Penghapus Pahala, Stop Yuk!
Oleh : Rofiq Abidi,
CT, CM
Apakah
ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam
buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai
keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang
mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. AL Baqarah : 266)
Begitu indah permisalan yang Allah buat
melalui firmanNya. Ayat di atas kurang lebih memberi gambaran bahwa ada hamba
Allah yang kaya amal, namun ada api yang membakar amalan-amalannya sendiri. Jadi,
kekayaan amal yang telah dibangun dari kecil sampai tua, yang digambarkan
hingga memiliki keturunan itu terhapus nilai pahalanya oleh karena beberapa
perbuatannya sendiri. Nau’dzzubillah min dzalik. Sungguh kesiasiaan yang
seharusnya tidak perlu. Sama seperti kita membuat bangunan ada yang merobohka
bangunan itu, jadi ada amal-amal yang merusak nilai amal-amal sholih.
Waspadalah!, karena boleh jadi kita tidak menyadarinya.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata:
"Allah membuat permisalan tentang sebuah amalan." Umar bertanya: "Amalan apa?" Beliau menjawab: "Amalan ketaatan seorang yang kaya, kemudian Allah mengutus setan kepadanya hingga orang itu berbuat maksiat yang pada akhirnya setan menghanguskan amalannya." [HR. Bukhari (no. 4538). Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/280)].
"Allah membuat permisalan tentang sebuah amalan." Umar bertanya: "Amalan apa?" Beliau menjawab: "Amalan ketaatan seorang yang kaya, kemudian Allah mengutus setan kepadanya hingga orang itu berbuat maksiat yang pada akhirnya setan menghanguskan amalannya." [HR. Bukhari (no. 4538). Lihat Tafsir Ibnu Katsir (I/280)].
Dengan demikian, amalan-amalan apa saja yang
harus kita hindari, agar kita tidak terperangkap baik sadar maupun tidak
menyadarinya. Berikut inilah beberapa amalan yang bisa merusak nilai pahala
amalan itu sendiri.
1. Syirik
Kita tahu bahwa perbuatan syirik ini jelas-jelas perbuatan yang bisa
menghapus nilai amal-amal shalih. Di kalangan pelosok, mungkin masih kita
jumpai masyarakat yang membuat sesaje untuk si anu (roh tertentu), namun dewasa
ini marak tentang batu akik yang dipercaya memiliki kekuatan supranatural, yang
jika salah meggunakan dan memahami akan menggiring kepada kesyirikan. Batu akik
adalah ciptaan Allah dan semua ruh di alam ini adalah ciptaan Allah (makhluk),
termasuk jin. Awas semua tidak akan berdaya apapun tanpa kehendak dan kekuasaan
Allah. Maka kekuatan yang paling dasyat adalah Allah Subhanahu Wata’ala. Jangan
sampai kita terperdaya oleh rayuan syaitan melalui benda-benda yang
menjerumskan kita, yang harus kita fokuskan adalah bagaiman agar Allah menolong
kita, membantu kita dan membimbing kita dengan amalan khusus yang sesuai syariah
islamiah. Sehingga Allah mengasihi kita karena amalan baik kita. Kekhususan
amal apa yang bisa menjadikan Allah mengasihi kita dan menyayangi kita. Apakaah
kekhusukan sholat kita, istiqomahnya puasa sunnah, jiwa pemberi kita kepada
sesame atau yang lainnya. Itu saya rasa
lebih baik. Coba kita perhatikan firman Allah berikut ini :
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi)
yang sebelummu: 'Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah
amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)
2. Riya’
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya'." [HR. Ahmad (5/428), Baihaqi (no. 6831), Baghawi dalam Syarhus Sunnah (4/201), dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 951), Shahih Targhib (1/120)].
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil." Para sahabat bertanya: "Apa yang dimaksud dengan syirik kecil?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Yaitu riya'." [HR. Ahmad (5/428), Baihaqi (no. 6831), Baghawi dalam Syarhus Sunnah (4/201), dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (no. 951), Shahih Targhib (1/120)].
Amal apasaja dasarilah dengan niat yang ikhlas karena Allah. Jangan
karena manusia, nanti kita merugi. Godaan syitan datang dari mana saja,
terkadang ia menggoda lewat orang-orang terdekat kita. Kenapa riya’ itu juga
dimaknakan syirik kecil, karena saat
beramal tidak lagi ingat Allah, tapi ingat orang yang ingin dipameri. Banyak
anak-anak muda yang suka memuji-muji kekasihnya lebih banyak dari pada memuji
Allah. Banyak mungkin ada yang lebih kangen dangan manusia, ketimbang kepada
Allah, sehingga saat berjumpa Allah melalui sholatnya, justru terburu-buru.
Nah, hal seperti ini terkadang tidak dirasakan kerugian, bahkan mungkin
kerugian itu hanyalah ketika peluang bisnisnya lari, itu saja. Marilah kita
memuji Allah saat kita bisa berbuat, pujilah nama Allah saat mau memuji manusia
karena makna “Alahamdulillah”, kita tahu adalah “segala puji bagi Allah”.
3. Menyebut Amalan Shalihnya
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala)
sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima),
seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya' kepada manusia dan dia
tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti
itu bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa
hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak
menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 264).
Jika kita telah memberikan sesuatu kepada sesame, janganlah
diungkit-ungkit. Maaf terkadang orang tua ada yang keceplosan, “cilik di
gedekno, gede kurang ajar” (dari kecil diesarkan, sudah besar durhaka). Amalan
orang tua membesarkan anak itu akan bernilai ibadah, manakala kita ikhlas, nah
semua tergantung niatnya. Jika salah meniatkan dan salah mengucapkan akibatnya
bisa fatal. Atau bahkan saat memberi orang meminta-minta, kita sambil ngomel.
4. Tidak bisa menjaga lisan
Kategori tidak mejaga lisan ini diantaranya adalah :
·
Al Kadzab
Orang berbohong bisa jadi seperti makan camilan, namun juga bisa jadi
makan racun. Tergantung keimanan kita, sedang lemah atau kuat. Nah, berbohong
sangat merugikan orang lain juga diri sendiri. Saat berbuasa bohong ini bisa
menghapus pahala puasa. Rugi?, yang jelas rugi waktu, nahan lapar, tapi nilai
puasa tidak kita dapatkan.
·
Al Ghibah
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah
kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah
seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.
Al Hujurat: 12)
Ghibah atau “rasan-rasan” bisa
jadi seperti makan kacang. Renyah omongannya, semakin lama semakin
menjadi-jadi. Padahal, itu bagaikan makan daging bangkai saudaranya. Dan pada
hadist lain rosulullah menegaskan, jika orang ghibah, maka suatu saat nanti
akan melakuan kejelekan yang diceritakannya sebelum mati. Memang boleh jadi
orang ghibah itu ingin menutupi kesalahannya sendiri, dengan menuding-nuding
orang lain. Nah, bahkan ada yang menegaskan bahwa ghibah itu sama dengan
mentransfer pahala kepada orang yang dighibahin. Ayo kita waspada ghibah!.
·
Namimah
“Diriwayatkan dari Anas ra,
Rasulullah saw. bersabda : Ada lima perbuatan yang menghapus pahala puasa,
yaitu : berbohong, menggunjing, mengadu orang, bersumpah palsu dan memandang)
lain jenis) dengan syahwat”
Terkadang
banyak yang terjebak dengan omongan yang bersifat namimah (adu domba). Boleh
jadi karena ingin “cuci tangan” dalam
makna menghilangkan rekam jejak kesalahannya. Atau bahkan dengan motif cari
muka, ingin dipahlawankan dirinya, dengan mengadu kompetitornya.
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak
bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami
amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu kesejahteraan atas dirimu, kami tidak
ingin bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. Al Qashasha : 55)
Ayat di atas memberikan solusi agar apa bila ada orang yang
ngomong kurang bermanfaat, misalnya menggunjing dan yang lainnya, maka jangan
terbawa ikut menggunjingnya. Tapi katakan yang baik dan do’akan yang baik pula.
Lalu hindarilah.
5. Mendatangi dukun
”Barangsiapa mendatangi tukang ramal kemudian menanyakan
tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama 40 hari." (HR.
Muslim)
Meminta bantuan dukun hanya akan menambah kedurhakaan kepada
Allah, yakin saja kepada Allah. Karena memang Allah maha penolong. Karena
mendatangi dukun akan menghapus pahala sholat kita selama 40 hari.
Inilah beberapa kerugian amal dan masih ada lagi yang
lainnya. Maka mari kita stop penghapus pahala. Semoga Allah menjaga kita dari
perbatan yang merusak amal shalih kita.











0 komentar:
Posting Komentar