Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Minggu, 05 Juli 2015

Jagalah Hati

Rofiq Abidin
MENJAGA HATI
Oleh : Rofiq Abidin, CT. CM


«أَلا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» رواه البخاري ومسلم.

“Ketahuilah! Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak. Maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah! ia adalah hati”.

Hati merupakan pusat kehendak prilaku manusia, sumber irodah. Yang merespon apa saja yang hadir di hadapannya, atau apa saja yang menyentuh inderawi tubuh manusia. Baik sentuhan secara fisik maupun psikis. Hati juga menjadi kunci, baik buruknya prilaku seseorang. Karena hati yang menjadi raja dalam tubuh manusia. Maka, barang siapa pandai mengendalikannya ia akan menjadi pribadi yang baik dan mulia. Namun, jika sebaliknya ia akan menjadi pribadi yang tercela atas ketidaksanggupan mengendalikan hatinya. Semua prilaku yang bernilai baik dan benar atas dasar pengarahan dari hati, jika hati sedang bersih dan suci serta ikhlas, maka sebuah penilaian akan murni yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Karena suara yang keluar dalam hati akan senantiasa suka dan berkenan dengan kebenaran, dan menolak segala yang bernilai salah, jahat dan jahil. Banyak manusia yang meminta ma’af atas apa saja yang tidak berkenan di hati, ini menandakan bahwa hati begitu halus dan lembut. Pun juga hati bisa menjadi bagaikan baja, manakala hati yang sedang berkemauan kuat, memegang prinsip dan hati yang telatih oleh cobaan berat.

Makna dan Pengertian Hati
Kata-kata hati dalam bahasa Arab dinamai dengan beberapa nama, diantaranga adalah Al Qolbu, Al Fuadu, Ash Shadru. Dinamakan Al Qolbu ada dua sebab. Yang pertama, karena menunjukkan pusat (jantung) sesuatu, sebagaimana kota makah disebut Qalbul Ardhi (pusat bumi), karena letaknnya ditengah-tengah bumi. Sebagaimana hati dalam tubuh manusia adalah pusat kendali dan kembali segala aktifitas tubuh. Yang kedua, karena sifatnya yang berbolak-balik. Sebagaimana disebutkan oleh Nabi Sholallahu Alaihi Wassallam dalam sabdanya :

«لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ القِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْياً» رواه أحمد (6/4)، وصححه الألباني فِي “الصحيحة” (1772).
“Sungguh hati anak Adam lebih cepat berbolak-balik dari periuk yang sedang sangat mendidih”.
Selanjutnya dinamakan Al Fuadu, karena bermacam-macamnya pikiran, keyakinan dan perasaan yang tersimpam dalamnya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al Qur’an:
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya“.
Maka hati akan ditanya tentang apa yang ia pikirkan dan apa yang diyakininya.
Dan selanjutnya dinamakan Ash Shadru (dada). Sebagaimana Allah sebutkan dalam firma-Nya:
{يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر/19]
“Dia mengetahui mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.
Karena tempat hati terletak dalam dada, sebagaimana firman Allah:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.

Menjaga Hati
Hati yang terjaga, sehat dan hati yang sakit sangat tampak dari pancaran sikap dan prilakunya, baik secara fisik, maupun emosional. Baiklah, kita coba menyelami ciri-ciri hati yang sakit. Berikut ini ciri-cirinya :
1.    Sulit mengikuti aturan Allah
2.    Tidak merasa bersalah, saat berbuat salah/dosa
3.    Tidak mudah tersentuh oleh kebesaran dan kekuasaan Allah
4.    Cederung berpihak kepada keburukan (kemalasan, kedengkian, dendam dll), daripada kebaikan (Disiplin, memaafkan, dan ketaatan)
Untuk menjaga hati agar tidak mudah sakit, sangat diperlukan terapi hati. Agar hati lebih tenang, lebih terkendali dan lebih kokoh dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Berikut ini terapi yang perlu di coba :
1.    Membiasakan ucapan dzikir dari pada mengumpat, mencela dan penyakit hati lainnya. Ucapan kita adalah cerminan gejolak hati kita, apakah sedang tenang, penuh kebencian atau sedang dalam kegundahan yang dalam.
2.    Mendahulukan panggilan Allah dari pada kepentingan duniawi. Sesibuk apapun urusan duniawi kita, tinggalkanlah jika ada panggilan Allah untuk menunaikan. Hati yang terus berusaha tunduk dan berserah diri kepada Allah yang akan terus mendapat bimbingan.
3.    Membiasakan syukur dengan segala nikmat. Pengakuan terimakasih atas nikmat yang sedang didapati. Adalah bentuk keyakinan bahwa nikmat apapun yang didapat adalah dari Allah. Biasakan mengucap hamdalah dengan penghayatan. Agar tidak mudah sombong dan iri hati.
4.    Menggantungkan segala harapan hanya kepada Allah dengan doa yang khusuk. Allah yang tahu kebutuhan kita, Allah pulalah yang memenuhinya. Maka pasrahkanlah harapan kita kepada Allah, mendo’alah dengan penuh keyakinan. Ini akan membuat hati kita tetap terarah walau mengalami tantangan berat saat mencapai harapan
5.    Kuatkan setiap keinginan baik. Apapun krentek ati (irodah/kehendak hati) yang baik, kuatkanlah!. Dengan memulainya dari yang mudah, dari yang kecil dan dari saat itu juga. Agar hati makin terlatih untuk mengikuti kebaikan dan kesalehan-kesalehan
6.    Mengutamakan maaf dari pada dendam. Jangan merawat dendam, tapi maafkanlah. Dengan memaklumkannya, dengan mendoakannya dan dengan memberi pesan dan kesan yang baik.
7.    Perkokoh keimanan dengan ilmu dan amal kebajikan. Keenam hal diatas sangat berporos dari hal yang ketujuh, yakni keimanan. Maka teruslah belajar, dengan berbagai kajian dan kejadian dan teruslah bermal dengan landasan keutulusan. Insyaa Allah akan memberikan ketenangan dan kesehatan bagi hati.

Perbaikilah semua dari hati kita, perbaikilah amal kita dengan hati yang ikhlas. Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita untuk condong kepada keimanan dan kesolehan. Wallahua’lam

Rofiq Abidin / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 komentar:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates