Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Senin, 28 September 2015

Pekerjaan yang paling baik

Rofiq Abidin

Pekerjaan Apa yang Paling Baik? Ini Jawaban Rasulullah

ilustrasi kerja keras © Pinterest
Pekerjaan apakah yang paling baik dan paling mulia? Melalui empat hadits shahih ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkannya kepada kita.
Dari Sa’id bin Umair dari pamannya, dia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan semua pekerjaan yang baik.” (HR. Baihaqi dan Al Hakim; shahih lighairihi)
Dari Khalih, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَفْضَلِ الْكَسْبِ فَقَالَ بَيْعٌ مَبْرُورٌ وَعَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang pekerjaan yang paling utama. Beliau menjawab, “perniagaan yang baik dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri” (HR. Al Bazzar dan Thabrani dalam Al Mu’jam Kabir; shahih lighairihi)
Dari Ibnu Umar, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan semua perniagaan yang baik.” (HR. Thabrani dalam Al Mu’jam Kabir; shahih)
Dari Rafi’ bin Khadij, ia berkata,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap perniagaan yang baik.” (HR. Ahmad dan Al Bazzar; shahih lighairihi)
Dari keempat hadits tersebut, meskipun kadang Rasulullah ditanya dengan istilah “pekerjaan yang paling baik” dan kadang ditanya dengan istilah “pekerjaan yang paling utama”, ternyata jawaban beliau hampir sama. Yakni pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan perniagaan yang baik.
Pekerjaan dengan tangan sendiri maksudnya adalah pekerjaan yang dilakukan seseorang tanpa meminta-minta. Pekerjaan itu bisa berupa profesi sebagai tukang batu, tukang kayu, pandai besi, maupun pekerjaan lainnya. Dalam hadits yang lain dicontohkan pekerjaan seseorang yang mencari kayu bakar. Profesi dokter, arsitek, dan sejenisnya di zaman sekarang juga termasuk dalam hadits ini.
Sedangkan perniagaan yang baik maksudnya adalah perniagaan atau perdagangan yang bersih dari penipuan dan kecurangan. Baik kecurangan timbangan maupun kecurangan dengan menyembunyikan cacatnya barang yang dijual.
Jadi, dalam Islam, pekerjaan apapun baik. Pekerjaan apapun bisa menjadi pekerjaan paling baik. Asalkan halal dan bukan meminta-minta. Baik menjadi karyawan, profesional, pebisnis maupun pengusaha, semua punya peluang yang sama. Masya Allah… indahnya… [Muchlisin BK/bersamadakwah]
*Maraji’: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib dan Maktabah Syamilah

Karena Cinta

Rofiq Abidin

Karena Cinta yang Indah Tak akan Terjadi dalam Sekejap

Kini pengemudi kendaraan itu telah berganti. Bapak-bapak tua yang dulunya telah berusaha mengemudikan kendaraan itu dengan baik kini haruslah digantikan karena memang seorang ‘supir’ pastinya memiliki masa pensiun.
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (Q.S. Al Insyirah: 7)
Perjalanan dakwah adalah perjalanan yang tiada penghujung. Kita bukanlah pemula, bukan pula golongan akhir yang menjadi penghujung. Namun kita adalah penyambung, maka janganlah berhenti di tengah perjalanan ini, teruslah berjalan, bahkan sesekali berlari adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan oleh seorang da’i untuk mengejar impian kemenangan dakwah.
Maka nikmatilah perjalanan ini. Nikmatilah segala canda dan tawa, sedih dan kecewa yang terjadi di dalamnya. Kemenangan, kesuksesan, kepedihan dan kegagalan adalah seperti bagian dari dua sisi mata uang yang tak mungkin terpisahkan. Terkadang kita merasa bukan siapa-siapa di ranah jalan juang ini. Dan terkadang kita merasa minder karena kapasitas diri yang kita anggap tak selevel dengan yang lain. Di sisi lain, mungkin kita menganggap bahwa diri kita adalah ‘pejabat’ dakwah. Seseorang yang dianggap menjadi seroang muharrik dakwah yang harus senantiasa prima dalam segala aktivitasnya.
Itulah semua fenomena peran dalam jalan dakwah. Mungkin tak banyak materi ataupun benefit yang kita dapatkan. Yang kita dapatkan mungkin hanyalah persaudaraan, ilmu dan pengalaman,  serta sedikit kebijaksanaan untuk dapat mengurai masalah menjadi sebuah hikmah. Sungguh luar biasa karunia yang diberikan Allah sehingga di usia muda ini kita telah diberikan kenikmatan merasakan masninya iman. Maka, sungguh merugi mereka yang tengah berada dalam jalan dakwah ini namun tak mampu menikmati.
Sekali lagi, mari nikmati jalan dakwah ini, entah sebagai seorang yang bukan siapa-siapa atau sebagai  siapa-siapa. Amanah dan posisi dalam dakwah ini akan datang dan pergi begitu saja. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa juga tak akan pernah kembali lagi. Kadang bisa iya, bisa tidak, bisa siap, bisa tidak siap. Bisa menjadi pengurus lembaga dakwah, atau tidak menjadi pengurus, menjadi simpatisan pengurus, menjadi temannya pengurus, bahkan tidak menjadi siapa-siapa yang tidak bisa disebut.
“Kamu ini siapa ?” “Saya pengurus organisasi dakwah”. Ini sering disebut.
“Kalo kamu siapa?” “Saya mahasiswa yang diusung oleh organisasi dakwah”. Ini juga disebut.
“Kalo ente?” “Saya dapat amanah jadi ketua organisasi dakwah”. Ini biasa disebut.
“Nah, kalo kamu siapa?”
“Saya adalah orang yang senantiasa berdakwah. Baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan lapar maupun kenyang, saat letih maupun bugar. Karena perjuangan dakwah adalah kemuliaan. Saya tak tahu sebagai apa saya. Namun nahnud duat qobla kulli syai. Saya lebih menyukai memberikan hal terbaik untuk dakwah daripada harus mendefenisikan siapa saya.’” Dan inilah jawaban yang jarang dijumpai.
Nikmatilah jalan dakwah. Susah senang itu biasa. Yang terpenting adalah mampu merasakan senang saat mengalami kesusahan. Dan tidak terlampau senang ketika mendapatkan keberhasilan. Karena semuanya adalah pertolongan dan kehendak Allah.
Allah telah memilih da’i-da’i terbaiknya untuk menegakkan islam di muka bumi. maka janganlah hanya menjadi penonton sinetron kemnengan dakwah. Tapi jadilah pelaku. Kalian adalah ummat terbaik. Kalian adalah da’i terbaik.
Saling mengertilah. Tak cukup hanya dengan mengerti, namun saling mengertilah.
Maka, mungkin sedikit kurang layak ketika kita terlalu mengambil banyak waktu untuk berhenti bergerak dengan dalih evaluasi apalagi sekedar untuk beristirahat.  Terlalu banyak kerja-kerja dakwah dan  impian yang menanti untuk disemai.
Lalu kapankah kita bisa istirahat? Nanti… ketika kaki-kaki kita telah berhasil menginjak surga.
Bersabarlah dalam dakwah, karena cinta yang indah tak akan terjadi dalam sekejap.
And I swear that I will never put anyone or anything before YouAllahu Robbuna

Posisi Tidur

Rofiq Abidin

Posisi Tidur yang Paling Buruk

Posisi tidur (wartakesehatan.com)
Ketika orang (bersiap) tidur, banyak posisi yang bisa ia pilih. Ada yang terlentang, ada yang miring ke kanan, ada yang miring ke kiri, ada yang tengkurap. Bagaimanakah posisi tidur yang paling buruk menurut Islam dan sains? Berikut ini penjelasannya.
Ibnu Qayyim al Jauziyah dalam Zaadul Ma’ad membuat salah satu sub bab berjudul Posisi Tidur yang Paling Buruk. Beliau menjelaskan bahwa posisi tidur yang paling buruk adalah tidur tengkurap.
Thokhfah Al Ghifariy pernah tidur tengkurap di Masjid Nabawi akibat begadang. Di waktu sahur, Rasulullah menggerak-gerakkannya dengan kaki beliau seraya bersabda:

إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ

“Sesungguhnya ini adalah cara tidur yang dibenci oleh Allah” (HR. Ibnu Majah dan Abu Daud)
Sahabat yang lain juga pernah mengalami hal serupa. Ia tidur dengan posisi tengkurap. Rasulullah pun menggerak-gerakkan kaki beliau ke badannya seraya bersabda:

يَا جُنَيْدِبُ إِنَّمَا هَذِهِ ضِجْعَةُ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai Junaidib, tidur seperti itu seperti berbaringnya penduduk neraka.” (HR. Ibnu Majah)
Dalam pendekatan sains, ketika seseorang tidur tengkurap, dada dan perut tertekan sehingga menghalangi pernafasan. Ketika seseorang tidur tengkurap, kepalanya kadang miring ke samping, kadang menghadap ke bawah. Kepala menghadap ke bawah membuat pernafasan terganggu.
Selain itu, tidur tengkurap juga membuat posisi jantung terhimpit sehingga aliran darah terganggu dan kinerja otak terganggu.
Dalam sebuah penelitian di Inggris pada tahun 1990 yang meneliti 72 kematian anak, 67 di antaranya meninggal bukan karena penyakit. Mereka meninggal dipicu oleh posisi tidur tengkurap, atau pakaian yang terlalu ketat dan peningkatan temperatur lingkungan.
Hasil penelitian dari University of Chicago Illinois menunjukkan bahwa resiko kematian tidur tengkurap lebih besar terjadi pada orang yang menderita epilepsi.
Masya Allah… ternyata ilmu pengetahuan modern sangat mendukung apa yang disabdakan Rasulullah lebih dari 14 abad yang lalu. Padahal Muhammad sebelumnya tidak dikenal sebagai seorang tabib atau dokter. Beliau juga tidak diajari oleh guru di bidang kesehatan dan kedokteran. Namun banyak hadits beliau tentang kesehatan yang jika diteliti beberapa abad kemudian, ternyata terbukti ada penjelasan ilmiahnya.
Wallahu a’lam bish shawab.

Minggu, 13 September 2015

Anti Mainstream

Rofiq Abidin


Ummat Anti Mainstream, so good..!
Oleh : Rofiq Abidin
Seorang wanita berkomentar kepada temannya yang sedang memakai baju minimalis, hehe..kayak pagar aja, “Hei, bajumu kok gitu ”, biarin, katanya harus anti mainstream, “jawabnya dengan yakin”, padahal memakai rok sangat minim dan baju ketat poll. Itu bukan anti mainstream tapi itu mengundang bahaya, keluhnya. Percakapan ini menarik hati saya untuk mencoba mengokohkan siapa saja yang sedang lurus dengan syariat Allah. Mainstream secara bahasa adalah arus utama, anti mainstream boleh dibilang tidak ikut arus, beda tapi benar. Tidak sedikit ayat Allah yang menganjurkan untuk anti mainstream terhadap sikap-sikap latah dalam hal negatif. Misalnya, pemikiran yang tanpa ilmu dalam QS Al Isra’ ayat 36, dalam QS Al Maidah ayat 77, tentang pemikiran kolot yang berdasarkan hawa nafsu yang dibawa nenek moyang sebelumnya. Nah berikut adalah ayat yang menerangkan orang-orang yang tidak mau mensyukuri karunianya, termasuk raga/jasad, sehat pikirnya dan karunia nyata lainnya.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ
Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (An Naml : 73)
Jika kita kaitkan dengan percakapan di atas, justru orang yang tidak menutup auratlah yang mainstream, tampil beda tapi dalam hal keburukan. Namun jika ada wanita yang mempertahankan prinsip syariat, baik itu berhijab, menjaga diri dari maksiat, berkata ramah, menuntut ilmu (ngaji), tidak merokok, tidak mabuk-mabukan dan hal-hal positif lainnya, walau beda. Islam mengajarkan bersyukur, saat kebanyakan manusia tidak bersyukur. Mensyukuri badan dengan menjaga kesehatan dan tidak merusaknya juga merukapan bentuk syukur terhadap karunia besar Allah Azza Wajalla. Kebanyakan manusia latah dengan hal-hal yang menyenangkan secara kasat mata, tanpa harus mempertimbangkan mudharat selanjutnya.
Oleh karena itu mari kita ciptakan budaya-budaya syar’iyah dari hal yang kecil, yang mudah dan bisa kita lakukan sekaran juga. Karena bangsa kita mengalami shock culture, masuknya budaya asing secara cepat dan ummat belum siap ilmu untuk menangkalnya. Jadinya ikut-ikutan, tanpa mempertimbangkan nilai baik dan buruknya. Ayo jangan malu anti mainstream dalam hal-hal kebaikan. Walau ujian dari samping kiri-kanan yang memberikan paradigma berbeda terhadap sikap dan keputusan kita. Sebab itulah surge itu untuk manusia pilihan, karena kita telah bisa memilah dan memilih sikap saat di dunia. Bukan ikut-ikutan tapi buta dampak selanjutnya. Sikap dan perbuatan kita memang dinilai oleh 3 pihak, yakni yang pertama, diri kita sendiri, yang kedua orang lain dan yang ketiga adalah dinilai oleh Allah. Pada dasarnya orang yang ihsan  senantiasa merasa di awasi oleh Allah, yang diingat pertama saat berbuat adalah Allah. Apakah sikapnya diridhoi oleh Allah atau tidak. Boleh jadi menurut kita baik dan benar, tapi menurut orang lain tidak demikian. Boleh jadi menurut kebanyakan orang lain baik, tapi menurut Allah sangat tidak baik. Nah, landasan sikap kita harus jelas, mau ngikutin tren yang negatif atau anti mainstream karena mempertimbangkan penilaian dimata Allah. Yang pasti baik dan benar adalah sikap anti mainstream yang menurut penilaian Allah benar. Maka itu yang menyamankan hati kita, walau orang lain berbeda.
Ayo beda tapi benar, bukan beda tapi salah dan Allah tidak ridho. Karena ketika datang ajal, kita tidak sibuk mengurusin amalan orang lain, tapi kita sibuk mempertanggung jawabkan amalan-amalan kita masing-masing. So, jadi ummat anti mainstream ? oke-oke saja asal benar. Wallahu’alam.

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates