Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Selasa, 20 September 2016

kerja cerdas

Rofiq Abidin


Hard Work and Smart Work
Oleh : Rofiq Abidin



Katakanlah : “Hai Kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku aka bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui (QS Az Zumar : 39)

Untuk sukses membutuhkan sebuah kerja keras (hard work), namun dewasa ini muncul gagasan tentang smart work (kerja cerdas). Ide ini digaungan oleh eksekutif muda, pebisnis dan para motivator, sehingga ide ini mengemuka, bak bola es yang menggelinding. Namun tahukah kita, jika tujuan akhir kerja cerdas adalah cepat, efektif dan efesien, maka pada zaman Nabi Sulaiman Alaihis Salam, telahpun dilakukan oleh para pengikutnya. Sebut saja ada ifrid, salah satu pengikut Sulaiman yang menyatakan sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum Raja Sulaiman berdiri dari duduknya, namun masih ada yang lebih cepat dari itu, yakni membawa singgasana Ratu Balqis sebelum mata berkedip, ia adalah ilmuwan yang telah banyak mengetahui Al Kitab. Sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an Surat An Naml : 39-40. Dengan demikian, praktek pada masa modern ini kerja cerdas yang digagas tak akan lepas dari peran ilmuwan-ilmuwan. Dan apakah kita sebagai ummat islam “ngeh”  dengan ayat ini, betapa kita harus membangun generasi-generasi yang ilmiah, sebagaimana sulaiman dengan semua pengikutnya telah pernah membangun peradaban besar. Dan apa justru sebaliknya, kita banyak menghabiskan waktu memperbincangkan hal-hal mistis, mulai dari batu akik, pesugihan dan lain sebagainya. Yang justru menjerumuskan kepada kemusrikan.

Eh maaf, kita kembali kepada kerja cerdas dan kerja keras. Sesungguhnya tidak ada orang yang tiba-tiba bisa melakukan konsep kerja cerdas, sebelum menempuh kerja keras. Pastilah pengalaman-pengalaman kerja kerasnya, jatuh bangunnya membangun usaha akan memberikan pelajaran berharga. Sehingga munculah ide besar untuk meniti kerja cerdas. Malcolm Gladwell dalam bukunya “The Outliers” menerangkan teori 10 ribu jam, dimana sesorang akan menjadi ahli dalam suatu bidang setelah melakukan/mempelajari hal yang sama dalam 10 ribu jam. Penelitian yang dilakukannya tidak main-main karena salah satu objek penelitiannya adalah group band terkemuka The Beatles, pasti kita tahu grup band legendaris ini, yang telah menciptakan puluhan lagu yang dikenal oleh seluruh dunia. Teori ini sampai sekarang banyak digunakan sekolah maupun motivator untuk menunjukan perlunya seseorang untuk fokus dan kerja keras dalam melakukan suatu hal. Dalam islam teori kerja apapun, harus memperhatikan kehalalan dan ketoyyibannya. Jangan sampai berdalih kerja cerdas, namun meninggalkan prinsip halalan toyyibah. Ini keliru, karena pada akhirnya kerja mukmin apapun bentuknya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wat’ala. 

Smart Work Prinsiple
Semua hasil tidak ada yang ujuk-ujuk, semua hasil menempuh proses yang volume pencapaiannya beragam. Semua butuh proses, janganlah mengabaikannya. Karena pengabaian proses adalah bentuk kemalasan berfikir dan bertindak. Prinsip dari smart work ada 3. Yang pertama adalah menetapkan mind set, ini penting untuk menancapkan komitmen dan mengokohan visi. Pola pikir maju seseoranglah yang akan mengantarkan menemukan gagasan besar, yang berujung pada tercukilnya konsep kerja cerdas. Tentu pola pikirlah yang akan terus membangun, mengasah dan memecut kemalasan jiwanya. Sehingga tak kenal menyerah dan tak kenal lelah, sampai menemukan inovasi dan sikap inovatif, yang secara tidak sadar orang akan berkata bahwa “ini namanya kerja cerdas”. Jelas bahwa mind set yang terbangun dan terjaga dengan baik, akan sangat berpengaruh pada prilaku kerja, dedikasi dan profesionalisme. Namun orang yang pola pikirnya cenderung mundur, justru hanya akan terjebak dalam ruang rutinitas. Tanpa menghitung untung rugi waktu dan tenaganya. Jadi untuk membedakan orang yang ber-mind set masa depan dan ber-mind set tidak jelas adalah pada bagaimana ia menghargai waktu dan dedikasinya pada pekerjaanya.

Prinsip kerja cerdas yang kedua, adalah optimalisasi potensi diri. Lebih baik  menekuni apa yang menjadi potensi pada diri, dari pada ingin seperti orang lain tapi justru menjauhkan pada ketidaknyamanan bekerja. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki passion  sendiri-sendiri. Pekerjaan yang kita sukai dan menimbulkan kepuasan tersendiri serta cepat pengusaaannya, inilah tanda-tanda dari passion kita. Dalam ayat di atas kita diperintahkan untuk bekerja sesuai makanah (keadaan). Sehingga potensi apa yang ada pada diri kita, ya itu jalan yang bisa menjadikan kita sukses. Nah, dari sinilah kita akan mudah mengoptimalisasikan kemampuan, yang menunjang pada konsep kerja cerdas. Dan memang begitulah konsep kerja cerdas itu akan ditemukan. Tidak dengan sendirinya muncul, sebagaimana ilmuwan (orang alim) pada zaman Nabi Sulaiman telah mempraktekkan Al Kitab. Hematnya, ada proses pembelajaran. Yang pada masa kini kita kenal adanya proses pelatihan.  Dengan demikian, ketahui potensi diri, lalu optimalisasikan dengan penuh ketekunan.

Prinsip yang ketiga adalah Tawakal. Untuk menjaga mind set yang baik dan keteguhan pendayagunaan potensi diri adalah dengan prinsip tawakal. Sebuah prinsip penyerahan diri kepada Allah atas apa saja yang sedang dipikirkan dan diupayakan. Sehingga Allah senantiasa membimbing pikiran dan langkah kita. Dan inilah bentuk spiritual question yang prinsipnya tak terbantahkan oleh manusia-manusia yang meyakini adanya Tuhan. Eksistensi tawakal dapat terlihat pada gagasan briliannya yang orisinil dan senantiasa melandaskan dengan prinsip-prinsip ajaran ilahi. Pun juga dari langkahnya yang senantiasa tidak meninggalkan do’a dan memperhatikan kehalalan dan ketoyyibannya. Hematnya ia senantiasa melibatkan Alllah dalam setiap pekerjaanya. Hingga dirasakan bahwa konsep kerja cerdas itu tidak luput dari bimbingan Allah yang maha menolong dan maha berilmu. Ketawakalan kepada Allahlah yang akan menjadikan kerja cerdas itu makin terasa bermanfaat dan terus menuntunnya kepada jalan-jalan kebaikan. Boleh jadi jalan-jalan sodaqoh itulah yang menjadikan Allah segera menghembuskan ide kedalam pikiran sehatnya. Karena saking seringnya ia merintihkan pertolongan kepadaNya. Baik melalui ungkapan hatinya, lisannya dan lebih-lebih lagi melalui amalannya.

Semua kesuksesan membutuhkan kerja keras dan semua kerja keras akan memunculkan kerja cerdas. Hingga telah jelas bahwa kerja cerdas tidak akan ada jika tidak mau bekerja keras. Ingat jangan mengkonotasikan kerja keras dari hal fisik saja, namun orang yang mengoptimalkan hati dan akal pikirannya pun juga bisa dikatakan kerja keras. Hanya saja setelah menemukan konsep kerja cerdas speed-nya akan lebih bisa dirasakan secara langsung. So, let’s to smart work !

Mending mana ?

Rofiq Abidin


Mendingan Mana ?
Oleh : Rofiq Abidin



Mending mana kafir amanah atau muslim koruptor ?. Mending mana pakai jilbab, tapi maksiat atau tidak berjilbab tapi menjaga kehormatan?. Pertanyaan yang sekaligus pernyataan terus menggelinding seiring kegamangan umat islam terhadap kenyataan dilingkungan. Seolah lupa punya petunjuk dasyat, Al Qur’an. Ditambah lagi isu terorisme yang membawa kepada kepanikan langkah dan menurunkan kepercayaan diri karena muslim. Inilah kenyataanya, bukan untuk dihindari tapi dihadapi dengan pemahaman ilmu yang benar dan dalam. Pemikiran-pemikiran berbau propaganda di atas, apabila kita tidak bijak, menjadikan kita makin jauh dari islam itu sendiri. Ingat janji iblis akan menggoda semua hamba Allah sampai manusia menganngap baik perbuatan maksiat. Semua manusia di goda, baik yang sudah membiasakan syariat Allah dan sunnah nabiNya, maupun yang enggan menggunakan syariat Allah dan sunnnah nabinNya. Baik yang belum menemukan hidayah, maupun sudah. Apa kaitannya ?. Kaitannya jelas, pemikiran-pemikiran yang dilempar melalui peryataan di atas, akan membuat ummat islam ini bingung. Seolah-olah sudah tidak ada lagi ummat islam yang amanah dan tidak ada lagi muslim berjilbab yang menjaga kehormatannya. Maka terpojoklah ummat yang ingin tetap dalam kesolehannya dan ironisnya yang memojokkannya, ya boleh jadi ummat islam itu sendiri yang tidak berkenan syariat dan sunnah nabi ini tegak. 

Ingat, pemikiran “mendingan” yang tidak pada tempatnya, akan melalaikan dan meninakbobokkan ummat islam untuk berfikir ideal. Yakni, muslim yang amanah dan berhijab namun menjaga kehormatannya. Pemikiran yang sekuler itu melalaikan manusia hingga tak bisa membedakan yang buruk dan yang baik, yang katanya ngaku yakin bahwa Al Qur’an itu pembeda. Kita jangan terbawa arus, ini sangat tidak seimbang untuk dijadikan pilihan. Ini sangat meracuni ummat, ini juga akan menjadi pembenar bagi orang-orang yang tidak suka islam, sehingga menebarkan virus “ngapain berhijab, ngapain ngaji dan ngapain-ngapain yang dikonotasikan negatif lainnya, mendingan gak berhijab, mendingan gak usah ngaji, tapi prilakunya baik”. Terus, mendingan tidak korupsi walau kafir ?. Astagfirullah. Nah, ingatlah muslimin inilah nanti ujung-ujungnya. Hingga para iblis itu bersukaria atas kekafiran manusia. 

Senyatanya, hari ini kita ummat islam wajib membenahi diri. Membina generasi melalui pendidikan islami dan membangun persatuan ummat. Jangan putus asa terhadap upaya baik dan islami yang kita tempuh. Hingga suara ummat islam ini tidak terpecah. Sadarkah muslimin, bahwa kita sedang diadu domba oleh orang-orang yang tidak suka terhadap islam. Boleh jadi orang islam itu sendiri yang tidak paham sedang mengadu domba saudaranya sendiri. Wallahua’lam.

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates