Sabtu, 08 Februari 2020
Jumat, 07 Februari 2020
Berdamai dengan Hati
Rofiq Abidin
Februari 07, 2020
Berdamai dengan Hati
Oleh : Rofiq Abidin
Kita tak pernah tahu apakah besok kita selalu hoki, kita tidak ketemu kesulitan atau kita tidak akan dikecewakan. Maka dari itu pandai-pandailah menata perasaan, dari perasaan ini seseorang akan berniat, berucap hingga mengambil sikap dan keputusan penting atau bahkan iseng. Ya, saat senang seharusnya kita selalu ingat, bahwa kesenangan yang hadir bisa kita nikmati saat perasaan senang juga mau mengikuti. Bahwa kesenangan dan rasa senang hadir bukan hanya peran kita, tapi peran orang-orang yang mendukung, orang-orang yang mendo’akan kita, orang yang mendorong kita, terutama ingatlah kerna irodahNya, yakni Allah Subhanahu Wata’ala. Saat hati sedang bergemuruh emosi, karena sebuah keadaan yang mengecewakan, berdamilah dengan hati kita. Ia hanya butuh tenang sejenak untuk kembali fresh. Hati ini adalah kunci mengendalikan sikap. Ada yang bilang otak bisa berbohong, meng-akali apa yang kita lakukan. Tapi hati tidak akan bisa berbohong dengan apa yang kita lakukan. Maka berdamailah dengan hati kita. Bisikan nurani akan selalu muncul untuk mengajak kepada kebaikan, walau otak kita mengakali untuk mengambil sikap bohong.
Hujan kritikan jadikan sebagai pelecut semangat untuk mengubah hidup untuk lebih baik. Dan hujan pujian jadikan sebagai imunisasi untuk menakhukkan takabbur, ujub dan egois. Semua kita mulai dari perasaan syukur kepada Allah, perasaan ikhsan (Selalu merasa di awasi oleh Allah), kemudian kita mengingat untuk bisa mengandalikan bisikan apa saja yang masuk ke dalam radar hati kita. Kita memilahnya, kemudian memfungsikan hati yang berqur’an sebagai furqon, pembeda antara pilihan yang haq dan yang batil. Karena muskhaf Al Quran bisa menjadi bayyinat (bukti) jika kita fungsikan sama’ (pendengaran), basor (penglihata) dan fu’adah (hati/perasaan) untuk memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.
Berdamailah dengan hati, karena hati bisa berbolak-balik atas pengarus musuh besar manusia ialah iblis. Utamakan istigfar dari pada mencela, utamakan memaafkan daripada permusuhan dan utamakan kepetingan jalan Allah dari pada kepentingan materiil. Jangan memusuhi hati (membohongi perasaan) karena provikasi akal yang makin pandai membohongi kenyataan. Lebih baik, akal kita ajak untuk memahami lebih dalam apa yang sedang terjadi dengan memahami ayat-ayat Allah yang tersurat dan yang tersirat. Karena ciri manusia cerdas adalah manusia yang sering mengingat ajalnya, bil makna, senantiasa bermahasabbah atas amalan, pekerjaan, karya, peran dan sikap yang telah diambilnya. Jadi, berdamailah dengan hati kita. Fokuslah pada apa yang akan kita capai, jangan menuruti kebohongan akal, tapi turutilah berubahan dari memaafkan diri kita dengan apa yang pernah terjadi, lalu hiasilah dengan kebaikan dan prestasi hidup selanjutnya. Wallahu’alam.
Berbeda Boleh, Berpecah Jangan..
Berbeda Boleh, Berpecah Jangan..
Oleh : Rofiq Abidin, CT. CM. CMP. SMI
Mereka tidak akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti. (QS. Al Hasyr : 14)
Persatuan ummat merupakan kekuatan yang sangat dasyat. Berdasarkan ayat di atas, Allah menegaskan bahwa ukhuwah islamiah menjadi kekuatan yang ditakuti oleh musuh-musuh islam. Namun menyatukan ummat menjadi tantangan tersendiri. Lebih-lebih lagi jika ada sebagain ummat yang “ngeyel”, tidak mau mewujudkan ukhuwah islamiah, dengan alasan beda keyakinan. Bahkan ada yang mengklaim dengan dasar “lakum dinukum waliyaddin”. Menurut saya ini sudah salah kaprah, ayat ini diperuntukkan bukan kepada sesama muslim, tapi untuk orang-orang yang jelas mengingkari islam (non muslim). Bahkan terkadang kita terjebak dengan budaya dan hal-hal yang tidak principle atau bahkan hanya berdasarkan “katanya”, berkutat hal-hal itu saja. Padahal banyak sekali ilmu-ilmu dalam Al Qur’an yang belum kita kaji. Mulai dari sains, teknologi, ekonomi bahkan politik dalam islam dan yang jelas masih banyak. Siapa yang akan menggalinya?, orang-orang non muslim?, yang kesekian kalinya kita kecolongan dengan mereka, hanya bisa ngelus dada.
Sapu lidi tidak akan bisa digunakan, jika tidak dalam ikatan. Ikatan yang menyatu itulah yang bisa memaksimalkan fungsi sapu lidi. Dalam ayat lain QS Ali Imran : 103, ummat islam sangat dianjurkan untuk bersatu dalam satu ikatan (tali) Allah. Berusahalah untuk mengambil jalan damai dengan siapapun, terlebih-lebih ia adalah semuslim, seaqidah. Jangan menanam kebencian dan kedengkian kepada sesama muslim hanya karena hal-hal yang sepele.
Menyikapi Hal-Hal Yang Biasa Ditentangkan
1. Memahami secara utuh, bukan apriori
Kemajemukan manusia menjadikannya pola pikir yang majemuk pula. Hal ini sangat dipengaruhi oleh latar belakang, lingkungan dan self konsep-nya. Maka jika ada saudara kita yang berbeda pandangan dalam hal budaya itu lumrah. Ataupun hal lainnya. Pahami secara utuh sikapnya kenapa. Jangan langsung mengambil kesimpulan, “orang ini aliran ini, sehingga mengharamkan hal semacam ini”. Pahamilah lebih dalam, agar tidak memahaminya secara parsial (setengah-setengah). Karena pemahaman ini yang akan menentukan kita akan berlaku bagaimana.
2. Memaklumkan jalan pikiran dan sikap orang lain, bukan memojokkan
Tidak bisa serta merta jalan pikiran kita diterima instan oleh orang lain, tapi semua butuh proses. Begitupun kita, perlu memproses memahami pikiran orang lain. Oleh karena itu maklumilah jalan pikiran orang lain, namun tetap mencoba mengemukakan perihal yang menurut kita baik dan benar dengan cara yang paling bijak, sehingga saling memaklumi. Jangan memojokkan dengan menyebarkan perihal yang menurut kita berbeda. Ini akan bisa menjebak kita pada sikap ghibah, namimah bahkan fitnah. Maklumi saja jalan pikirannya, dengan tetap bergaul baik dangannya.
3. Menghormati, bukan memaki
Berikan ruang yang sama sebagai saudara seaqidah. Gaulilah dengan baik tanpa dinding, ia saudara kita yang sama-sama menyembah Allah saja. Hanya saja ada hal yang tidak sama, tidak bisa dipaksakan untuk sama, karena ada pemikiran yang belum nyambung dengan kita. Ini semua dipengaruhi cara pandang yang berbeda. Hormati saja, jangan memakinya, baik dibelakang maupun didepannya. Ini akan menimbulkan semakin meruncing, perang dingin dan ummat islam ini makin jauh dari kemajuan. Karena hanya mempertentangkan perihal budaya dan hal-hal mahdo.
4. Toleransi, bukan menjauhi
Nabi Muhammad bisa menerapkan toleransi antar ummat beragama di madinah, bahkan toleransi antar ummat beragama. Dengan Piagam Madinah, masyarakat Yasrib benar-benar menjadi contoh Negara yang menerapkan toleransi dalam beragama. Kepada ummat non muslim, dalam hal ini kafir dhimmi saja Rasulullah Solallahu Alaihi Wasallam mengharuskan kita bertoleransi, apatalagi dengan saudara semuslim. Ayo bersatulah, jangan berpecah.
5. Saling memberdayakan dan menolong dalam kebaikan
Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak saling bermanfaat sesama muslim, apapun perbedaan madzab yang dipilih. Setelah mencoba mengamalkan empat perihal di atas, saya rasa hal yang kelima ini akan mudah dilakukan. Karena proses pemahaman dan sikap kita telah rela menerima perbedaan. Saling tolong menolong dalam kebaikan tidak harus sama madzabnya, selama untuk kemaslakhatan ummat manusia, sah-sah saja selama cara dan prinsipnya tidak keluar dari aqidah islamiah.
6. Belajar lagi dan belajar lagi
Memahami adalah belajar, memaklumi juga terus belajar, menghormati pun perlu terus belajar, toleransi tentu juga perlu dilatih dan saling memberdayakan juga bagian dari belajar menggali manfaat. Hingga pada kenyataannya kita tidak boleh kolot, fanatik dan menutup pemikiran untuk maju. Karena Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan untuk menjalin silaturohim. Yang sangat banyak manfaatnya, kita bisa belajar dari pola pikir orang lain. Kemudian kita akan bisa mengambil kesimpulan sikap kita, mana yang kita teruskan dan mana yang kita tanggalkan. Oleh karena itu teruslah belajar, baik dalam bimbingan, diskusi dan lain sebagainya, agar khazanah keilmuan semakin luas yang mengantaran makin bijak kita bersikap.
Ajaran Ilahi untuk Semua
Ajaran ketuhanan (Ilahiyah) sangat menganjurkan untuk bisa bersikap inklusif (terbuka) dengan pemeluk agama lain, tentu dalam hal-hal sosial kemasyarakatan. Ajaran Ilahi bersifat aplikatif dan solutif terhadap segala masalah keduniawian dan ukhrowi. Islam ada untuk merangkul bukan menghancurkan dan bukan merusak tatanan. Manusia yang serba majemuk, terkadang harus kita sadari sesadar sadarnya, bahwa tafkir-nya (pemikirannya) juga berbeda-beda. Saya akan mencoba mengutip salah satu isi Piagam Madinah yang berisi 58 poin penting sebagai bukti betapa Rasulullah SAW telah mencoba membangun masyarakat yang bersatu dan saling bertoleransi antar ummat beragama sebagai berikut :
“Mereka hendakknya saling menasehati dan berbuat kebaikan, serta menjauhi segala perbuatan dosa”.
(dikutip dari buku “Madinah kota suci, Piagam Madinah dan Teladan Muhammad SAW karangan Zuhairi Misrawi)
Semoga menyadarkan kita semua untuk bisa bersatu dalam membangun kemaslakahatan, sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan Madinah Munawarohnya, sebuah negara yang dibangun pondasi aqidah yang kuat dan kerukunan yang kuat pula. Karena memang ajaran Ilahi untuk semua. Wallua’alam.
Langganan:
Komentar (Atom)













