Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Senin, 24 Agustus 2015

Jangan Berpecah...

Rofiq Abidin
Berbeda Boleh, Berpecah Jangan..
Oleh : Rofiq Abidin, CT. CM


Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Hasyr : 14)
Persatuan ummat merupakan kekuatan yang sangat dasyat. Berdasarkan ayat di atas, Allah menegaskan bahwa ukhuwah islamiah menjadi kekuatan yang ditakuti oleh musuh-musuh islam. Namun menyatukan ummat menjadi tantangan tersendiri. Lebih-lebih lagi jika ada sebagain ummat yang “ngeyel”, tidak mau mewujudkan ukhuwah islamiah, dengan alasan beda keyakinan. Bahkan ada yang mengklaim dengan dasar “lakum dinukum waliyaddin”. Menurut saya ini sudah salah kaprah, ayat ini diperuntukkan bukan kepada sesama muslim, tapi untuk orang-orang yang jelas mengingkari islam (non muslim). Bahkan terkadang kita terjebak dengan budaya dan hal-hal yang tidak principle atau bahkan hanya berdasarkan “katanya”, berkutat hal-hal itu saja. Padahal banyak sekali ilmu-ilmu dalam Al Qur’an yang belum kita kaji. Mulai dari sains, teknologi, ekonomi bahkan politik dalam islam dan yang jelas masih banyak. Siapa yang akan menggalinya?, orang-orang non muslim?, yang kesekian kalinya kita kecolongan dengan mereka, hanya bisa ngelus dada.  
Sapu lidi tidak akan bisa digunakan, jika tidak dalam ikatan. Ikatan yang menyatu itulah yang bisa memaksimalkan fungsi sapu lidi. Dalam ayat lain QS Ali Imran : 103, ummat islam sangat dianjurkan untuk bersatu dalam satu ikatan (tali) Allah. Berusahalah untuk mengambil jalan damai dengan siapapun, terlebih-lebih ia adalah semuslim, seaqidah. Jangan menanam kebencian dan kedengkian kepada sesama muslim hanya karena hal-hal yang sepele.
Menyikapi Hal-Hal Yang Biasa Ditentangkan
1.   Memahami secara utuh, bukan apriori
Kemajemukan manusia menjadikannya pola pikir yang majemuk pula. Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang, lingkungan dan self konsep-nya. Maka jika ada saudara kita yang berbeda pandangan dalam hal budaya itu lumrah. Ataupun hal lainnya. Pahami secara utuh sikapnya kenapa. Jangan langsung mengambil kesimpulan, “orang ini aliran ini, sehingga mengharamkan hal semacam ini”. Pahamilah lebih dalam, agar tidak memahaminya secara parsial (setengah-setengah). Karena pemahaman ini yang akan menentukan kita akan berlaku bagaimana.
2.   Memaklumkan jalan pikiran dan sikap orang lain, bukan memojokkan
Tidak bisa serta merta jalan pikiran kita diterima instan oleh orang lain, tapi semua butuh proses. Begitupun kita, perlu memproses memahami pikiran orang lain. Oleh karena itu maklumilah jalan pikiran orang lain, namun tetap mencoba mengemukakan perihal yang menurut kita baik dan benar dengan cara yang paling bijak, sehingga saling memaklumi. Jangan memojokkan dengan menyebarkan perihal yang menurut kita berbeda. Ini akan bisa menjebak kita pada sikap ghibah, namimah bahkan fitnah. Maklumi saja jalan pikirannya, dengan tetap bergaul baik dangannya. 
3.   Menghormati, bukan memaki
Berikan ruang yang sama sebagai saudara seaqidah. Gaulilah dengan baik tanpa dinding, ia saudara kita yang sama-sama menyembah Allah saja. Hanya saja ada hal yang tidak sama, tidak bisa dipaksakan untuk sama, karena ada pemikiran yang belum nyambung dengan kita. Ini semua dipengaruhi cara pandang yang berbeda. Hormati saja, jangan memakinya, baik dibelakang maupun didepannya. Ini akan menimbulkan semakin meruncing, perang dingin dan ummat islam ini makin jauh dari kemajuan. Karena hanya mempertentangkan perihal budaya dan hal-hal mahdo.
4.   Toleransi, bukan menjauhi
Nabi Muhammad bisa menerapkan toleransi antar ummat beragama di madinah, bahkan toleransi antar ummat beragama. Dengan Piagam Madinah, masyarakat Yasrib benar-benar menjadi contoh Negara yang menerapkan toleransi dalam beragama. Kepada ummat non muslim, dalam hal ini kafir dhimmi saja Rasulullah Solallahu Alaihi Wasallam mengharuskan kita bertoleransi, apatalagi dengan saudara semuslim. Ayo bersatulah, jangan berpecah.
5.   Saling memberdayakan dan menolong dalam kebaikan
Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling bermanfaat sesama muslim, apapun perbedaan madzab yang dipilih. Setelah mencoba mengamalkan empat perihal di atas, saya rasa hal yang kelima ini akan mudah dilakukan. Karena proses pemahaman dan sikap kita telah rela menerima perbedaan. Saling tolong menolong dalam kebaikan tidak harus sama madzabnya, selama untuk kemaslakhatan ummat manusia, sah-sah saja selama cara dan prinsipnya tidak keluar dari aqidah islamiah.
6.   Belajar lagi dan belajar lagi
Memahami adalah belajar, memaklumi juga terus belajar, menghormati pun perlu terus belajar, toleransi tentu juga perlu dilatih dan saling memberdayakan juga bagian dari belajar menggali manfaat. Hingga pada kenyataannya kita tidak boleh kolot, fanatik dan menutup pemikiran untuk maju. Karena Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan untuk menjalin silaturohim. Yang sangat banyak manfaatnya, kita bisa belajar dari pola pikir orang lain. Kemudian kita akan  bisa mengambil kesimpulan sikap kita, mana yang kita teruskan dan mana yang kita tanggalkan. Oleh karena itu teruslah belajar, baik dalam bimbingan, diskusi dan lain sebagainya, agar khazanah keilmuan semakin luas yang mengantaran makin bijak kita bersikap.
Ajaran Ilahi untuk Semua
Ajaran ketuhanan (Ilahiyah) sangat menganjurkan untuk bisa bersikap inklusif (terbuka) dengan pemeluk agama lain, tentu dalam hal-hal sosial kemasyarakatan. Ajaran Ilahi bersifat aplikatif dan solutif terhadap segala masalah keduniawian dan ukhrowi. Islam ada untuk merangkul bukan menghancurkan dan bukan merusak tatanan. Manusia yang serba majemuk, terkadang harus kita sadari sesadar sadarnya, bahwa tafkir-nya (pemikirannya) juga berbeda-beda. Saya akan mencoba mengutip salah satu isi Piagam Madinah yang berisi 58 poin penting sebagai bukti betapa Rasulullah SAW telah mencoba membangun masyarakat yang bersatu dan saling bertoleransi antar ummat beragama sebagai berikut :
“Mereka hendakknya saling menasehati dan berbuat kebaikan, serta menjauhi segala perbuatan dosa”.
(dikutip dari buku “Madinah kota suci, Piagam Madinah dan Teladan Muhammad SAW karangan Zuhairi Misrawi)

Semoga menyadarkan kita semua untuk bisa bersatu dalam membangun kemaslakahatan, sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan Madinah Munawarohnya, sebuah negara yang dibangun pondasi aqidah yang kuat dan kerukunan yang kuat pula. Karena memang ajaran Ilahi untuk semua. Wallua’alam.

Optimis

Rofiq Abidin
OPTIMIS SAJA…
Oeh : Rofiq Abidin, CT. CM. CMT. SMI



كَانَ النَبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ الْفَأْلُ الْحَسَنُ وَيَكْرَهُ الطِّيَرَةً. رواه أبن مجة.

Nabi Muhammad Sollahu Alaihi Wassalam mengagumi optimisme yang baik dan membenci psimisme, (HR. Ibnu Majah)

Seseorang tukang becak pernah berkata kapada saya, “Ilmu dan duniawi itu bisa dicari, maka kita harus berusaha, namun garis nasib itu Tuhan yang menentukan”. Percakapan ringan yang berkualitas ini membuat saya tertarik untuk banyak tahu tentang dia. Ia tak menyerah untuk mewarisi anaknya dengan ilmu, yang akan menjadi modal kehidupan selanjutnya, walau ia tukang becak ia ingin anak-anaknya memiliki pendidikan tinggi. Tak ada kata menyerah dalam kamusnya, ia selalu optimis. Tentu ini pelajaran berharga bagi siapa saja yang mengalami kelelahan mencari solusi hidup. Kita manusia tidak tahu bagaimana garis hidup kita, namun kita harus yakin bahwa jika hamba Allah bertawakal, maka pasti Allah akan mencukui keperluannya, kebutuhannya. Ingat, bukan semua keinginan. Karena Allah tahu mana yang akan sanggup kita pikul dan mana yang justru akan menjerumuskan kita jauh darinya. Jika manusia ngotot menginkan yang tidak baik untuknya, maka dengan izin Allah, bisa saja dikabulkan. Setelah itu, Allah membiarkan kita tanpa bimbingan, apa kita mau?.
Optimis saja, karena Allah pasti membantu hamba-hambaNya yang mau sabar. Dalam makna gigih, ulet dan pantang menyerah. Jangan ada keraguan menatap masa hadapan. Jika hari ini anda sedang tidak diberi ruang untuk maju, ruang untuk diterima, ruang untuk dicintai, teruslah bertawakal, karena Allah pasti akan membantu dengan izinNya. Tidak ada yang imposible selama kita meraihnya bersama Allah Subhanau Wata’ala. Rosulullah Sollaahu Alaihi Wassalam Sang Motivator terbaik sangat mengagumi ummatnya yang optimis. Maknanya, ummat islam tidak boleh psimis, bimbang, ragu-ragu, skeptis dan istilah lainnya.

Jika saja ada keadaan yang sepertinya tidak diinginkan datang, bahkan bertubi-tubi, jadikan itu sebagai pelatihan hidup. Pelatihan untuk menjadi hamba yang sabar, hamba yang makin iklash dan hamba yang makin bersyukur. Cobaan tidak selamanya datang mendera, karena dibalik satu kesulitan aka nada dua kemudahan. Dibalik satu ujian, pasti ada hikmah dan hadiah yang dipersiapkan untuk hambaNya, dengan syarat sabar dan ikhlash menjalaninya. Jangan pernah bosan berbuat baik, karena kebaikan sekecil apapun adalah tanaman yang jika diamalkan dengan ikhlas, maka akan berbuah dimasa yang akan datang, mungkin kita akan memetiknya saat kita terjadi kesempitan. Bahkan Allah yang akan memetikkan untuk kita, untuk kebaikan kita dan kemudahan urusan kita. Optimis sajalah, Allah pasti membalas apa saja kebaikan yang kita tanam. Siramilah dengan rasa ikhlas, rasa yakin dan do’a. Jangan merusaknya dengan riya’ dengan dengki dan hasad. Semoga Allah menjaga optimes kita dengan cita-cita mulia kita. Sehingga Allah membuka jalan kemudahan untuk apa saja urusan baik kita. Aamiin. Wallahua’lam.

Setan menakuti kemisknan

Rofiq Abidin

Setan Menakutimu dengan Kemiskinan

Setan Menakutimu dengan Kemiskinan

Salah satu strategi setan untuk menggagalkan rencana baik manusia adalah menakut-nakuti dengan kemiskinan. Allah berfirman,

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ -٢٦٨-

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu”
(Al-Baqarah 268)
Kita pasti pernah merasakan, ingin bersedekah tapi merasa sayang. Ingin memberi namun tiba-tiba muncul keraguan. Ingin berbagi kebaikan namun datang bermacam bisikan.
Jika dalam posisi seperti ini kita merasa takut harta akan habis jika di infakkan maka ketahuilah bahwa setan telah berhasil menakut-nakutimu dengan kemiskinan.
Jangan pernah menunda untuk berbuat kebaikan, karena setan tidak akan pernah berhenti berusaha untuk menggagalkannya.

2 senjata

Rofiq Abidin

2 Senjata Melawan Tipu Daya Musuh

2 Senjata Melawan Tipu Daya Musuh

 Islam sedang diserang dari segala arah. Islam sedang dikepung oleh musuh-musuh Allah. Kaum muslimin diserang mulai dari sisi ekonomi, budaya, politik, pemikiran bahkan serangan militer.
Bermacam tipu daya dan makar mereka siapkan untuk merongrong islam. Lalu bagaimana tips Al-Qur’an untuk menghadapi tipu daya ini?
Allah berfirman,

وَإِن تَصْبِرُواْ وَتَتَّقُواْ لاَ يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئاً إِنَّ اللّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ -١٢٠-

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun. Sungguh, Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.”
(Ali Imran 120)

Al-Qur’an hanya memberi dua syarat agar tipu daya musuh tidak dapat merugikan kita yaitu dengan :
  1. Bersabar.
  2. Bertakwa.
Salah satu senjata terpenting untuk melawan tipu daya musuh adalah kesabaran. Sabar dalam berjuang dan sabar dalam mempertahankan iman. Selain itu, wujud kesabaran juga dengan menerima ketentuan Allah dan meyakininya sebagai yang terbaik.
Sementara takwa adalah takut dengan Allah dan senantiasa berjalan di jalur yang telah diridhoi-Nya.
Sabar dan takwa menjadi penting untuk menepis tipu daya musuh karena sebagian kaum muslimin telah keluar dari jalur islam dalam perjuangan mereka. Ada yang tidak bersabar hingga pesimis dan tidak bertakwa sehingga “membela” islam dengan cara-cara yang tidak islami.
Jika kamu bersabar dan bertakwa,
tipu daya mereka tidak akan menyusahkan kamu sedikit pun

Janda Bisnis dengan Allah

Rofiq Abidin

Janda Miskin yang Diajak Berbisnis oleh Allah

Kisah : Janda Miskin yang Diajak Berbisnis oleh Allah
 Pengetahuan manusia sangat terbatas kepada hakikat dunia ini. Terlalu banyak keindahan yang menipu. Banyak pula kepahitan yang sebenarnya adalah pintu kebahagiaan. Namun mata manusia tertutupi oleh hijab-hijab dunia dan tidak bisa mengetahui hakikat sebenarnya.
Allah berfirman,

وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ -٢١٦-

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah Mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(Al-Baqoroh 216)
Dikisahkan ada seorang wanita yang amat miskin. Dia hidup bersama anak-anaknya yang masih kecil. Pekerjaannya adalah memintal bulu domba menjadi benang untuk dijual kembali.
Hari itu dia membeli makanan pokok dan bulu dipasar untuk dia jadikan menjadi benang. Setelah selesai memintal, dia menaruh benang yang sudah jadi untuk siap dijual. Tiba-tiba ada seekor burung gagak yang mengambil benangnya itu. Sementara hanya itulah satu-satunya barang berharga yang ia miliki untuk dijual.
Dengan wajah marah dan kecewa dia mendatangi Nabi Daud as dan berkata,
“Wahai Nabi Allah, bukankah Allah itu adil?”
“Ya, Allah itu adil.” Jawab Nabi Daud as.
Kemudian wanita ini bercerita,
“Aku adalah seorang janda yang memiliki anak-anak yatim. Hidupku sangat kekurangan. Satu-satunya harta yang ku miliki hanyalah benang yang akan ku jual ke pasar. Namun tiba-tiba ada seekor gagak datang dan mencuri benangku itu. Lalu dimana keadilan Allah?”
Lalu dia berkata, “Aku tidak tau lagi apa yang harus aku perbuat !”
Mendengar itu Nabi Daud terdiam dan berpikir.
Beberapa saat kemudian, ada 10 orang yang datang untuk menemui beliau.
Mereka berkata, “Demi Allah, sebelumnya kami berada diatas perahu ditengah lautan. Tiba-tiba perahu kami rusak dan hampir menenggelamkan kami. Lalu kami bernadzar satu per satu untuk bersedekah sebanyak 10 dinar jika Allah menyelamatkan kami. Tiba-tiba ada gagak yang terbang dan menjatuhkan sesuatu. Ternyata dia menjatuhkan benang dan kami dapat memperbaiki perahu kami dengan benang itu. Dan kami pun selamat.”
Kemudian mereka memberikan uang itu kepada Nabi Daud as. “Dan inilah uang sesuai nadzar kami untuk disedekahkan.”
Nabi Daud as berkata, “Berikanlah pada wanita ini.”
Kemudian beliau berkata, “Ini merupakan wujud dari Kasih sayang Allah dan Keadilan-Nya.”
Coba bayangkan harga benang yang amat murah bisa menghasilkan untung yang berlipat ganda ketika Allah telah Berkehendak. Masih adakah yang enggan untuk berbisnis dengan Allah?

فَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً -١٩-

“Karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah Menjadikan kebaikan yang banyak padanya.”
(An-Nisa’ 19)

Anak Hajji Sendirian

Rofiq Abidin

Seorang Anak Kecil Pergi Haji Sendirian

Kisah : Seorang Anak Kecil Pergi Haji Sendirian
Seorang tokoh sufi bernama Ibrahim bin Adham dan Fatah Al-Musili pernah bercerita,
Suatu hari aku pernah berjalan bersama rombongan kafilah melewati gurun pasir. Tiba-tiba aku merasa harus segera menyalurkan hajat. Akhirnya aku menjauh sejenak dari kafilah untuk menyelesaikan urusanku.
Setelah itu aku melihat ada seorang anak kecil berjalan sendirian. Aku berkata,
“Subhanallah, ditengah gurun pasir ini ada anak kecil berjalan sendirian !”
Aku mendekatinya dan memberi salam. Dia pun menjawab salamku. Kemudian aku bertanya,
“Mau kemana engkau?”
Dia menjawab, “Aku ingin ke rumah Tuhanku”
“Sayangku.. Engkau ini masih kecil. Tidak ada kewajiban atau sunnah untukmu (untuk berhaji).” Kataku.
Dia menjawab, “Wahai Syaikh, bukankah kau melihat ada seorang anak yang lebih kecil dariku telah mati?”
Aku tidak bisa berkata lagi, “Lalu mana kendaraan dan bekalmu?”
Ia menjawab, “Bekalku adalah takwaku, kendaraanku adalah kedua kakiku, dan tujuanku adalah Tuhanku.”
Aku pun terheran, lalu aku berkata “Aku tidak melihat ada makanan sedikitpun yang kau bawa.”
“Wahai Syaikh, apakah pantas jika engkau hendak memenuhi undangan seseorang ke rumahnya lalu engkau membawa makanan sendiri dari rumah?” Dia balas bertanya.
Aku menjawab, “Jelas tidak pantas.”
“Yang mengundangku kerumah-Nya, Dia lah yang memberi makan dan minum untukku.” Jawabnya.
Aku pun berkata, “Bergegaslah engkau agar cepat sampai di tujuanmu.”
“Aku hanya berusaha, Dia lah yang menyampaikanku pada tujuan. Bukankah engkau pernah mendengar firman Allah swt,

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ -٦٩-

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan Tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(Al-Ankabut 69)
Ditengah perbincangan itu, tiba-tiba ada seorang pemuda yang amat tampan datang dengan pakaian putih yang indah. Dia langsung memeluk anak kecil itu dan mengucapkan salam kepadanya. Aku segera mendekatinya dan bertanya, “Demi ketampanan wajahmu, siapa sebenarnya anak kecil ini?”
“Kau tidak tau siapa dia? Anak kecil ini adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi tholib.” Jawabnya.
Aku segera meninggalkan pemuda itu dan mendekati si anak kecil. “Aku memohon demi ayah-ayahmu, siapa pemuda tampan ini?”
“Tidak tahukah engkau, dia adalah saudaraku khidir. Dia mendatangi kami setiap hari dan mengucapkan salam untuk kami.” Jawabnya.
“Aku memohon demi ayah-ayahmu, beritahukan kepadaku bagaimana engkau melalui padang pasir tanpa membawa bekal?” Tanyaku.
“Aku membawa 4 bekal.”
“Apakah itu?” Aku kembali bertanya.
“Aku melihat dunia dan seisinya adalah kerajaan Allah.
Dan aku melihat seluruh makhluk adalah hamba-hamba Allah.
Seluruh sebab dan rezeki ada ditangan Allah.
Dan aku melihat ketentuan Allah pasti terjadi di atas bumi-Nya.”
Kemudian aku berkata, “Sebaik-baik bekal adalah bekalmu. Dan dengan bekal itu engkau akan melalui gurun-gurun akhirat. Apalagi hanya gurun-gurun dunia ini.”

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى -١٩٧-

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”
(Al-Baqarah 197)

Ulat buta

Rofiq Abidin

Seekor Ulat Buta Terkurung di dalam Lautan, Bagaimana ia Memperolah Rezekinya?

Kisah : Seekor Ulat Buta Terkurung di dalam Lautan, Bagaimana ia Memperolah Rezekinya?
Setiap berbicara tentang rezeki, Allah selalu menekankan bahwa Dia yang Memberi, Dia yang membagi, Dia yang mengatur. Seakan Allah ingin menjelaskan bahwa rezeki manusia itu urusan Allah dan Dia lah yang menanggung semuanya.

وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ -٧٠-

“Dan Kami Beri mereka rezeki dari yang baik-baik.”
(Al-Isra’ 70)

نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُم مَّعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا -٣٢-

“Kami-lah yang Menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.”
(Az-Zukhruf 32)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahwa rezeki makhluk telah ditanggung oleh Penciptanya.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللّهِ رِزْقُهَا -٦-

“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan semuanya Dijamin Allah rezekinya.”
(Huud 6)
Suatu hari, Nabi Sulaiman as duduk di tepian pantai. Beliau melihat seekor semut yang berjalan ke laut dengan membawa biji padi. Dia memperhatikan semut itu semakin mendekati lautan.
Ketika semut itu telah sampai di laut, tiba-tiba seekor katak mengeluarkan kepalanya dari air. Ia membuka mulutnya dan masuklah semut itu ke dalam mulut katak. Lalu mereka masuk kembali ke dalam air.
Nabi Sulaiman takjub dengan kejadian ini. Dia berpikir sejenak lalu dikagetkan dengan katak yang muncul kembali ke daratan. Katak itu membuka mulutnya dan keluarlah semut itu tanpa membawa biji padi yang sebelumnya ia bawa.
Karena penasaran, Nabi Sulaiman memanggil si semut dan bertanya darimana dia dan apa yang dia lakukan?
Dia menjawab, “Wahai nabi Allah, sungguh di dasar lautan yang kau lihat ini ada batu karang yang berlubang. Di dalam lubang itu ada seekor ulat yang buta. Dan Allah menciptakannya dalam keadaan demikian. Dia pun tidak mampu keluar dari tempat itu untuk mencari makan.
Kemudian Allah menugaskanku untuk mengantarkan rezekinya. Aku membawa makanan untuknya sementara Allah telah menyediakan katak untuk mengantarku ke dalam. Dengan katak itu aku aman dari air laut.
Dia meletakkanku di lubang karang dan aku memasukinya. Setelah aku memberi makanan itu kepada ulat, aku kembali masuk ke dalam mulut katak dan dia mengantarkanku keluar dari lautan.
Kemudian Nabi bertanya, “Apakah kamu mendengar tasbih dari ulat itu?”
Semut menjawab, “Iya, dia berkata,
–Wahai yang tidak Melupakanku dengan rezeki-Nya di lubang lautan ini. Janganlah Engkau lupakan hamba-hamba-Mu yang mukmin dengan rahmat-Mu”
Imam Ali bin Abi tholib pernah ditanya, “jika pintu pencarian rezeki seseorang telah ditutup, darimana ia akan memperoleh rezekinya?”
Beliau menjawab, “Sebagaimana ajalnya akan datang, begitupula rezekinya akan sampai kepadanya.”
Jika tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi datangnya ajal, begitupula tidak ada yang mampu menghalangi datangnya rezeki dari Allah swt.

“Aku tau bahwa rezeki ku tidak akan dimakan oleh selainku, karenanya aku tenang.”

(Imam Ja’far As-Shodiq)

70 ribu malaikat

Rofiq Abidin


Kisah: Jenazah yang Diantar Oleh 70 Ribu Malaikat
 Pada zaman Rasuluullah saw, ada seorang sahabat bernama Sa’ad. Hari itu ia meninggal dunia.
Tidak seperti biasanya, Rasulullah begitu sibuk mengurusi jenazah orang ini. Tanpa serban dan alas kaki beliau mengangkat keranda, berlari kesana kemari untuk mengantarnya menuju liang kubur. Sesampainya di kuburan, beliau pun turun ke dalam dan menata serta membenahi liang itu.
Para sahabat terheran, kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, engkau melakukan sesuatu yang tidak biasa. Tanpa surban dan alas kaki berlari ke kanan dan kiri untuk mengangkat keranda ini.”
Rasul menjawab, “Demi Allah, aku melihat Jibril dan para malaikat melakukan apa yang kulakukan.”
Sahabat itu bertanya lagi, “Kenapa sampai demikian wahai Rasulullah?”
“Orang ini selalu membaca Surat “Qul Huwallahu ahad” dalam keadaan duduk, berdiri dan berjalan. Dan tahukah engkau, ada 70 ribu malaikat yang hadir di pemakaman ini.”
Dari kejauhan, datanglah ibu dari jenazah ini. Melihat Rasulullah berada di dalam liang lahat, ia menjerit “Sungguh beruntung engkau wahai putraku Sa’ad. Kau pasti akan masuk surga.”
Ketika mendengar ibu ini, Rasul menegurnya, “Sebentar wahai ibu Sa’ad, janganlah engkau menentukan sesuatu mendahului Allah swt. Putramu ini sedang dihimpit di dalam kuburnya.”
“Kenapa wahai Rasulullah?” tanya sang ibu.
“Karena perangainya buruk didalam keluarganya.”
Bayangkan, setelah mendapat kemuliaan diantar oleh Rasulullah dan 70 ribu malaikat. Ternyata orang ini masih saja mendapat kesulitan dalam kuburnya disebabkan akhlak yang buruk kepada keluarganya.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ -١٩-

“Dan bergaullah dengan mereka (istri) dengan cara yang baik.”
(An-Nisa’ 19)

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik bagi keluargaku.”
(Rasulullah saw)

لَايَكُنْ اَهْلُكَ اَشْقَى الْخَلْقِ بِكَ

“Jangan sampai keluargamu menjadi orang yang paling menderita karenamu.”
(Ali bin Abi tholib)


Jenazah yang Diantar Oleh 70 Ribu Malaikat

Dua Organ

Rofiq Abidin

2 Organ Tubuh yang Terbaik dan Terburuk

Kisah: 2 Organ Tubuh yang Terbaik dan Terburuk

 Dalam banyak riwayat, Rasulullah saw sering menekankan untuk menjaga lisan. Walaupun lidah adalah anggota tubuh yang kecil, namun ia adalah penentu keselamatan seseorang. Allah berfirman,

وَقُولُواْ لِلنَّاسِ حُسْناً -٨٣-

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia.”
(Al-Baqarah 83)

Allah Ciptakan dua telinga dan satu lidah agar manusia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Karenanya, Allah selalu mengingatkan manusia untuk berhati-hati dalam berbicara. Karena setiap yang terucap pasti ada pertanggung jawabannya.

مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ -١٨-

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”
(Qaf 18)

Suatu hari, majikan dari Luqman Al-hakim memanggilnya, ia pun berkata,
“Wahai Luqman, potonglah seekor kambing dan bawakan kepadaku 2 potong daging terbaik darinya.”
Luqman menuruti perintah majikannya. Ia potong seekor kambing kemudian ia datang dengan membawa hati dan lidah kambing itu.
Kemudian si majikan kembali menyuruhnya untuk menyembelih satu ekor lagi dan membawa 2 potong daging yang paling buruk.
Luqman kembali menyembelih kambing dan membawakan 2 daging yang sama kepada majikannya, hati dan lidah.
Lalu si majikan bertanya tentang keanehan ini, Luqman pun menjawab,

“Hati dan lidah adalah organ terbaik jika keduanya digunakan dengan baik. Dan keduanya bisa saja menjadi organ terburuk jika digunakan untuk keburukan.

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates