Berbeda Boleh, Berpecah Jangan..
Oleh : Rofiq Abidin, CT. CM
Mereka tidak akan
memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang
berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat
hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang
demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS.
Al Hasyr : 14)
Persatuan ummat merupakan kekuatan yang sangat dasyat. Berdasarkan
ayat di atas, Allah menegaskan bahwa ukhuwah islamiah menjadi kekuatan yang
ditakuti oleh musuh-musuh islam. Namun menyatukan ummat menjadi tantangan
tersendiri. Lebih-lebih lagi jika ada sebagain ummat yang “ngeyel”, tidak mau
mewujudkan ukhuwah islamiah, dengan alasan beda keyakinan. Bahkan ada yang
mengklaim dengan dasar “lakum dinukum waliyaddin”. Menurut saya ini
sudah salah kaprah, ayat ini diperuntukkan bukan kepada sesama muslim, tapi
untuk orang-orang yang jelas mengingkari islam (non muslim). Bahkan terkadang
kita terjebak dengan budaya dan hal-hal yang tidak principle atau bahkan hanya
berdasarkan “katanya”, berkutat hal-hal itu saja. Padahal banyak sekali
ilmu-ilmu dalam Al Qur’an yang belum kita kaji. Mulai dari sains, teknologi,
ekonomi bahkan politik dalam islam dan yang jelas masih banyak. Siapa yang akan
menggalinya?, orang-orang non muslim?, yang kesekian kalinya kita kecolongan
dengan mereka, hanya bisa ngelus dada.
Sapu lidi tidak akan bisa digunakan, jika tidak dalam
ikatan. Ikatan yang menyatu itulah yang bisa memaksimalkan fungsi sapu lidi.
Dalam ayat lain QS Ali Imran : 103, ummat islam sangat dianjurkan untuk bersatu
dalam satu ikatan (tali) Allah. Berusahalah untuk mengambil jalan damai dengan
siapapun, terlebih-lebih ia adalah semuslim, seaqidah. Jangan menanam kebencian
dan kedengkian kepada sesama muslim hanya karena hal-hal yang sepele.
Menyikapi Hal-Hal Yang Biasa Ditentangkan
1.
Memahami secara utuh, bukan apriori
Kemajemukan manusia menjadikannya pola
pikir yang majemuk pula. Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang,
lingkungan dan self konsep-nya. Maka jika ada saudara kita yang berbeda
pandangan dalam hal budaya itu lumrah. Ataupun hal lainnya. Pahami secara utuh
sikapnya kenapa. Jangan langsung mengambil kesimpulan, “orang ini aliran ini,
sehingga mengharamkan hal semacam ini”. Pahamilah lebih dalam, agar tidak
memahaminya secara parsial (setengah-setengah). Karena pemahaman ini yang akan
menentukan kita akan berlaku bagaimana.
2.
Memaklumkan jalan pikiran dan sikap
orang lain, bukan memojokkan
Tidak bisa serta merta jalan pikiran
kita diterima instan oleh orang lain, tapi semua butuh proses. Begitupun kita,
perlu memproses memahami pikiran orang lain. Oleh karena itu maklumilah jalan
pikiran orang lain, namun tetap mencoba mengemukakan perihal yang menurut kita
baik dan benar dengan cara yang paling bijak, sehingga saling memaklumi. Jangan
memojokkan dengan menyebarkan perihal yang menurut kita berbeda. Ini akan bisa
menjebak kita pada sikap ghibah, namimah bahkan fitnah. Maklumi saja jalan
pikirannya, dengan tetap bergaul baik dangannya.
3.
Menghormati, bukan memaki
Berikan ruang yang sama sebagai
saudara seaqidah. Gaulilah dengan baik tanpa dinding, ia saudara kita yang
sama-sama menyembah Allah saja. Hanya saja ada hal yang tidak sama, tidak bisa
dipaksakan untuk sama, karena ada pemikiran yang belum nyambung dengan kita. Ini
semua dipengaruhi cara pandang yang berbeda. Hormati saja, jangan memakinya,
baik dibelakang maupun didepannya. Ini akan menimbulkan semakin meruncing,
perang dingin dan ummat islam ini makin jauh dari kemajuan. Karena hanya
mempertentangkan perihal budaya dan hal-hal mahdo.
4.
Toleransi, bukan menjauhi
Nabi Muhammad bisa menerapkan
toleransi antar ummat beragama di madinah, bahkan toleransi antar ummat
beragama. Dengan Piagam Madinah, masyarakat Yasrib benar-benar menjadi contoh
Negara yang menerapkan toleransi dalam beragama. Kepada ummat non muslim, dalam
hal ini kafir dhimmi saja Rasulullah Solallahu Alaihi Wasallam
mengharuskan kita bertoleransi, apatalagi dengan saudara semuslim. Ayo
bersatulah, jangan berpecah.
5.
Saling memberdayakan dan menolong
dalam kebaikan
Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak
saling bermanfaat sesama muslim, apapun perbedaan madzab yang dipilih. Setelah
mencoba mengamalkan empat perihal di atas, saya rasa hal yang kelima ini akan
mudah dilakukan. Karena proses pemahaman dan sikap kita telah rela menerima
perbedaan. Saling tolong menolong dalam kebaikan tidak harus sama madzabnya,
selama untuk kemaslakhatan ummat manusia, sah-sah saja selama cara dan prinsipnya
tidak keluar dari aqidah islamiah.
6.
Belajar lagi dan belajar lagi
Memahami adalah belajar, memaklumi juga terus
belajar, menghormati pun perlu terus belajar, toleransi tentu juga perlu
dilatih dan saling memberdayakan juga bagian dari belajar menggali manfaat.
Hingga pada kenyataannya kita tidak boleh kolot, fanatik dan menutup pemikiran
untuk maju. Karena Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan untuk menjalin
silaturohim. Yang sangat banyak manfaatnya, kita bisa belajar dari pola pikir
orang lain. Kemudian kita akan bisa
mengambil kesimpulan sikap kita, mana yang kita teruskan dan mana yang kita
tanggalkan. Oleh karena itu teruslah belajar, baik dalam bimbingan, diskusi dan
lain sebagainya, agar khazanah keilmuan semakin luas yang mengantaran makin
bijak kita bersikap.
Ajaran Ilahi untuk Semua
Ajaran ketuhanan (Ilahiyah) sangat menganjurkan untuk
bisa bersikap inklusif (terbuka) dengan pemeluk agama lain, tentu dalam hal-hal
sosial kemasyarakatan. Ajaran Ilahi bersifat aplikatif dan solutif terhadap
segala masalah keduniawian dan ukhrowi. Islam ada untuk merangkul bukan
menghancurkan dan bukan merusak tatanan. Manusia yang serba majemuk, terkadang
harus kita sadari sesadar sadarnya, bahwa tafkir-nya (pemikirannya) juga
berbeda-beda. Saya akan mencoba mengutip salah satu isi Piagam Madinah yang
berisi 58 poin penting sebagai bukti betapa Rasulullah SAW telah mencoba
membangun masyarakat yang bersatu dan saling bertoleransi antar ummat beragama
sebagai berikut :
“Mereka hendakknya saling menasehati dan berbuat
kebaikan, serta menjauhi segala perbuatan dosa”.
(dikutip dari buku “Madinah kota suci, Piagam Madinah dan
Teladan Muhammad SAW karangan Zuhairi Misrawi)
Semoga menyadarkan kita semua untuk bisa bersatu dalam
membangun kemaslakahatan, sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan Madinah
Munawarohnya, sebuah negara yang dibangun pondasi aqidah yang kuat dan
kerukunan yang kuat pula. Karena memang ajaran Ilahi untuk semua. Wallua’alam.












