Berdamai
dengan Hati
Oleh
: Rofiq Abidin
Kita
tak pernah tahu apakah besok kita selalu hoki, kita tidak ketemu kesulitan atau
kita tidak akan dikecewakan. Maka dari itu pandai-pandailah menata perasaan,
dari perasaan ini seseorang akan berniat, berucap hingga mengambil sikap dan
keputusan penting atau bahkan iseng. Ya, saat senang seharusnya kita selalu
ingat, bahwa kesenangan yang hadir bisa kita nikmati saat perasaan senang juga
mau mengikuti. Bahwa kesenangan dan rasa senang hadir bukan hanya peran kita,
tapi peran orang-orang yang mendukung, orang-orang yang mendo’akan kita, orang
yang mendorong kita, terutama ingatlah kerna irodahNya, yakni Allah Subhanahu
Wata’ala. Saat hati sedang bergemuruh emosi, karena sebuah keadaan yang
mengecewakan, berdamilah dengan hati kita. Ia hanya butuh tenang sejenak untuk
kembali fresh. Hati ini adalah kunci mengendalikan sikap. Ada yang bilang otak
bisa berbohong, meng-akali apa yang kita lakukan. Tapi hati tidak akan bisa
berbohong dengan apa yang kita lakukan. Maka berdamailah dengan hati kita.
Bisikan nurani akan selalu muncul untuk mengajak kepada kebaikan, walau otak
kita mengakali untuk mengambil sikap bohong.
Hujan
kritikan jadikan sebagai pelecut semangat untuk mengubah hidup untuk lebih
baik. Dan hujan pujian jadikan sebagai imunisasi untuk menakhukkan takabbur,
ujub dan egois. Semua kita mulai dari perasaan syukur kepada Allah, perasaan
ikhsan (Selalu merasa di awasi oleh Allah), kemudian kita mengingat untuk bisa
mengandalikan bisikan apa saja yang masuk ke dalam radar hati kita. Kita
memilahnya, kemudian memfungsikan hati yang berqur’an sebagai furqon,
pembeda antara pilihan yang haq dan yang batil. Karena muskhaf Al Quran bisa
menjadi bayyinat (bukti) jika kita fungsikan sama’ (pendengaran), basor
(penglihata) dan fu’adah (hati/perasaan) untuk memahami dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan nyata.
Berdamailah
dengan hati, karena hati bisa berbolak-balik atas pengarus musuh besar manusia
ialah iblis. Utamakan istigfar dari pada mencela, utamakan memaafkan daripada
permusuhan dan utamakan kepetingan jalan Allah dari pada kepentingan materiil. Jangan
memusuhi hati (membohongi perasaan) karena provikasi akal yang makin pandai
membohongi kenyataan. Lebih baik, akal kita ajak untuk memahami lebih dalam apa
yang sedang terjadi dengan memahami ayat-ayat Allah yang tersurat dan yang
tersirat. Karena ciri manusia cerdas adalah manusia yang sering mengingat
ajalnya, bil makna, senantiasa bermahasabbah atas amalan, pekerjaan,
karya, peran dan sikap yang telah diambilnya. Jadi, berdamailah dengan hati
kita. Fokuslah pada apa yang akan kita capai, jangan menuruti kebohongan akal,
tapi turutilah berubahan dari memaafkan diri kita dengan apa yang pernah
terjadi, lalu hiasilah dengan kebaikan dan prestasi hidup selanjutnya. Wallahu’alam.











0 komentar:
Posting Komentar