Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Kamis, 25 April 2013

Membangunkan Gajah Tidur

Rofiq Abidin
MEMBANGUNKAN GAJAH TIDUR
Oleh : Rofiq Abidin 

Ada seorang teman saya yang begitu periang, hangat dan penuh semangat , namun tiba-tiba menjadi lesu tak bergairah. Setiap saya ajak beraktitas jawabnya cuma “males ah”, itu yang selalu diucapkannya. Namun saya tak menyerah mencoba memberi semangat dengan berbagai cara, hingga saya menemukan caranya. Ialah dengan mencoba mengingatkan tentang sebuah tanggung jawab. Singkat cerita, ia kembali bersemangat dan menekuni tanggung jawabnya, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya. Kenapa bisa?, tentu saja, karena setiap kita bebas memilih sikap yang pastinya akan diiringi dengan konsekwensinya. Nah konsekwensi ini yang akan membawa dan mengingatkannya kepada sebuah sikap bertanggung jawab. Pernahkah anda merasa begitu malas?, tentu semua orang pernah mengalaminya, entah karena jenuh dengan pekerjaan, malas karena kecewa dengan sikap teman, pasangan atau atasan yang kurang berkenan. Itu lumrah, karena setiap kita punya daya tahan yang berbeda-beda, tergantung pengalaman dan lingkungan yang mengajarkan sebelumya. Namun perlu kita tahu bahwa jika kita males banget melakukan sesuatu atau bahkan mengejar mimpi, ini mengakibatkan kemampuan, bakat, potensi dan ide kita mengalami stagnasi, itulah yang saya sebut dengan gajah tidur. Dimana keadaan anda begitu pulas tanpa melakukan sesuatu yang positif, karena terbawa oleh kegalauan hidup dan bisa jadi itu karena anda telalu memanjakan diri.

Ada sebuah ungkapan yang dalam maknanya dari Andrie Wongso, “Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita, tetapi jika kita keras di dalam maka dunia luar akan lunak kepada kita”. Maksudnya, jika kita keras menempa diri kita, melatih diri untuk disiplin dan tanggung jawab dengan pekerjaan kita, maka banyak hal yang kita kerjakan dengan baik. Namun jika sebaliknya, kita terlalu lunak memanjakan diri, memelihara kemalasan, maka dunia tidak akan bersahabat dengan kita, sehingga dunia tampak begitu keras kepada kita. Sehingga pada ujungnya, potensi kita tidak tereksplor, ide kita mampet dan kreatifitas kita akan berhenti seketika. maka mulailah dengan mengingat bahwa kita punya tanggung jawab,  baik tanggung jawab pribadi (kebutuhan hidup sendiri, masa depan dll), maupun tanggung jawab sosial (kepemimpinan, lingkungan dll), maka secara otomatis kita akan membangunkan gajah yang sedang tidur pulas. Karena seseorang yang memiliki tanggung jawab, semangat untuk maju akan bangkit dengan sendirinya, tanpa dimotovasi. Cara ampuh untuk membuang rasa malas adalah dengan bangkit dan berdiri dan menghampiri orang yang sedang tekun dan bersemangat, sehingga anda ingat bahwa anda punya tanggung jawab, baik tanggung jawab pribadi maupun sosial.

Setiap kita mempunyai tanggung jawab masing-masing, secara pribadi kita memikul tanggung jawab memenuhi hidup kita masing-masing. Maka tidak mungkin kita leha-leha saja, kemudian dapat rezeki. Dengan senantiasa mengingat tanggung jawab maka akan berdampak motivasional secara otomatis, sehingga menggugah pemikiran positif dan prilaku positif yang pada gilirannya menghadirkan pula kebaikan yang berkesinambungan bagi kita. Allahpun memberi pengajaran kepada kita tentang besarnya nilai tanggung jawab dalam surat Al Isra’ ayat 36 :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Semoga kita dapat mengemban tanggung jawab yang ada pada kita dengan penuh semangat dan ketekunan. Sehingga kemampuan besar yang sedang tidur pulas dapat bangkit mewarnai kehidupan kita dan memberi manfaat bagi orang lain.

Minggu, 14 April 2013

SAWANG SINAWANG

Rofiq Abidin

SAWANG SINAWANG
Oleh : Rofiq Abidin

Mencari kepuasan dunia memang tak ada habisnya. Setelah ini tercapai, kita ingin lagi ini dan itu menjadi milik kita. Setelah jadi ini, kita ingin jadi itu. Sah- sah saja seseorang memiliki keinginan banyak, yang penting tidak menuhankan hawa nafsu. “Enak ya jadi pegawai negeri”, celoteh seorang penjual kopi kepada pembelinya. “Kata siapa enak?”, sahut pembeli yang memang pegawai negeri. “Pegawai negeri itu rezekinya sudah dibatasi segini, kalau bapak bisa lebih besar dari saya”, imbuhnya dengan nada ringan. Mendengar percakapan di warung kopi ini saya tergelitik untuk ikut nimbrung berkomentar, “Ya memang hidup ini sawang sinawang, menjadi apapun kita yang penting kita pandai mensyukurinya”. Percakapan yang mengalir tanpa beban ini banyak kita jumpai secara mudah. Tidak sedikit orang latah ingin seperti orang lain, namun melupakan bahwa senyatanya ia adalah manusia unik yang memiliki kemampuan khusus yang telah diberikan Allah. Coba renungkan, semua binatang telah dilengkapi kemampuan khusus, bahkan alat khusus untuk bertahan hidup. Apalagi kita manusia yang merupakan kholqon akhor (ciptaan terbaik) dari Sang Pencipta Allah Azza Wajalla, pastilah dilengkapi dengan peralatan tercanggih dari Sang Pencipta agar dapat survive dalam hidup. Jangan hanya sibuk memikirkan enak atau tidaknya keadaan pekerjaan kita hari ini, namun menidurkan kemampuan unik yang Allah berikan secara khusus pada kita, sehingga waktu kita habis untuk hal yang tidak produktif, bukankah Allah sudah memberikan peringatan agar mukmin itu meninggalkan perbuatan yang tiada berguna? Mari kita syukuri apa yang ada, karena dengan syukur, Allah pasti menambahkan dari yang sudah ada. Kenapa saya katakan pasti?, karena itu rumusan Al qur’an yang tak terbantahkan. Pencapaian sukses seseorang dalam pandangan kita belum tentu membuat orang selalu bahagia. Karena rasa bahagia itu seperti taman indah yang perlu dirawat, sehingga tampak selalu nyaman dipandang dan menyegarkan bathin. Tidak sedikit orang yang sukses tapi tidak bahagia, begitupun sebaliknya, orang bahagia tapi tidak sukses. Jadi sawang sinawang kepada orang sekitar itu hanyalah sekelebat keinginan untuk menjadi lebih bahagia. Maka mari fokus untuk membangun bahagia dan berusaha untuk membhagiakan orang yang kita sayangi dengan anugerah unik yang telah dibekalkan Allah kepada kita, sehingga kita tidak meng-illahkan hawahu (hawa nafsu) yang terus meminta puas dan meminta lebih. Mari renungi pesan Allah berikut ini :
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al Jasiyah : 23)
Hawahu bisa menjadikan kita meninggalkan Konsep Islam “Allah Assomad” (Allah tempat bergantung). Padahal mungkin, kita ringan- ringan saja membaca ayat ini, yang sebenarnya penerapannya tidak mudah kita jalani. Pencapaian kita hari ini adalah anugerah Allah atas pilihan sikap yang kita ambil, jadi tak perlu terbawa penyesalan terlalu dalam. Namun terus tawakal dan ikhtiar adalah sikap yang akan membuat kita lebih sukses dan lebih bahagia dari yang kita sawang (pandang) dan yang kita bayangkan. 

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Distributed By Gooyaabi Templates