Hard
Work and Smart Work
Oleh : Rofiq Abidin
Katakanlah
: “Hai Kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku aka bekerja
(pula), maka kelak kamu akan mengetahui (QS Az Zumar : 39)
Untuk
sukses membutuhkan sebuah kerja keras (hard
work), namun dewasa ini muncul gagasan tentang smart work (kerja cerdas). Ide ini digaungan oleh eksekutif muda,
pebisnis dan para motivator, sehingga ide ini mengemuka, bak bola es yang
menggelinding. Namun tahukah kita, jika tujuan akhir kerja cerdas adalah cepat,
efektif dan efesien, maka pada zaman Nabi Sulaiman Alaihis Salam, telahpun
dilakukan oleh para pengikutnya. Sebut saja ada ifrid, salah satu pengikut Sulaiman yang menyatakan sanggup
memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum Raja Sulaiman berdiri dari duduknya,
namun masih ada yang lebih cepat dari itu, yakni membawa singgasana Ratu Balqis
sebelum mata berkedip, ia adalah ilmuwan yang telah banyak mengetahui Al Kitab.
Sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an Surat An Naml : 39-40. Dengan demikian, praktek
pada masa modern ini kerja cerdas yang digagas tak akan lepas dari peran
ilmuwan-ilmuwan. Dan apakah kita sebagai ummat islam “ngeh” dengan ayat ini, betapa
kita harus membangun generasi-generasi yang ilmiah, sebagaimana sulaiman dengan
semua pengikutnya telah pernah membangun peradaban besar. Dan apa justru
sebaliknya, kita banyak menghabiskan waktu memperbincangkan hal-hal mistis,
mulai dari batu akik, pesugihan dan lain sebagainya. Yang justru menjerumuskan
kepada kemusrikan.
Eh
maaf, kita kembali kepada kerja cerdas dan kerja keras. Sesungguhnya tidak ada
orang yang tiba-tiba bisa melakukan konsep kerja cerdas, sebelum menempuh kerja
keras. Pastilah pengalaman-pengalaman kerja kerasnya, jatuh bangunnya membangun
usaha akan memberikan pelajaran berharga. Sehingga munculah ide besar untuk
meniti kerja cerdas. Malcolm Gladwell dalam bukunya “The
Outliers” menerangkan teori 10 ribu jam, dimana sesorang akan menjadi ahli
dalam suatu bidang setelah melakukan/mempelajari hal yang sama dalam 10 ribu jam.
Penelitian yang dilakukannya tidak main-main karena salah satu objek
penelitiannya adalah group band terkemuka The
Beatles, pasti kita tahu grup band legendaris ini, yang telah menciptakan
puluhan lagu yang dikenal oleh seluruh dunia. Teori ini sampai sekarang banyak
digunakan sekolah maupun motivator untuk menunjukan perlunya seseorang untuk
fokus dan kerja keras dalam melakukan suatu hal. Dalam islam teori kerja
apapun, harus memperhatikan kehalalan dan ketoyyibannya. Jangan sampai berdalih
kerja cerdas, namun meninggalkan prinsip halalan
toyyibah. Ini keliru, karena pada akhirnya kerja mukmin apapun bentuknya
kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wat’ala.
Smart
Work Prinsiple
Semua hasil tidak ada yang ujuk-ujuk, semua
hasil menempuh proses yang volume pencapaiannya beragam. Semua butuh proses, janganlah
mengabaikannya. Karena pengabaian proses adalah bentuk kemalasan berfikir dan
bertindak. Prinsip dari smart work
ada 3. Yang pertama adalah menetapkan mind
set, ini penting untuk menancapkan komitmen dan mengokohan visi. Pola pikir
maju seseoranglah yang akan mengantarkan menemukan gagasan besar, yang berujung
pada tercukilnya konsep kerja cerdas. Tentu pola pikirlah yang akan terus
membangun, mengasah dan memecut kemalasan jiwanya. Sehingga tak kenal menyerah
dan tak kenal lelah, sampai menemukan inovasi dan sikap inovatif, yang secara
tidak sadar orang akan berkata bahwa “ini namanya kerja cerdas”. Jelas bahwa mind set yang terbangun dan terjaga
dengan baik, akan sangat berpengaruh pada prilaku kerja, dedikasi dan
profesionalisme. Namun orang yang pola pikirnya cenderung mundur, justru hanya
akan terjebak dalam ruang rutinitas. Tanpa menghitung untung rugi waktu dan
tenaganya. Jadi untuk membedakan orang yang ber-mind set masa depan dan ber-mind
set tidak jelas adalah pada bagaimana ia menghargai waktu dan dedikasinya
pada pekerjaanya.
Prinsip
kerja cerdas yang kedua, adalah optimalisasi potensi diri. Lebih baik menekuni apa yang menjadi potensi pada diri,
dari pada ingin seperti orang lain tapi justru menjauhkan pada ketidaknyamanan
bekerja. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki passion sendiri-sendiri. Pekerjaan
yang kita sukai dan menimbulkan kepuasan tersendiri serta cepat pengusaaannya,
inilah tanda-tanda dari passion kita.
Dalam ayat di atas kita diperintahkan untuk bekerja sesuai makanah (keadaan). Sehingga potensi apa yang ada pada diri kita, ya
itu jalan yang bisa menjadikan kita sukses. Nah, dari sinilah kita akan mudah
mengoptimalisasikan kemampuan, yang menunjang pada konsep kerja cerdas. Dan
memang begitulah konsep kerja cerdas itu akan ditemukan. Tidak dengan
sendirinya muncul, sebagaimana ilmuwan (orang alim) pada zaman Nabi Sulaiman
telah mempraktekkan Al Kitab. Hematnya, ada proses pembelajaran. Yang pada masa
kini kita kenal adanya proses pelatihan.
Dengan demikian, ketahui potensi diri, lalu optimalisasikan dengan penuh
ketekunan.
Prinsip
yang ketiga adalah Tawakal. Untuk menjaga mind set yang baik dan keteguhan
pendayagunaan potensi diri adalah dengan prinsip tawakal. Sebuah prinsip penyerahan
diri kepada Allah atas apa saja yang sedang dipikirkan dan diupayakan. Sehingga
Allah senantiasa membimbing pikiran dan langkah kita. Dan inilah bentuk spiritual question yang prinsipnya tak
terbantahkan oleh manusia-manusia yang meyakini adanya Tuhan. Eksistensi
tawakal dapat terlihat pada gagasan briliannya yang orisinil dan senantiasa
melandaskan dengan prinsip-prinsip ajaran ilahi. Pun juga dari langkahnya yang
senantiasa tidak meninggalkan do’a dan memperhatikan kehalalan dan
ketoyyibannya. Hematnya ia senantiasa melibatkan Alllah dalam setiap
pekerjaanya. Hingga dirasakan bahwa konsep kerja cerdas itu tidak luput dari
bimbingan Allah yang maha menolong dan maha berilmu. Ketawakalan kepada
Allahlah yang akan menjadikan kerja cerdas itu makin terasa bermanfaat dan
terus menuntunnya kepada jalan-jalan kebaikan. Boleh jadi jalan-jalan sodaqoh
itulah yang menjadikan Allah segera menghembuskan ide kedalam pikiran sehatnya.
Karena saking seringnya ia merintihkan pertolongan kepadaNya. Baik melalui
ungkapan hatinya, lisannya dan lebih-lebih lagi melalui amalannya.
Semua
kesuksesan membutuhkan kerja keras dan semua kerja keras akan memunculkan kerja
cerdas. Hingga telah jelas bahwa kerja cerdas tidak akan ada jika tidak mau
bekerja keras. Ingat jangan mengkonotasikan kerja keras dari hal fisik saja,
namun orang yang mengoptimalkan hati dan akal pikirannya pun juga bisa
dikatakan kerja keras. Hanya saja setelah menemukan konsep kerja cerdas speed-nya akan lebih bisa dirasakan
secara langsung. So, let’s to smart work !











0 komentar:
Posting Komentar