KITA SEMUA
BERHAK UNTUK BAHAGIA
Oleh :
Rofiq Abidin
Semua manusia pasti menginginkan kebahagiaan. Kita
berdo’a setiap hari agar diberikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Tak
terkecuali yang sedang galau, “saat pikiran kacau jangan berkicau, nanti tambah
galau”. Saat pikiran sedang tidak karuan mungkin banyak diantara kita yang
mencari pelarian berkicau, maksudnya ngomong ngalor ngidul gak karuan
jluntrungannya sehingga menularkan keresahan. Kita semua berhak bahagia, tapi
jangan sampai pelarian galau kita mengusik kebahagiaan orang lain, apalagi saudara.
Mari kita coba memaknakan kebahagiaan dengan sebenarnya. Kebahagiaan yang kita
panjatkan kepada Allah setiap hari itu adalah kebahagiaan yang bersifat positif
dan membawa dampak kepada hal yang positif, karena banyak yang mengatasnamakan
kebahagiaan tapi actionnya negatif. Contohnya saja, “nikmati masa mudamu dengan
senang-senang”, sepintas tidak ada yang salah dengan opini ini. Tapi jika
“senang-senang” dipraktekkan dengan kemaksiatan itu bukan lagi kebahagiaan.
Justru itu akan membawanya keluar dari jalur kebahagiaan itu sendiri. Kebahagiaan
tidak bisa diatasnamakan begitu saja dengan kepuasan, lantaran kita memaklumkan
kesalahan, lebih-lebih lagi pelarian kesalahannya menular buruk kepada orang
lain. Senang itu beda dengan kesenangan, senang adalah perasaan, kesenangan
adalah fasilitas/sesuatu yang bisa menjadikan kita senang. Perasaan senang yang
kita wakilkan sebagai kebahagiaan mesti bersifat positif dalam menikmati
kesenangan. Kelapangan rezeki kita katakan sebagai kebahagiaan, kesehatan
optimal juga membahagiakan dan keharmonisan keluarga pun memberi rasa bahagia. Semua
manusia berhak bahagia dengan segala keadaan dan kesenangan yang ia peroleh.
Semua manusia bisa bahagia dengan anugerah yang diberikan Allah, sekecil apapun
itu. Jalannya adalah tawakal, coba kita renungi sejenak pesan Allah berikut ini
:
“Dan memberinya rezki dari arah
yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah
niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan
urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan
bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath Thalaaq : 3)
Ingat bahwa rezeki tidak hanya berbentuk materi, namun
kesehatan dan keharmonisan keluarga juga rezeki. Jangan mendapatkan rezeki
dengan cara yang tidak toyib dan tidak halal. Jangan juga merampas rezeki orang
lain, merampas kesehatan orang lain, merampok keharmonisan keluarga orang lain
itu juga tidak toyyib. Maka apapun keadaannya tawakal adalah jalan utama meraih
kebahagiaan. Jika kita sedang lemah, galau atau bahkan merasa tidak berdaya, itu
hanya perasaan, karena kegalauan dan ketidakberdayaan tak boleh menghambat kita
untuk bahagia. Kita berhak bahagia. Kita lahir berikut keunggulan, keunikan dan
potensi yang diangerahkan oleh Allah kepada kita. Jika kita mau menggali dan
memberdayakannya, maka bahagia yang kita panjatkan setiap hari, bukan hanya
menjadi do’a, tapi senantiasa mengiringi perjalanan hidup kita dan
terpenetrasikan kepada lingkungan sekitar kita. Untuk menjaga segenap tawakal
kita, maka teruslah bersyukur. Karena
bentuk syukur pada dasarnya juga membahagiakan orang lain, menyenangkan orang
lain dan memberikan kesempatan orang lain untuk mengambil haknya, ialah
bahagia!













