Rabu, 02 November 2016
Rabu, 05 Oktober 2016
Selamat Menempuh Resolusi Baru
Selamat
Menempuh Resolusi Baru
Oleh :
Rofiq Abidin
Kawanku..
Satu langkah lagi..kita menapaki...
Satu langkah lagi..kita menapaki...
Dimensi
masa baru di depan kita
Dengan bekal resolusi yg kita tulis sendiri..
Dari hati terbersih, penglihatan terjernih dan pendengaran terjelas
Dengan bekal resolusi yg kita tulis sendiri..
Dari hati terbersih, penglihatan terjernih dan pendengaran terjelas
Sepertinya, baru saja kemarin..
Kita menjelajah obsesi hati..
Kita melewati ujian diri
Dan menempa diri dengan banyak tantangan..
Kawan..
Selamat menempuh resolusi baru..
Demi kehendak suci..
"Menjadi insan sholeh yang hakiki"
Ucap sesuai lelaku
Lelaku bersandarkan ilmu
Selalu ada niat menyempurnakan diri
Walau kata, lelaku tak kan mungkin sempurna..
Tapi sungguh..
Selamat menempuh resolusi baru..
Demi kehendak suci..
"Menjadi insan sholeh yang hakiki"
Ucap sesuai lelaku
Lelaku bersandarkan ilmu
Selalu ada niat menyempurnakan diri
Walau kata, lelaku tak kan mungkin sempurna..
Tapi sungguh..
kesholehan
hakiki itu adalah baik dan terus memperbaiki diri...
Kawan...
Berjiwa pemaaflah
Berjiwa pemaaflah
Basuhilah
hatimu yang keruh dengan sesamamu..
Karena
hanya akan membawa kepada kegamangan hati dan penghambat kemajuanmu..
Ridho Allah lebih menenangkan
Daripada pujian semua manusia..
Maklumilah, doakanlah dan maafkanlah..
Siapa saja yg mendengkimu..
Karena Rasulmu pun melakukan itu
Ridho Allah lebih menenangkan
Daripada pujian semua manusia..
Maklumilah, doakanlah dan maafkanlah..
Siapa saja yg mendengkimu..
Karena Rasulmu pun melakukan itu
Kawan,
Mari, utamakan persatuan..kukuhkan silaturohim..
Mari, utamakan persatuan..kukuhkan silaturohim..
Mari
bangun toleransi..
Karena muslim itu "satu tubuh"
yang saling menjaga dari gangguan lidah dan tangannya..
Yang saling membela, bukan saling mencela..
Yang saling menolong, bukan menjerumuskan sesama saudara..
Karena muslim itu "satu tubuh"
yang saling menjaga dari gangguan lidah dan tangannya..
Yang saling membela, bukan saling mencela..
Yang saling menolong, bukan menjerumuskan sesama saudara..
Kawanku..
Selamat menempuh resolusi baru..
Dengan obor semangat yang kau nyalakan..
Dengan sekuat hati yg taat kepada Allah yang kuasa
Dan dengan selembut ikhlas yang mewarnai segala amal sholeh kita..
Selamat menempuh resolusi baru..
Dengan obor semangat yang kau nyalakan..
Dengan sekuat hati yg taat kepada Allah yang kuasa
Dan dengan selembut ikhlas yang mewarnai segala amal sholeh kita..
Menuju
Ridho Allah semata..
Selasa, 20 September 2016
kerja cerdas
Hard
Work and Smart Work
Oleh : Rofiq Abidin
Katakanlah
: “Hai Kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku aka bekerja
(pula), maka kelak kamu akan mengetahui (QS Az Zumar : 39)
Untuk
sukses membutuhkan sebuah kerja keras (hard
work), namun dewasa ini muncul gagasan tentang smart work (kerja cerdas). Ide ini digaungan oleh eksekutif muda,
pebisnis dan para motivator, sehingga ide ini mengemuka, bak bola es yang
menggelinding. Namun tahukah kita, jika tujuan akhir kerja cerdas adalah cepat,
efektif dan efesien, maka pada zaman Nabi Sulaiman Alaihis Salam, telahpun
dilakukan oleh para pengikutnya. Sebut saja ada ifrid, salah satu pengikut Sulaiman yang menyatakan sanggup
memindahkan singgasana Ratu Balqis sebelum Raja Sulaiman berdiri dari duduknya,
namun masih ada yang lebih cepat dari itu, yakni membawa singgasana Ratu Balqis
sebelum mata berkedip, ia adalah ilmuwan yang telah banyak mengetahui Al Kitab.
Sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an Surat An Naml : 39-40. Dengan demikian, praktek
pada masa modern ini kerja cerdas yang digagas tak akan lepas dari peran
ilmuwan-ilmuwan. Dan apakah kita sebagai ummat islam “ngeh” dengan ayat ini, betapa
kita harus membangun generasi-generasi yang ilmiah, sebagaimana sulaiman dengan
semua pengikutnya telah pernah membangun peradaban besar. Dan apa justru
sebaliknya, kita banyak menghabiskan waktu memperbincangkan hal-hal mistis,
mulai dari batu akik, pesugihan dan lain sebagainya. Yang justru menjerumuskan
kepada kemusrikan.
Eh
maaf, kita kembali kepada kerja cerdas dan kerja keras. Sesungguhnya tidak ada
orang yang tiba-tiba bisa melakukan konsep kerja cerdas, sebelum menempuh kerja
keras. Pastilah pengalaman-pengalaman kerja kerasnya, jatuh bangunnya membangun
usaha akan memberikan pelajaran berharga. Sehingga munculah ide besar untuk
meniti kerja cerdas. Malcolm Gladwell dalam bukunya “The
Outliers” menerangkan teori 10 ribu jam, dimana sesorang akan menjadi ahli
dalam suatu bidang setelah melakukan/mempelajari hal yang sama dalam 10 ribu jam.
Penelitian yang dilakukannya tidak main-main karena salah satu objek
penelitiannya adalah group band terkemuka The
Beatles, pasti kita tahu grup band legendaris ini, yang telah menciptakan
puluhan lagu yang dikenal oleh seluruh dunia. Teori ini sampai sekarang banyak
digunakan sekolah maupun motivator untuk menunjukan perlunya seseorang untuk
fokus dan kerja keras dalam melakukan suatu hal. Dalam islam teori kerja
apapun, harus memperhatikan kehalalan dan ketoyyibannya. Jangan sampai berdalih
kerja cerdas, namun meninggalkan prinsip halalan
toyyibah. Ini keliru, karena pada akhirnya kerja mukmin apapun bentuknya
kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu Wat’ala.
Smart
Work Prinsiple
Semua hasil tidak ada yang ujuk-ujuk, semua
hasil menempuh proses yang volume pencapaiannya beragam. Semua butuh proses, janganlah
mengabaikannya. Karena pengabaian proses adalah bentuk kemalasan berfikir dan
bertindak. Prinsip dari smart work
ada 3. Yang pertama adalah menetapkan mind
set, ini penting untuk menancapkan komitmen dan mengokohan visi. Pola pikir
maju seseoranglah yang akan mengantarkan menemukan gagasan besar, yang berujung
pada tercukilnya konsep kerja cerdas. Tentu pola pikirlah yang akan terus
membangun, mengasah dan memecut kemalasan jiwanya. Sehingga tak kenal menyerah
dan tak kenal lelah, sampai menemukan inovasi dan sikap inovatif, yang secara
tidak sadar orang akan berkata bahwa “ini namanya kerja cerdas”. Jelas bahwa mind set yang terbangun dan terjaga
dengan baik, akan sangat berpengaruh pada prilaku kerja, dedikasi dan
profesionalisme. Namun orang yang pola pikirnya cenderung mundur, justru hanya
akan terjebak dalam ruang rutinitas. Tanpa menghitung untung rugi waktu dan
tenaganya. Jadi untuk membedakan orang yang ber-mind set masa depan dan ber-mind
set tidak jelas adalah pada bagaimana ia menghargai waktu dan dedikasinya
pada pekerjaanya.
Prinsip
kerja cerdas yang kedua, adalah optimalisasi potensi diri. Lebih baik menekuni apa yang menjadi potensi pada diri,
dari pada ingin seperti orang lain tapi justru menjauhkan pada ketidaknyamanan
bekerja. Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki passion sendiri-sendiri. Pekerjaan
yang kita sukai dan menimbulkan kepuasan tersendiri serta cepat pengusaaannya,
inilah tanda-tanda dari passion kita.
Dalam ayat di atas kita diperintahkan untuk bekerja sesuai makanah (keadaan). Sehingga potensi apa yang ada pada diri kita, ya
itu jalan yang bisa menjadikan kita sukses. Nah, dari sinilah kita akan mudah
mengoptimalisasikan kemampuan, yang menunjang pada konsep kerja cerdas. Dan
memang begitulah konsep kerja cerdas itu akan ditemukan. Tidak dengan
sendirinya muncul, sebagaimana ilmuwan (orang alim) pada zaman Nabi Sulaiman
telah mempraktekkan Al Kitab. Hematnya, ada proses pembelajaran. Yang pada masa
kini kita kenal adanya proses pelatihan.
Dengan demikian, ketahui potensi diri, lalu optimalisasikan dengan penuh
ketekunan.
Prinsip
yang ketiga adalah Tawakal. Untuk menjaga mind set yang baik dan keteguhan
pendayagunaan potensi diri adalah dengan prinsip tawakal. Sebuah prinsip penyerahan
diri kepada Allah atas apa saja yang sedang dipikirkan dan diupayakan. Sehingga
Allah senantiasa membimbing pikiran dan langkah kita. Dan inilah bentuk spiritual question yang prinsipnya tak
terbantahkan oleh manusia-manusia yang meyakini adanya Tuhan. Eksistensi
tawakal dapat terlihat pada gagasan briliannya yang orisinil dan senantiasa
melandaskan dengan prinsip-prinsip ajaran ilahi. Pun juga dari langkahnya yang
senantiasa tidak meninggalkan do’a dan memperhatikan kehalalan dan
ketoyyibannya. Hematnya ia senantiasa melibatkan Alllah dalam setiap
pekerjaanya. Hingga dirasakan bahwa konsep kerja cerdas itu tidak luput dari
bimbingan Allah yang maha menolong dan maha berilmu. Ketawakalan kepada
Allahlah yang akan menjadikan kerja cerdas itu makin terasa bermanfaat dan
terus menuntunnya kepada jalan-jalan kebaikan. Boleh jadi jalan-jalan sodaqoh
itulah yang menjadikan Allah segera menghembuskan ide kedalam pikiran sehatnya.
Karena saking seringnya ia merintihkan pertolongan kepadaNya. Baik melalui
ungkapan hatinya, lisannya dan lebih-lebih lagi melalui amalannya.
Semua
kesuksesan membutuhkan kerja keras dan semua kerja keras akan memunculkan kerja
cerdas. Hingga telah jelas bahwa kerja cerdas tidak akan ada jika tidak mau
bekerja keras. Ingat jangan mengkonotasikan kerja keras dari hal fisik saja,
namun orang yang mengoptimalkan hati dan akal pikirannya pun juga bisa
dikatakan kerja keras. Hanya saja setelah menemukan konsep kerja cerdas speed-nya akan lebih bisa dirasakan
secara langsung. So, let’s to smart work !
Mending mana ?
Mendingan
Mana ?
Oleh
: Rofiq Abidin
Mending mana kafir amanah
atau muslim koruptor ?. Mending mana pakai jilbab, tapi maksiat atau tidak
berjilbab tapi menjaga kehormatan?. Pertanyaan yang sekaligus pernyataan terus
menggelinding seiring kegamangan umat islam terhadap kenyataan dilingkungan. Seolah
lupa punya petunjuk dasyat, Al Qur’an. Ditambah lagi isu terorisme yang membawa
kepada kepanikan langkah dan menurunkan kepercayaan diri karena muslim. Inilah
kenyataanya, bukan untuk dihindari tapi dihadapi dengan pemahaman ilmu yang
benar dan dalam. Pemikiran-pemikiran berbau propaganda di atas, apabila kita tidak
bijak, menjadikan kita makin jauh dari islam itu sendiri. Ingat janji iblis
akan menggoda semua hamba Allah sampai manusia menganngap baik perbuatan
maksiat. Semua manusia di goda, baik yang sudah membiasakan syariat Allah dan
sunnah nabiNya, maupun yang enggan menggunakan syariat Allah dan sunnnah
nabinNya. Baik yang belum menemukan hidayah, maupun sudah. Apa kaitannya ?.
Kaitannya jelas, pemikiran-pemikiran yang dilempar melalui peryataan di atas,
akan membuat ummat islam ini bingung. Seolah-olah sudah tidak ada lagi ummat
islam yang amanah dan tidak ada lagi muslim berjilbab yang menjaga
kehormatannya. Maka terpojoklah ummat yang ingin tetap dalam kesolehannya dan
ironisnya yang memojokkannya, ya boleh jadi ummat islam itu sendiri yang tidak
berkenan syariat dan sunnah nabi ini tegak.
Ingat, pemikiran
“mendingan” yang tidak pada tempatnya, akan melalaikan dan meninakbobokkan
ummat islam untuk berfikir ideal. Yakni, muslim yang amanah dan berhijab namun
menjaga kehormatannya. Pemikiran yang sekuler itu melalaikan manusia hingga tak
bisa membedakan yang buruk dan yang baik, yang katanya ngaku yakin bahwa Al
Qur’an itu pembeda. Kita jangan terbawa arus, ini sangat tidak seimbang untuk
dijadikan pilihan. Ini sangat meracuni ummat, ini juga akan menjadi pembenar
bagi orang-orang yang tidak suka islam, sehingga menebarkan virus “ngapain berhijab,
ngapain ngaji dan ngapain-ngapain yang dikonotasikan negatif lainnya, mendingan
gak berhijab, mendingan gak usah ngaji, tapi prilakunya baik”. Terus, mendingan
tidak korupsi walau kafir ?. Astagfirullah. Nah, ingatlah muslimin inilah nanti
ujung-ujungnya. Hingga para iblis itu bersukaria atas kekafiran manusia.
Senyatanya, hari ini kita ummat
islam wajib membenahi diri. Membina generasi melalui pendidikan islami dan
membangun persatuan ummat. Jangan putus asa terhadap upaya baik dan islami yang
kita tempuh. Hingga suara ummat islam ini tidak terpecah. Sadarkah muslimin,
bahwa kita sedang diadu domba oleh orang-orang yang tidak suka terhadap islam.
Boleh jadi orang islam itu sendiri yang tidak paham sedang mengadu domba
saudaranya sendiri. Wallahua’lam.
Kamis, 19 Mei 2016
AL Hajibu Al Mansyur
From Zero to Hero..
Namanya adalah Muhammad bin Abi Amir, atau yang lebih terkenal dengan Al
Hajib Al Mansur. Dia adalah kholifah yang masyhur kedua di Andalus setelah
Abdurrahman Ad Dakhili. Tapi tahukah kalian, sebelum menjadi kholifah
sebenarnya dia adalah seorang tukang ojek?
Ya, Muhammad bin Abi Amir awalnya hanyalah seorang khammar. Seseorang yang
menyewakan keledainya. Istilah kita sekarang ojek keledai. Dan keadaannya saat
itu bisa dibilang sederhana. Banget.
Dia tinggal di salah satu kos-kosan di sudut negeri Andalus. Kosnya terdiri dari 2 lantai, lantai bawah untuk sang pemilik rumah, dan lantai atas untuk “anak kos”. Dia juga tidak sendirian, karena bersamanya ada teman-temannya sesama pengojek. Bernasib sama, sama-sama miskin, sama-sama kurang duit, pokoknya kurang lah. Dan seumur hidupnya, belum pernah sekalipun mereka menyentuh yang namanya uang dinar.
Suatu malam, habis kerja dia bertanya kepada temannya. “Seandainya aku jadi kholifah, apa yang akan kau minta dariku?”. Temannya pun tertawa. Mungkin batinnya “Plis deh, ni anak udah gila. Tukang ojek aja pengen jadi kholifah. Mimpi kali ye”. Dikiranya Muhammad lagi linglung karena seharian bekerja. Tapi Muhammad terus memaksa temannya.
Setelah dipaksa sekian lama, akhirnya berkatalah temannya yang pertama. “Seandainya engkau jadi kholifah, aku ingin sebuah istana yang megah, lengkap dengan isi-isinya. Baik pengawal, penjaga, bodyguard (apa bedanya?-_-) dan pelayan-pelayannya, serta taman yang hijau. Aku juga ingin seribu dinar emas.” Temannya minta yang aneh-aneh, karena dia menganggap hal itu hanya sekedar guyonan.
Beda lagi dengan teman yang satunya. Permintaan jauh lebih aneh. “Seandainya engkau jadi kholifah, aku ingin engkau melelerkan cairan di mukaku, yang bisa membuat semua lalat menghinggapiku. Aku juga akan menunggang keledai ke pasar dengan menghadap belakang, dan kau menyuruh semua anak di kota meneriakiku orang gila-orang gila.” Parahe puol..
Singkat cerita berlalulah malam itu. Dan negeri Andalus membuka lowongan buat jadi polisi. Iseng-iseng Muhammad nyoba daftar dan ternyata diterima. Akhirnya berhentilah ia dari ngojek dan melaksanakan tugas barunya sebagai seorang polisi.
Dan ternyata, ada rahasia yang membedakan dia dengan temannya. Jadi, setiap harinya setelah selesai narik, dia pergi ke masjid Agung Kordoba, dan mengikuti taklim disana. Dari situlah keajaiban ini bermula.
Suatu ketika, salah seorang komandan polisi takjub melihat keuletan dan kerajinan Muhammad. Diapun akhirnya menyuruhnya untuk mendisiplinkan polisi-polisi yang pada saat itu pada bermalas-malasan dalam bekerja. Ia lalu berbahagia. Dan suatu ketika, ia melihat komandannya tadi gak bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia peringatkan komandannya, dan Komandannya pun gak trima. Terjadilah konflik. Crash. Akhirnya kabar itu terdengar oleh komandan yang lebih tinggi. Dan Muhammad pun, mulai terangkat karirnya, dari seorang prajurit kroco, hingga seiring berjalannya waktu mampu menjadi ‘Kapolri’nya Andalus.
Pada saat dia menjadi ‘Kapolri’, sang kholifah meninggal dunia. Jika menurut pada sistem, seharusnya anaknya lah yang berhak menggantikan sang kholifah. Tapi ternyata, anak kholifah yang paling besar masih berumur 10 tahun. Hal itu tidak memungkinkan baginya untuk menjadi kholifah.
Para rijalusy Syuro, ahlul hal wal ‘aqd akhirnya rapat pleno besar-besaran. Dan diputuskan, kholifah resminya tetap anak tersebut, tapi jalannya roda pemerintahan sesungguhnya dipegang oleh orang lain. Mereka lalu menentukan berbagai syarat sebagai standar kelayakan seorang penjaga kholifah. Setelah diseleksi, munculah 3 nama. Seorang menteri, seorang jenderal militer, dan Muhammad sang ‘Kapolri’.
Setelah diseleksi lagi, singkat cerita akhirnya Muhammad terpilih menjadi pengawal kholifah dan dia mulai dijuluki sebagai Al Hajib Al Mansur. Seorang penjaga yang ditolong. Lambat laun, Andalusia kembali menuju masa kejayaan kembali di masanya, dan dia mampu merebut hati rakyat Andalus hingga akhirnya dia diangkat menjadi kholifah yang resmi.
Setelah menjadi kholifah, ia teringat akan janjinya kepada kedua temannya. Disuruhnya pengawalnya untuk memanggil kedua pengawalnya. Kedua temannya saat ditemui pun bingung, begitu juga sang pengawal. Tapi karena ini adalah panggilan kholifah, mereka terpaksa harus menaatinya.
Mereka memasuki istana dengan menunduk. Biasa, mereka bisa dibilang udik, kampungan, atau ndeso. Dan mereka belum mengetahui kalau ternyata sang kholifah adalah temannya sendiri, karena Muhammad bin Abi Amir lebih terkenal dengan gelarnya Al Hajib Al Mansur.
Seraya tersenyum, Sang kholifah lalu memanggil keduanya “Masih ingatkah kalian denganku kawan? Aku adalah Muhammad, ya Muhammad bin Abi Amir, teman kalian sekosan dahulu”. Kedua temannya saling berpandangan tidak percaya. “Dan sekarang aku akan memenuhi janjiku, karena tidak pantas bagi seorang pemimpin untuk menghianati janjinya”. Dan akhirnya ia benar-benar memberikan apa yang kedua temannya ini minta dahulu. Yang satu ia berikan sebuah istana beserta isinya dan uang seribu dinar, sedang yang satunya ia arak ke pasar dengan teriakan orang gila dari para anak-anak.
***
Begitulah kisah yang
diceritakan oleh Ustad Budi Ashari tadi pagi. Wallahu
a’lam dengan, tapi beliau mengatakan ini adalah kisah yang masyhur. Dan
ini
kisah yang super inspiratif. Wallahi. Afwan kalau kurang 'ngeh', mungkin
kalian bisa baca kisahnya di siroh, lalu bercerita lebih wah daripada
gue (:
Oke kembali. Intinya, jangan meremehkan angan-angan. Siapa sangka angan-angan seorang tukang ojek untuk menjadu kholifah bisa terwujud? Siapa sangka permintaan istananya kepada temannya yang berangan-angan mampu menjadi kenyataan? Dan siapa sangkan peremehannya pada angan-angan temannya mampu menjadi kenyataan pula? Begitulah logika langit bekerja. Ajaib.
Maka, pesan cerita di atas, berangan-anganlah yang tinggi lalu beramalah. Karena apa yang jadi dongeng bagi manusia, bisa terwujud di tangan mereka yang mau bekerja dan percaya janji-Nya. “i’maluu fakullun muyassarun lima khuliqo lah”. Bekerjalah karena setiap orang akan dipermudah untuk menggapai takdir mereka. Dan Muhammad bin Abi Amir telah bekerja untuk mewujudkan takdirnya menjadi seorang khalifah. Kapankah kita?
Pesan kedua, jangan remehkan cita-cita orang di sekitar kalian. Mungkin awalanya hanya obrolan ringan di kamar atau di kelas, tapi kita tidak tahu jika suatu saat obrolan yang ‘GJ’ itu suatu saat bisa menjadi kenyataan.
Maka, gue mohon doa dan supportnya, supaya gue bisa mewujudkan cita-cita gue. Kuliah di Madinah dan Jerman, lalu bisa buat ma’had Isy Karima Furu’i di Jerman, dan mampu buat rumah sakit yang gratis, bahkan ‘nyangoni’ pasiennya saat dia kembali.
Dan doakan juga, biar angkatan kami di Isy Karima mampu melewati ujian tahfizh kelak dan mampu jadi angkatan pertam yang setoran 30 juz. Amin. Bismillah C:
Lalu apa impianmu???
Langganan:
Komentar (Atom)












