MENJAGA HATI
Oleh : Rofiq Abidin, CT. CM
«أَلا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» رواه البخاري ومسلم.
“Ketahuilah! Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging,
apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak. Maka rusaklah
seluruh tubuh. Ketahuilah! ia adalah hati”.
Hati merupakan pusat kehendak prilaku manusia,
sumber irodah. Yang merespon apa saja yang hadir di hadapannya, atau apa saja
yang menyentuh inderawi tubuh manusia. Baik sentuhan secara fisik maupun
psikis. Hati juga menjadi kunci, baik buruknya prilaku seseorang. Karena hati
yang menjadi raja dalam tubuh manusia. Maka, barang siapa pandai
mengendalikannya ia akan menjadi pribadi yang baik dan mulia. Namun, jika
sebaliknya ia akan menjadi pribadi yang tercela atas ketidaksanggupan
mengendalikan hatinya. Semua prilaku yang bernilai baik dan benar atas dasar
pengarahan dari hati, jika hati sedang bersih dan suci serta ikhlas, maka
sebuah penilaian akan murni yang haq itu haq dan yang batil itu batil. Karena
suara yang keluar dalam hati akan senantiasa suka dan berkenan dengan
kebenaran, dan menolak segala yang bernilai salah, jahat dan jahil. Banyak
manusia yang meminta ma’af atas apa saja yang tidak berkenan di hati, ini
menandakan bahwa hati begitu halus dan lembut. Pun juga hati bisa menjadi
bagaikan baja, manakala hati yang sedang berkemauan kuat, memegang prinsip dan
hati yang telatih oleh cobaan berat.
Makna dan Pengertian Hati
Kata-kata hati dalam bahasa Arab dinamai dengan
beberapa nama, diantaranga adalah Al Qolbu, Al Fuadu, Ash Shadru. Dinamakan Al
Qolbu ada dua sebab. Yang pertama, karena menunjukkan pusat (jantung)
sesuatu, sebagaimana kota makah disebut Qalbul Ardhi (pusat bumi), karena
letaknnya ditengah-tengah bumi. Sebagaimana hati dalam tubuh manusia adalah
pusat kendali dan kembali segala aktifitas tubuh. Yang kedua, karena sifatnya
yang berbolak-balik. Sebagaimana disebutkan oleh Nabi Sholallahu Alaihi
Wassallam dalam sabdanya :
«لَقَلْبُ ابْنِ آدَمَ
أَشَدُّ انْقِلَابًا مِنَ القِدْرِ إِذَا اجْتَمَعَتْ غَلْياً» رواه أحمد (6/4)،
وصححه الألباني فِي “الصحيحة” (1772).
“Sungguh hati anak Adam lebih
cepat berbolak-balik dari periuk yang sedang sangat mendidih”.
Selanjutnya dinamakan
Al Fuadu, karena bermacam-macamnya pikiran, keyakinan dan perasaan yang
tersimpam dalamnya. Sebagaimana Allah sebutkan dalam Al Qur’an:
إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya“.
Maka hati akan ditanya
tentang apa yang ia pikirkan dan apa yang diyakininya.
Dan selanjutnya dinamakan
Ash Shadru (dada). Sebagaimana Allah sebutkan dalam firma-Nya:
{يَعْلَمُ خَائِنَةَ
الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ} [غافر/19]
“Dia mengetahui mata yang
khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati”.
Karena tempat hati
terletak dalam dada, sebagaimana firman Allah:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى
الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]
“Sesungguhnya bukanlah mata itu
yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.
Menjaga Hati
Hati yang
terjaga, sehat dan hati yang sakit sangat tampak dari pancaran sikap dan
prilakunya, baik secara fisik, maupun emosional. Baiklah, kita coba menyelami
ciri-ciri hati yang sakit. Berikut ini ciri-cirinya :
1. Sulit
mengikuti aturan Allah
2. Tidak
merasa bersalah, saat berbuat salah/dosa
3. Tidak
mudah tersentuh oleh kebesaran dan kekuasaan Allah
4. Cederung
berpihak kepada keburukan (kemalasan, kedengkian, dendam dll), daripada
kebaikan (Disiplin, memaafkan, dan ketaatan)
Untuk
menjaga hati agar tidak mudah sakit, sangat diperlukan terapi hati. Agar hati
lebih tenang, lebih terkendali dan lebih kokoh dalam menjalankan perintah-perintah
Allah. Berikut ini terapi yang perlu di coba :
1. Membiasakan
ucapan dzikir dari pada mengumpat, mencela dan penyakit hati lainnya. Ucapan
kita adalah cerminan gejolak hati kita, apakah sedang tenang, penuh kebencian
atau sedang dalam kegundahan yang dalam.
2. Mendahulukan
panggilan Allah dari pada kepentingan duniawi. Sesibuk apapun urusan duniawi
kita, tinggalkanlah jika ada panggilan Allah untuk menunaikan. Hati yang terus
berusaha tunduk dan berserah diri kepada Allah yang akan terus mendapat
bimbingan.
3. Membiasakan
syukur dengan segala nikmat. Pengakuan terimakasih atas nikmat yang sedang
didapati. Adalah bentuk keyakinan bahwa nikmat apapun yang didapat adalah dari
Allah. Biasakan mengucap hamdalah dengan penghayatan. Agar tidak mudah sombong
dan iri hati.
4. Menggantungkan
segala harapan hanya kepada Allah dengan doa yang khusuk. Allah yang tahu
kebutuhan kita, Allah pulalah yang memenuhinya. Maka pasrahkanlah harapan kita
kepada Allah, mendo’alah dengan penuh keyakinan. Ini akan membuat hati kita
tetap terarah walau mengalami tantangan berat saat mencapai harapan
5. Kuatkan
setiap keinginan baik. Apapun krentek ati (irodah/kehendak hati) yang
baik, kuatkanlah!. Dengan memulainya dari yang mudah, dari yang kecil dan dari
saat itu juga. Agar hati makin terlatih untuk mengikuti kebaikan dan
kesalehan-kesalehan
6. Mengutamakan
maaf dari pada dendam. Jangan merawat dendam, tapi maafkanlah. Dengan
memaklumkannya, dengan mendoakannya dan dengan memberi pesan dan kesan yang
baik.
7. Perkokoh
keimanan dengan ilmu dan amal kebajikan. Keenam hal diatas sangat berporos dari
hal yang ketujuh, yakni keimanan. Maka teruslah belajar, dengan berbagai kajian
dan kejadian dan teruslah bermal dengan landasan keutulusan. Insyaa Allah akan
memberikan ketenangan dan kesehatan bagi hati.
Perbaikilah
semua dari hati kita, perbaikilah amal kita dengan hati yang ikhlas. Semoga
Allah senantiasa menjaga hati kita untuk condong kepada keimanan dan kesolehan.
Wallahua’lam











0 komentar:
Posting Komentar