Ummat Anti
Mainstream, so good..!
Oleh : Rofiq Abidin
Seorang wanita berkomentar kepada temannya yang sedang memakai baju
minimalis, hehe..kayak pagar aja, “Hei, bajumu kok gitu ”, biarin, katanya
harus anti mainstream, “jawabnya dengan yakin”, padahal memakai rok
sangat minim dan baju ketat poll. Itu bukan anti mainstream tapi itu mengundang
bahaya, keluhnya. Percakapan ini menarik hati saya untuk mencoba mengokohkan
siapa saja yang sedang lurus dengan syariat Allah. Mainstream secara bahasa
adalah arus utama, anti mainstream boleh dibilang tidak ikut arus, beda
tapi benar. Tidak sedikit ayat Allah yang menganjurkan untuk anti mainstream
terhadap sikap-sikap latah dalam hal negatif. Misalnya, pemikiran
yang tanpa ilmu dalam QS Al Isra’ ayat 36, dalam QS Al Maidah ayat 77, tentang
pemikiran kolot yang berdasarkan hawa nafsu yang dibawa nenek moyang
sebelumnya. Nah berikut adalah ayat yang menerangkan orang-orang yang tidak mau
mensyukuri karunianya, termasuk raga/jasad, sehat pikirnya dan karunia nyata lainnya.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى
النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ
Dan sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada
manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (An Naml : 73)
Jika kita kaitkan
dengan percakapan di atas, justru orang yang tidak menutup auratlah yang mainstream,
tampil beda tapi dalam hal keburukan. Namun jika ada wanita yang
mempertahankan prinsip syariat, baik itu berhijab, menjaga diri dari maksiat,
berkata ramah, menuntut ilmu (ngaji), tidak merokok, tidak mabuk-mabukan dan
hal-hal positif lainnya, walau beda. Islam mengajarkan bersyukur, saat
kebanyakan manusia tidak bersyukur. Mensyukuri badan dengan menjaga kesehatan
dan tidak merusaknya juga merukapan bentuk syukur terhadap karunia besar Allah
Azza Wajalla. Kebanyakan manusia latah dengan hal-hal yang menyenangkan secara
kasat mata, tanpa harus mempertimbangkan mudharat selanjutnya.
Oleh karena itu mari
kita ciptakan budaya-budaya syar’iyah dari hal yang kecil, yang mudah
dan bisa kita lakukan sekaran juga. Karena bangsa kita mengalami shock
culture, masuknya budaya asing secara cepat dan ummat belum siap ilmu untuk
menangkalnya. Jadinya ikut-ikutan, tanpa mempertimbangkan nilai baik dan
buruknya. Ayo jangan malu anti mainstream dalam hal-hal kebaikan. Walau
ujian dari samping kiri-kanan yang memberikan paradigma berbeda terhadap sikap
dan keputusan kita. Sebab itulah surge itu untuk manusia pilihan, karena kita
telah bisa memilah dan memilih sikap saat di dunia. Bukan ikut-ikutan tapi buta
dampak selanjutnya. Sikap dan perbuatan kita memang dinilai oleh 3 pihak, yakni
yang pertama, diri kita sendiri, yang kedua orang lain dan yang ketiga
adalah dinilai oleh Allah. Pada dasarnya orang yang ihsan senantiasa merasa di awasi oleh Allah, yang
diingat pertama saat berbuat adalah Allah. Apakah sikapnya diridhoi oleh Allah
atau tidak. Boleh jadi menurut kita baik dan benar, tapi menurut orang lain
tidak demikian. Boleh jadi menurut kebanyakan orang lain baik, tapi menurut
Allah sangat tidak baik. Nah, landasan sikap kita harus jelas, mau ngikutin
tren yang negatif atau anti mainstream karena mempertimbangkan penilaian dimata
Allah. Yang pasti baik dan benar adalah sikap anti mainstream yang menurut
penilaian Allah benar. Maka itu yang menyamankan hati kita, walau orang lain
berbeda.
Ayo beda tapi benar,
bukan beda tapi salah dan Allah tidak ridho. Karena ketika datang ajal, kita
tidak sibuk mengurusin amalan orang lain, tapi kita sibuk mempertanggung
jawabkan amalan-amalan kita masing-masing. So, jadi ummat anti mainstream ?
oke-oke saja asal benar. Wallahu’alam.











0 komentar:
Posting Komentar