Allah, Syukuri keluarga yang ada...karena dibalik kekurangan pasti ada kelebihan. Jangan sia-siakan pengorbanan orang tua, buatlah bangga menjadi anaknya...semoga.

Selasa, 05 Agustus 2014

Memaafkan

Rofiq Abidin
Maafkan Saja!
Oleh : Rofiq Abidin

Satu kata ajaib yang bernama “maaf” ini merupakan kata pendamai, pelebur dendam, benci dan dengki. Namun tidak semua orang bisa mengucapkan dan menerima kata yang satu ini. Itu karena seseorang sedang dikuasai amarah dan kekecewaan yang dalam. Padahal kemarahan yang muncul karena tekanan dari dalam itu bisa menimbulkan effek besar bagi kelangsungan khidupan selanjutnya. Nafs Amarah yang merajai seseorang bisa memunculkan banyak sifat-sifat negatif, mulai dari kedengkian, kesombongan dan bahkan kepada hal-hal anarkisme. Kekerasan verbal yang berupa celaan, hinaan dan bahkan hardikan akan berujung kepada kekerasan fisik, jika tidak diimbangi sikap memaafkan. Baik memaafkan orang lain, maupun memaafkan dirinya sendiri atas amarahnya. Kita terkadang memang dipusingkan oleh sikap orang lain yang tidak sehati dengan kita, tidak suka dengan sikap kita atau bahkan ia mencelakai kita. Ini dapat mengganggu konsentrasi pencapaian tujuan kita, sehingga menjadi lubang-lubang dalam yang bisa menjatuhkan kita pada kebencian dan dendam. Untuk menghilangkan benci dan dendam itu hanya dengan memaafkannya, ya memaafkan atas kesalahan, kesengajaan ataupun ketidak sengajaan orang lain, ini menjadi obat penawar semua kebencian dan dendam. Memaafkan dengan tulus tak semudah mengucapkan “kata maaf”, memaafkan lebih berat dari pada meminta maaf. Maka jika kita telah menyadari kesalahan, bersegeralah minta maaf, karena itu lebih ringan dari pada memaafkan. Pada dasarnya tak ada manusia yang tak pernah berbuat salah dan tak ada manusia yang selalu benar. Jangan merasa paling suci dengan mengumbar kemarahan dan gengsi untuk memaafkan. Itu bukan penyelesaian yang baik. Maafkan saja!, anda akan lebih ringan dalam hidup dan anda akan lebih nyaman menjalani kehidupan. Biarkan saja orang dengki dengan anda karena penilaian salah tentang anda, semua akan dicatat dan dihitung oleh Allah dengan sedetail-detailnya, baik itu ghibah, fitnah atau bentuk nafs amarah lainnya. Catatan dan hitungan Allah itulah yang akan menjadikan Allah menertapkan takdirnya, jadi gak perlu kita capek-capek membalasnya, cukup Allah saja yang memberikan balasan. Kita hanya perlu memaafkannya agar ia kembali pada jalur keimanan dan meninggalkan hawa nafsunya dalam menilai sesuatu. Sehingga kita selamat, karena kita mengutamakan perdamian. Sekali lagi maafkan saja!, dan tunjukkan dengan kebaikan-kebaikan  dan prestasi hidup. Sehingga orang yang mendengki anda makin sadar bahwa hidupnya tidak seputar benci, dendam dan dengki. Dan anda akan makin indah menikmati hidup ini, karena memang hidup untuk dinikmati kan?.

Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. (Asy Syuura : 37)

Senin, 07 April 2014

Pemimpin

Rofiq Abidin


Pemimpin atau Pemimpi ?


وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِنَ لَمَّا صَبَرُوْا وَكَا نُوْ بِأَ يَتِنَا يُقِنُوْنَ (ألسجداه : 24)

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
(QS. As Sajdah : 24)

Semua orang punya impian bagaimana menjadi dan memiliki pemimpin ideal. Banyak spekulasi diantara kita bahwa pemimpin ideal itu pemimpin yang adil dalam memutuskan suatu masalah, bijak mengambil solusi dan mampu mensejahterakan ummat/rakyatnya. Atau mungkin anda memiliki impian sendiri, wajar-wajar saja bukan!. Benarkah  kepemimpinan begitu berpengaruh kepada kesejahteraan kita?. Boleh jadi ada yang berseloroh, “bukankah kita sendiri sedang berjuang mensejahterakan diri sendiri, tanpa bantuan kepemimpinan bisa sejahtera”. Setidaknya itu mewakili para agniya’ (orang kaya) yang merasa mendapatkan kekayaan tanpa campur tangan pemerintah. Tidak sedikit diantara calon pemimpin itu yang menjanjikan mimpi-mimpi indah agar dipilih menjadi pemimpin suatu kaum atau komunitas. Dalam islam banyak tauladan kepemimpinan, yang jelas kita semua tahu bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin ideal dengan bekal empat sifat (sidiq, amanah, tablig dan fatonah) mampu menjadi pemimpin impian di dunia. Itu karena berbagai prestise  yang dicapainya, baik pretasi di dunia yang mengangumkan dan pretasi ibadah yang menjadikan semua makhluk Allah hormat kepadanya. Masih banyak lagi contoh pemimpin islam yang dicintai ummatnya, sebut saja Umar bin Khatab yang sangat memperhatikan ummatnya, Umar bin Abdul Azis yang dapat memberikan kesejahteraan kepada kaumnya dan tentu masih banyak lagi yang lainnya. Baiklah, mari kita coba belajar mengurai perbedaan pemimpin dan pemimpi agar kita bisa lebih bijak dalam memimpin, terutama memimpin diri sendiri.
1.      Pemimpin itu visioner, bukan apa adanya dan omong kosong
Menanamkan visi menjadi hal yang sangat penting dan fundamental, jika seseorang menjadi pemimpin. Seseorang yang memimpin tanpa visi yang jelas, dapat menibulkan skeptisme terhadap kepemimpinannya itu sendiri. Jika seseorang dibawa kepada visi yang jelas, maka secara otomatis semangat dan motivasi para pengikutnya berkobar dengan sendirinya. Visioner memang butuh mimpi besar, namun tertukur. Bukan omong besar yang tidak melakukan apa-apa dengan omong besarnya itu. Visi sangat beda dengan omong besar, ini dibedakan dari niatnya. Jika orang visioner itu niatnya baik untuk masa depan, namun orang yang hanya ngomong besar, niatnya hanya membesarkan dirinya, kekakuaannya melebihi dari kepentingan rakyatnya/bawahannya. Orang visioner mampu menjabarkan idealismenya dengan baik, namun pemimpi ketetaran saat diminta bagaimana pelaksaaan idenya. Pemimpin visioner membayangkan kesejahteraan rakyatnya, pemimpi hanyalah membayangkan kesejahteraan pribadinya. Jadi jelas pemimpin dan pemimpi itu bedanya pada niat, yang akan memperngaruhi kiprah selanjutnya.
2.      Pemimpin itu melayani, bukan berlagak jadi bos
Tidak sedikit mungkin kita lihat banyak bos-bos kecil dalam sebuah sturktur kepemimpinan dan keorganisasian. Dengan kementerengan jabatannya, orang meminta dihormati dari yang lainnya. Namun, tahukah anda bahwa seorang pemimpin islam itu senantiasa bisa menempatkan dirinya pada porsinya. Ia tidak gila hormat, ia lebih suka melayani ummatnya. Seorang pemimpin besar itu lebih suka membantu ummatnya, dari pada harus menyusahkannya untuk melayaninya. Kebiasaan orang yang omong besar, suka menyuruh orang lain, padahal dirinya bisa melakukannya sendiri dengan mudah, selalu pengen dilayani orang lain, karena ia tidak bisa memimpin dirinya untuk berbuat lebih dari sekedar menyuruh orang. Pemimpi lebih sering marah-marah saat berbuat, karena bukan dari ketulusan hatinya saat melakukannya, namun pemimpin lebih tulus memberikan tauladan kebaikan demi mencapai visinya.
3.      Pemimpin itu banyak berbuat, bukan NATO (No Action Talk Only)
Hanya bisa ngomong, sangat tidak cukup untuk menjadi pemimpin. Ia mesti cakap menata omongannya. Pada era modern ini manusia lebih kritis dalam menilai sesuatu. Oleh karena itu, pemimpin itu mesti memberi tauladan di depan rakyatnya, bukan mengumbar janji-janji palsu. Banyak orang omong besar tanpa karya, ia hanya mengejar jabatan, bukan peran. Itulah pemimpi yang pandai cari muka, perbuatannya hanya ABS (Asal Bos Senang). Ia sangat pandai mencuri ide, lalu men-just negatif yang punya ide. Pemimpi lebih sibuk menghasut orang, dari pada melakukan perubahan lebih berarti. Karena ia menginkan sesuatu instan, bukan proses wajar. Namun pemimpin lebih senang berbuat untuk kemajuan, karena ia tahu bahwa kempemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban (kullukum ra’in wakullukum mas’ulin anro’iyyatihi).
4.      Pemimpin itu pandai memberdayakan, bukan memaksakan kehendak
Kepiawaian seseorang memberdayakan sumber daya yang ada menjadi hal mutlak untuk menjadi pemimpin. Mampu menangkap setiap jengkal potensi, bukan membiarkan berjalan yang bukan pada jalurnya. Pemimpin itu pandai mengekplorasi potensi dan tahu saatnya apa yang diberdayakan sudah tidak lagi berdaya. Sehingga ia lebih bijak memberdayakan kekuatan dan ia sangat menghindari pemaksaan kehendak, karena ia tahu pemaksaan kehendak itu sudah ditunggangi oleh ego dan keputusasaan mencari jalan keluar. Pembedayaan kekuatan adalah inti dari kepemimpinan, karena memimpin berarti bisa mempengaruhi orang lain untuk mencapai visi yang dibangun, mencapai kesepakatan yang telah ditetapkan.
5.      Pemimpin itu memberi petunjuk (ilmu), bukan membodohi
Sebaik baik cara menasehati adalah dengan transformasi ilmu dan keteladanan, itu pandapat saya. Karena dengan kejelasan ilmu, orang akan dapat memilih mana yang terbaik untuk dirinya. Seorang pemimpin lebih senang memberi petunjuk, dari pada menunjuk (menyuruh) tanpa ilmu. Seorang pemimpin senang berbicara berdasarkan ilmu, bukan emosional. Tidak mengumbar kemarahan dan tidak menipu. Karena ia tahu bahwa dengan memberi petunjuk (ilmu) memudahkan ia dalam memimpin dan mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan selanjutnya. Namun pemimpi lebih sering membodohi bawahannya untuk mencapai apa yang dia inginkan, karena ia tidak sabar menjelaskan keilmuannya. Ia lebih suka menyalahkan sebelum merasa sudah berbuat apa dengan ketidakberesan itu.
6.      Pemimpin itu sabar menasehati, bukan kaku memerintah
Tidak ada manusia satupun yang mampu memuaskan semua manusia. Pasti ada saja perbuatan atau pekerjaan yang tidak berkenan dihati orang lain. Untuk itulah diperlukan perlakuan pemimpin yang sabar. Karena pemimpin yang sabar tahu bahwa dirinya juga jauh dari kesempurnaan. Pemimpin itu bukan manusia sempurna yang suci dari kesalahan, jadi jangan sok suci jadi pemimpin, sok baik dan sok-sok lainnya yang dapat menjerumuskan kedalam jurang keangkuhannya. Lebih baik sabar dalam memerintah dan ikhlash dalam menjalani amanah. Maafkan saja kesalahan orang dengan ikhlash dan cara yang bijak. Itu lebih baik, karena kepemimpinan itu butuh dukungan semua jajarannya untuk melanjutkan pencapaian visinya.

Apa saja yang kita bisa, akan terus berkembang jika kita berdayakan. Apasaja yang kita tahu akan terus berkembang jika kita mau tahu. Apasaja yang kita punya, akan terus bertambah jika kita mau bersyukur. Apasaja bisa berubah, jika kita mau. Karena Allah mau mengubah, jika hambaNya mau berubah. Harapan penulis, semoga kita dapat memimpin diri kita dengan baik dan memimpin apa yang kita pimpin dengan amanah dan dapat menjadi pembanding untuk evaluasi, apakah kita telah berbuat sebagaimana pemimpin atau sekedar bermimpi tanpa visi. Untuk mari kita menancapkan visi dalam memimpin, agar kita mampu memberdayakan segala sumber daya yang ada dengan optimal dan proporsional. Wallahua’lam. 

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates