Pemimpin atau Pemimpi ?
ÙˆَجَعَÙ„ْÙ†َا Ù…ِÙ†ْÙ‡ُÙ…ْ Ø£َئِÙ…َّØ©ً
ÙŠَÙ‡ْدُÙˆْÙ†َ بِØ£َÙ…ْرِÙ†َ Ù„َÙ…َّا صَبَرُÙˆْا ÙˆَÙƒَا Ù†ُÙˆْ بِØ£َ ÙŠَتِÙ†َا ÙŠُÙ‚ِÙ†ُÙˆْÙ†َ
(ألسجداه : 24)
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka
meyakini ayat-ayat Kami.
(QS. As Sajdah : 24)
Semua orang punya impian bagaimana menjadi
dan memiliki pemimpin ideal. Banyak spekulasi diantara kita bahwa pemimpin
ideal itu pemimpin yang adil dalam memutuskan suatu masalah, bijak mengambil
solusi dan mampu mensejahterakan ummat/rakyatnya. Atau mungkin anda memiliki
impian sendiri, wajar-wajar saja bukan!. Benarkah kepemimpinan begitu berpengaruh kepada
kesejahteraan kita?. Boleh jadi ada yang berseloroh, “bukankah kita sendiri
sedang berjuang mensejahterakan diri sendiri, tanpa bantuan kepemimpinan bisa
sejahtera”. Setidaknya itu mewakili para agniya’ (orang kaya) yang merasa
mendapatkan kekayaan tanpa campur tangan pemerintah. Tidak sedikit diantara
calon pemimpin itu yang menjanjikan mimpi-mimpi indah agar dipilih menjadi
pemimpin suatu kaum atau komunitas. Dalam islam banyak tauladan kepemimpinan,
yang jelas kita semua tahu bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin
ideal dengan bekal empat sifat (sidiq, amanah, tablig dan fatonah) mampu
menjadi pemimpin impian di dunia. Itu karena berbagai prestise yang dicapainya, baik pretasi di dunia yang
mengangumkan dan pretasi ibadah yang menjadikan semua makhluk Allah hormat
kepadanya. Masih banyak lagi contoh pemimpin islam yang dicintai ummatnya,
sebut saja Umar bin Khatab yang sangat memperhatikan ummatnya, Umar bin Abdul
Azis yang dapat memberikan kesejahteraan kepada kaumnya dan tentu masih banyak
lagi yang lainnya. Baiklah, mari kita coba belajar mengurai perbedaan pemimpin
dan pemimpi agar kita bisa lebih bijak dalam memimpin, terutama memimpin diri
sendiri.
1.
Pemimpin itu visioner, bukan apa
adanya dan omong kosong
Menanamkan visi menjadi hal yang sangat penting dan fundamental, jika
seseorang menjadi pemimpin. Seseorang yang memimpin tanpa visi yang jelas,
dapat menibulkan skeptisme terhadap kepemimpinannya itu sendiri. Jika
seseorang dibawa kepada visi yang jelas, maka secara otomatis semangat dan
motivasi para pengikutnya berkobar dengan sendirinya. Visioner memang butuh
mimpi besar, namun tertukur. Bukan omong besar yang tidak melakukan apa-apa
dengan omong besarnya itu. Visi sangat beda dengan omong besar, ini dibedakan
dari niatnya. Jika orang visioner itu niatnya baik untuk masa depan, namun
orang yang hanya ngomong besar, niatnya hanya membesarkan dirinya, kekakuaannya
melebihi dari kepentingan rakyatnya/bawahannya. Orang visioner mampu
menjabarkan idealismenya dengan baik, namun pemimpi ketetaran saat diminta
bagaimana pelaksaaan idenya. Pemimpin visioner membayangkan kesejahteraan
rakyatnya, pemimpi hanyalah membayangkan kesejahteraan pribadinya. Jadi jelas
pemimpin dan pemimpi itu bedanya pada niat, yang akan memperngaruhi kiprah
selanjutnya.
2.
Pemimpin itu melayani, bukan berlagak
jadi bos
Tidak
sedikit mungkin kita lihat banyak bos-bos kecil dalam sebuah sturktur kepemimpinan
dan keorganisasian. Dengan kementerengan jabatannya, orang meminta dihormati
dari yang lainnya. Namun, tahukah anda bahwa seorang pemimpin islam itu
senantiasa bisa menempatkan dirinya pada porsinya. Ia tidak gila hormat, ia
lebih suka melayani ummatnya. Seorang pemimpin besar itu lebih suka membantu
ummatnya, dari pada harus menyusahkannya untuk melayaninya. Kebiasaan orang
yang omong besar, suka menyuruh orang lain, padahal dirinya bisa melakukannya
sendiri dengan mudah, selalu pengen dilayani orang lain, karena ia tidak bisa
memimpin dirinya untuk berbuat lebih dari sekedar menyuruh orang. Pemimpi lebih
sering marah-marah saat berbuat, karena bukan dari ketulusan hatinya saat melakukannya,
namun pemimpin lebih tulus memberikan tauladan kebaikan demi mencapai visinya.
3.
Pemimpin itu banyak berbuat, bukan
NATO (No Action Talk Only)
Hanya bisa
ngomong, sangat tidak cukup untuk menjadi pemimpin. Ia mesti cakap menata
omongannya. Pada era modern ini manusia lebih kritis dalam menilai sesuatu. Oleh
karena itu, pemimpin itu mesti memberi tauladan di depan rakyatnya, bukan
mengumbar janji-janji palsu. Banyak orang omong besar tanpa karya, ia hanya
mengejar jabatan, bukan peran. Itulah pemimpi yang pandai cari muka,
perbuatannya hanya ABS (Asal Bos Senang). Ia sangat pandai mencuri ide, lalu
men-just negatif yang punya ide. Pemimpi lebih sibuk menghasut orang,
dari pada melakukan perubahan lebih berarti. Karena ia menginkan sesuatu
instan, bukan proses wajar. Namun pemimpin lebih senang berbuat untuk kemajuan,
karena ia tahu bahwa kempemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban (kullukum
ra’in wakullukum mas’ulin anro’iyyatihi).
4.
Pemimpin itu pandai memberdayakan, bukan
memaksakan kehendak
Kepiawaian
seseorang memberdayakan sumber daya yang ada menjadi hal mutlak untuk menjadi
pemimpin. Mampu menangkap setiap jengkal potensi, bukan membiarkan berjalan
yang bukan pada jalurnya. Pemimpin itu pandai mengekplorasi potensi dan tahu
saatnya apa yang diberdayakan sudah tidak lagi berdaya. Sehingga ia lebih bijak
memberdayakan kekuatan dan ia sangat menghindari pemaksaan kehendak, karena ia
tahu pemaksaan kehendak itu sudah ditunggangi oleh ego dan keputusasaan mencari
jalan keluar. Pembedayaan kekuatan adalah inti dari kepemimpinan, karena
memimpin berarti bisa mempengaruhi orang lain untuk mencapai visi yang
dibangun, mencapai kesepakatan yang telah ditetapkan.
5.
Pemimpin itu memberi petunjuk (ilmu),
bukan membodohi
Sebaik baik
cara menasehati adalah dengan transformasi ilmu dan keteladanan, itu pandapat
saya. Karena dengan kejelasan ilmu, orang akan dapat memilih mana yang terbaik
untuk dirinya. Seorang pemimpin lebih senang memberi petunjuk, dari pada
menunjuk (menyuruh) tanpa ilmu. Seorang pemimpin senang berbicara berdasarkan
ilmu, bukan emosional. Tidak mengumbar kemarahan dan tidak menipu. Karena ia
tahu bahwa dengan memberi petunjuk (ilmu) memudahkan ia dalam memimpin dan
mengefektifkan pelaksanaan pekerjaan selanjutnya. Namun pemimpi lebih sering
membodohi bawahannya untuk mencapai apa yang dia inginkan, karena ia tidak
sabar menjelaskan keilmuannya. Ia lebih suka menyalahkan sebelum merasa sudah
berbuat apa dengan ketidakberesan itu.
6.
Pemimpin itu sabar menasehati, bukan
kaku memerintah
Tidak ada manusia satupun yang mampu memuaskan semua manusia. Pasti ada
saja perbuatan atau pekerjaan yang tidak berkenan dihati orang lain. Untuk
itulah diperlukan perlakuan pemimpin yang sabar. Karena pemimpin yang sabar
tahu bahwa dirinya juga jauh dari kesempurnaan. Pemimpin itu bukan manusia
sempurna yang suci dari kesalahan, jadi jangan sok suci jadi pemimpin, sok baik
dan sok-sok lainnya yang dapat menjerumuskan kedalam jurang keangkuhannya. Lebih
baik sabar dalam memerintah dan ikhlash dalam menjalani amanah. Maafkan saja
kesalahan orang dengan ikhlash dan cara yang bijak. Itu lebih baik, karena
kepemimpinan itu butuh dukungan semua jajarannya untuk melanjutkan pencapaian
visinya.
Apa saja yang kita bisa, akan terus
berkembang jika kita berdayakan. Apasaja yang kita tahu akan terus berkembang
jika kita mau tahu. Apasaja yang kita punya, akan terus bertambah jika kita mau
bersyukur. Apasaja bisa berubah, jika kita mau. Karena Allah mau mengubah, jika
hambaNya mau berubah. Harapan penulis, semoga kita dapat memimpin diri kita
dengan baik dan memimpin apa yang kita pimpin dengan amanah dan dapat menjadi
pembanding untuk evaluasi, apakah kita telah berbuat sebagaimana pemimpin atau
sekedar bermimpi tanpa visi. Untuk mari kita menancapkan visi dalam memimpin,
agar kita mampu memberdayakan segala sumber daya yang ada dengan optimal dan
proporsional. Wallahua’lam.










